Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Saturday, December 10, 2011

Ubud Writers & Readers Festival – Nandurin Karang Awak


Warisan Indonesia/Putu Wijaya
Perhelatan Yayasan Saraswati yang sudah melahirkan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini semakin semarak, heboh, dan menarik. Kenduri yang berlangsung sejak 8 tahun ini dijuluki “Among The Top Six Best Literary Festivals in The World” oleh Harper Bazaar, United Kingdom. Apalagi, kali ini tema sentralnya bertajuk “Nandurin Karang Awak (Cultivate The Land Within)”, kalimat yang direnggut dari salah satu geguritan—syair yang dinyanyikan—karya pujangga dan pendeta besar Bali yang sangat dihormati: Ida Pedanda Made Sidemen.
“Dalam karyanya itu, Ida Pedanda Made Sidemen menitipkan pesan kepada kita,” tulis Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, di dalam buku acara, “agar mengisi hidup ini dengan menimba ilmu sebanyakbanyaknya dan selalu berpegang pada kebenaran. Beliau yakin, hanya dengan pengetahuan dan keluhuran budi, manusia akan dapat mengatasi segala tantangan hidup.”
Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati menyatakan, tema besar itu mengandung nilai-nilai
kearifan lokal, tradisi, dan spiritualitas Bali. “Yang nantinya diharapkan menjadi inspirasi bagi para peserta festival dalam berkarya dan berdialog dengan mengedepankan dimensi kesederhanaan hidup, kekayaan batin, dan kemerdekaan jiwa.”
Sementara Tjokorda Raka Kertyasa, sebagai pembina festival, bertanya, apa yang kita tanam dalam diri kita? Jawabannya, “Tubuh ini adalah bumi, yang terdiri dari lapisan-lapisan, elemen-elemen Panca Maha Butha dan roh atau jiwa.”
Wayan Juniartha, koordinator program untuk Indonesia, menjelaskan lebih lanjut bahwa Nandurin Karang Awak (menanami tanah sendiri) ada dalam geguritan Salampah Laku, puisi panjang tradisional. Dalam geguritan itu disebutkan: “… idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin… (kehendak kakanda sekarang, mulai melakukan tapa kesederhanaan, tidak memiliki tanah sawah, maka tubuh diri-lah yang ditanami).”
“Mengolah diri sendiri sebagaimana mengolah sawah—menyebarkan benih kebajikan, memotong rumput-rumput keinginan, serta memanen dengan saksama agar hanya biji budi terbaik yang dihasilkan—merupakan konsep filosofis penting dalam tataran spiritual Bali,” kata Juniartha kepada Warisan Indonesia.

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat