Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Tuesday, March 27, 2012

jk


Saturday, March 24, 2012

"Surti & Tiga Sawunggaling: “Harus Saya Selesaikan”


“Ini saya harus selesaikan. Harus selesaikan,” kata Surti yang dimainkan oleh Ine Febriyanti pada akhir lakon Surti dan Tiga Sawunggaling di Teater Salihara, Jakarta, akhir Juli lalu. Pementasan ulang monolog, yang masih dikunjungi banyak penonton ini, disutradarai oleh Sitok Srengenge.
Dihadapkan pada ruang serbaputih dengan tiga kain mori putih berjuntai di atas panggung, ada kursi taman gandeng dan kerangka keranda yang tegak bagai menara serta selembar mori yang sedang dilukis dengan malam. Kemudian timbul-tenggelam dalam cahaya suram, terlihat Surti menari.
Setelah itu, ia duduk di kursi gandeng dan mulai bertutur langsung kepada penonton bahwa ia mengalami hal yang sangat sulit, yang hanya bisa ia ceritakan saat sendiri seperti itu. Jen, suaminya, pemimpin gerilya yang suka memburu mimpi, ditembak tanggal 14 bulan puasa di jidatnya. Dia, oleh orang bertopeng, dituduh komunis. Para orangtua memutuskan untuk tidak memandikan tubuhnya dan membiarkan saja lubang berleleran darah beku di keningnya itu sebagai penanda perbuatannya. Jen merebut Surti dari kekasihnya yang kemudian terlebih dulu mati tertembak dan meninggalkan sepucuk pistol agar Jen tak hanya bermimpi. Surti sangat menyesali perbuatannya, tetapi tak dapat mengingkari bahwa sosok Jen telah menyedotnya sehingga ia penasaran dan meninggalkan pacarnya.
Tetapi, ini bukan kisah cinta. Seorang Goenawan Mohamad (GM), sang penulis naskah, tidak akan masuk ke wilayah itu. Ini adalah puisi panjang tentang tiga ekor sawunggaling yang dilukis Surti di kain morinya. Yang satu bernama Anjani, lainnya Bahir dan Cawir. Ketiga burung itu gerah di kain mori yang masih kaku, lalu ke luar jendela dan menjadi saksi pertempuran gerilya menentang Belanda, masing-masing membawa ceritanya sendiri.
Sutradara memvisualkan dialog burung-burung itu dengan koreografi. Ine Febriyanti, yang pernah kita saksikan main gemilang dalam lakon Miss Julie, beberapa tahun lalu, di Graha Bhakti Budaya TIM, menarikan gerak-gerik burung itu sambil berbicara. Tak ada salahnya bila visualisasi dipakai untuk memperkaya sebuah pembeberan kata-kata di lakon, ke atas panggung. Hanya saja, kata-kata Goenawan sudah begitu kuat. Bahkan, selorohnya pun sudah terasa puitis. Menambahkan asesoris pada kata-kata itu memerlukan kecermatan agar tidak jadi kenes, tetapi memang bukan tak boleh. Dengan kreativitas tak ada yang bisa dilarang di atas pentas.
GM—panggilan akrab Goenawan Mohamad—bukan saja penyair tetapi juga esais terkemuka. Ia bahkan melontarkan filsafat dalam “bersin”-nya tanpa ia sadari. Seluruh Surti malam itu terasa sebagai peragaan puisi dan esai tentang rasa sunyi. Penonton diguyur oleh pikiran-pikiran tajam yang kadang berbelok liar, mistis, tetapi juga spiritual dengan napas kemanusiaan yang kental. Di sana-sini menggelepar kata-kata “bijak” yang tidak bersinar karena didandani, tetapi karena pengertiannya yang menyadarkan atau menggerus kita pada kisaran kesadaran baru.

"Tupping dan Sekuraan, Ekspresi Rasa Syukur Orang Lampung"


Salah satu bentuk ekspresi masyarakat Lampung yang mempunyai nilai simbolis perwatakan manusia, sesuai ajaran moral dan etika sosial budaya masyarakat pedesaan Lampung pada zamannya.
Idulfitri sudah datang, maka di Lampung, suasana menjadi meriah karena topeng Lampung hadir lagi. Pesta rakyat khas provinsi yang beribu kota Bandar Lampung ini biasa ditampilkan dalam rangkaian Idulfitri untuk mengungkapkan rasa syukur, sukacita, sekaligus perenungan terhadap sikap dan tingkah laku.
Sejak kapan masyarakat Lampung mengenal topeng, tidak diketahui secara pasti. Yang jelas, parade topeng selalu mendapat sambutan karena berbentuk arakarakan berkeliling desa dengan aneka atraksi. Topeng menjadi media untuk menggambarkan berbagai karakter dan mimik wajah—sedih, marah, senyum hingga tertawa—yang mereka tampilkan melalui seni tupping atau sekura.
Tupping berkembang di Lampung Selatan, antara lain di Kuripan, Canti, dan Kesugihan. Sedangkan sekura atau sekuraan di Lampung Barat, antara lain di Belalau, Balik Bukit, Batubrak, Sukau, Kenali, dan Liwa.
Tari tupping dan sekuraan merupakan wadah masyarakat Lampung mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Semangat ini merupakan nilai kearifan lokal yang perlu ditumbuhkembangkan para generasi muda Lampung sehingga diharapkan di masa depan kita memiliki generasi muda yang tangguh dan selalu mensyukuri nikmat dari Sang Pencipta

“Manortor” Bersama Sigale-gale"

Anton Bayu Samudra
Musik gondang sabangunan terus mengentak sigale-gale bergoyang menari dan orang-orang pun bergantian manortor (menari). Kini tarian itu bukan lagi ritual untuk menghormati leluhur, melainkan bagian dari suguhan wisata.
MUSIK gondang sabangunan, sore itu, terus mengentak menyambut kedatangan rombongan Temu Pusaka 2011. Wajah Merdi Sihombing, perancang busana kondang dan pelestari ulos, tampak berbunga-bunga. Ia sibuk mengawasi para pembantunya bekerja seraya menyambut kedatangan peserta untuk makan siang sekaligus mengunjungi bengkel kerja dan pusat tenun ulosnya di Samosir.
Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Waktu seminar berkepanjangan, akibatnya peserta letih dan kelaparan. Maklum saja sebelumnya panitia mengajak mereka menempuh perjalanan panjang dari Tuk-tuk. Sebagian peserta langsung berhamburan menyerbu hidangan yang disediakan tuan rumah. Sisanya, menyerbu ruang bengkel kerja Merdi Sihombing lalu memotret gadisgadis yang asik menenun ulos.
Sementara itu, ibu-ibu langsung menuju sasaran melihat koleksi di butik perancang busana yang sedang naik daun itu. Lembaran-lembaran rupiah bertukar dengan ulos hasil karya Merdi Sihombing.
Selepas makan siang, musik gondang sabangunan makin mengentak, apalagi paminta gondang (ketua kelompok) mulai mengajak manortor. Patung sigale-gale, yang sejak tadi diam, mulai bergerak mengikuti irama musik. Beberapa orang mulai turun manortor, tak ketinggalan I Gede Ardika, Pia Alisyahbana, dan peserta dari India, Kanada, Malaysia, ikut bergabung menari. Apalagi, Merdi Sihombing juga ikut nimbrung sambil menyawer. Peserta lain pun segera mengikutinya.
Gondang Mula-mula mengawali hajatan itu lalu berturut-turut menyusul Gondang Somba, Gondang Mangaliat, Gondang Simonang-monang, Gondang Sibungajambu, Gondang Marhusip. Sukaria itu pun berakhir dengan Gondang Hasahatan Sitio-tio.

"Kemiskinan Bisa Disiasati"

Dok. Teater Mandiri
Setelah Teater Populer, Teater Ketjil, Bengkel Teater, dan Studiklub Teater Bandung (STB) ditinggal pendirinya, tinggal Mandiri dan Koma, teater sezaman yang masih bertahan hingga kini. Berikut perbincangan E. Pudjiachirusanto dari Warisan Indonesia dengan pendiri Teater Mandiri, Putu Wijaya, dalam rangka ulang tahun ke-40 Teater Mandiri.
Wawancara dengan dramawan kelahiran Tabanan, Bali, 11 April 1944, yang mendapat gelar Sarjana Hukum dari UGM Yogyakarta ini, berlangsung di sela latihan “Aduh” di halaman rumahnya di Perumahan Astya Puri, Tangerang Selatan.
Bisa diceritakan proses pendirian Teater Mandiri ini?
Sebelum saya ke Jakarta, saya sudah memiliki teater waktu kuliah di Yogyakarta. Ketika hijrah ke Jakarta, saya berkeinginan memiliki teater sendiri. Pada 1969 itu, Teater Ketjil sudah berdiri, Teater Populer juga sudah ada. Ketika tiba di Jakarta, saya bergabung dengan Teater Ketjil, juga Teater Populer, termasuk pernah ke Teater Wahyu Sihombing. Tapi, karena di Wahyu Sihombing banyak pemain, saya akhirnya tidak jadi bergabung.
Saya lantas membuat pertunjukan di TVRI. Akhirnya, saya mencari nama untuk teater ini. Waktu itu saya punya dua pilihan. Pertama, “Teater Kita” artinya milik semua orang. Tapi akhirnya, saya memilih nama “Mandiri”. Ketika itu kata “mandiri” masih terlalu asing. Pertama kali saya dengar dari Prof. Djojodigoena, dalam kuliah sosiologi di UGM Yogyakarta. “Mandiri”, sebuah kata Jawa, yang artinya mampu berdiri sendiri, independen, tetapi tidak menolak bekerja sama. Saya sangat tertarik dan jatuh cinta pada kata itu. Orang Indonesia harus mandiri. Orang boleh pintar, rajin, tetapi yang paling penting adalah mandiri.
Pementasan pertama, “Orang-orang Mandiri” di TVRI yang masih hitam putih. Pemainnya karyawan majalah Tempo, sekitar tahun 1971. Itulah yang saya anggap sebagai awal berdirinya Teater Mandiri.
Apakah situasi sosial politik ketika itu memungkinkan bagi ekspresi seni, seperti dilakukan Teater Mandiri?
Kami lantas meneruskan pertunjukan di TVRI, sebelum tampil pertama kali di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 1974. Ada dua pertunjukan yang disensor dan kemudian tidak ditayangkan. Sensor dilakukan karena pemerintah merasa terancam. Seniman-seniman, seperti W.S. Rendra sangat gerah dengan kondisi ini.
Tetapi, saya yang pernah belajar ilmu hukum (Selain kuliah di FH UGM, juga pernah di Akademi Seni Rupa Indonesia, dan Akademi Teater Nasional Indonesia—ketiganya di Yogyakarta, Red), mengerti bahwa hukum memang untuk membatasi, sekalipun di zaman merdeka. Kita akan terus terbatasi hukum bila jiwa kita tidak merdeka.
Ketika saya dilarang memakai pemain berambut gondrong, saya ikuti. Ketika dua pertunjukan saya tidak ditayangkan, saya tidak marah. Karena saya mengerti, tugas pemerintah memang melakukan pelarangan.
Apa filosofi Teater Mandiri hingga mampu bertahan sampai usia 40 tahun?
Sebagai orang kreatif, tugas saya menyiasati larangan itu dan berusaha berkelit darinya. Menyampaikan sesuatu, tetapi tanpa mengurangi maksudnya dan tidak terjegal oleh larangan. Ini yang melahirkan konsep “Bertolak dari Yang Ada”. Kalau kita menghadapi sesuatu, kita lihat dulu kondisi kita, lalu kita berangkat dari kondisi itu. Kalau saya dilarang ke kanan, saya tidak akan marah. Saya akan pergi ke kiri dulu, kemudian ke kanan. Karena kreativitas itu tidak bisa dipasung. Larangan itu tidak lantas membuat kita berpangku tangan. Waktu itu saya berpikir, berikan saya seribu larangan, saya akan mencoba mengelak dan tidak membatalkan niat saya.
Misalnya, terjadi pada buku saya Stasiun, saya dilarang menggunakan kata ‘ngeloco’. Buat beberapa teman, kalau dilarang menggunakan kata-kata tertentu, dia urung menulis. Tapi buat saya, ketika kata ‘ngeloco’ dilarang, saya berkelit tanpa membatalkan niat saya menyampaikan sesuatu kepada publik.
Itulah yang saya sebut sebagai “Bertolak dari Yang Ada”. Artinya, memahami dan menerima kondisi, menggunakan kondisi yang ada, untuk meraih cita-cita semaksimal mungkin. Ketika kita miskin, kita tak perlu mengutuk kemiskinan itu, tetapi menerima dan menyiasati, tidak lantas menjadi minder. Bagaimana memaksimalkan kemiskinan dengan kreatif untuk mencapai hasil maksimal, itu yang utama.

"Angklung Indonesia, Jadi Warisan Dunia"

WARISAN INDONESIA / Hardy Mendröfa
Plong! Mungkin begitulah perasaan Adhelina Pisca, saat mendengar kabar bahwa angklung mendapat pengakuan UNESCO, sebuah organisasi PBB di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sebagai warisan dunia asal Indonesia. Tahun lalu, tepatnya tanggal 19 Desember 2009, di sebuah laman berbahasa Indonesia, ia menulis kalimat dengan nada seperti orang menjerit: “Jangan sampai Indonesia kecolongan lagi sama Malaysia.” Jeritan itu muncul setelah ia membaca tulisan di sebuah koran beberapa saat sebelumnya, berjudul “Angklung Terancam Dipatenkan Negara Tetangga.”
Kegembiraan Adhelina Pisca boleh jadi mewakili rasa lega bangsa ini, yang belakangan menyimpan keresahan dan kecemasan terhadap kekayaan budaya dan hak milik bangsa sendiri karena usikan negara tetangga. Entah mengusik soal reog-lah, lagu-lah, batik-lah, naskah-naskah kuno-lah, hingga pulau-pulau terluar (terdepan).
Proposal pendaftaran angklung sebagai nominasi warisan budaya tak benda (intangible heritage) asli Indonesia, diajukan ke UNESCO bulan Agustus 2009, oleh belasan komunitas angklung yang tersebar mulai dari Bandung, Cirebon, Bali, hingga luar Jawa. Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ikut memfasilitasi penyusunan proposal itu.
Pengakuan UNESCO terhadap angklung tersebut memperjelas kehadiran angklung Indonesia di mata dunia. Di samping itu, kini bertambah satu lagi sumbangan kekayaan Indonesia pada kebudayaan dunia setelah wayang, keris, dan batik mendapat pengakuan yang sama dari lembaga yang sama pula. Kabarnya, kini tari Saman sedang antre untuk mendapatkan pengakuan yang sama tahun 2011.
Dengan makin banyaknya kesenian dan produk budaya Indonesia mendapatkan pengakuan UNESCO, makin banyak pula bukti yang menegaskan bahwa bangsa ini kaya akan karya seni budaya. Konsekuensinya, tentu saja semakin menuntut tanggung jawab kita bersama, terutama para pemangku kepentingan—pelaku seni dan budaya yang bersangkutan, pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, media, kalangan pengusaha sebagai maesenas—untuk semakin peduli, merawat, dan mengembangkannya. Bukan sebaliknya, tambah sombong dan terlena. Jika selama kemerdekaan Indonesia kebudayaan belum pernah masuk ke dalam prioritas pembangunan, bukankah dengan adanya pengakuan demi pengakuan UNESCO ini—di sisi lain kekerasan merebak di mana-mana— merupakan momentum yang tepat bagi pemerintah pusat dan daerah menjadikannya kebudayaan sebagai prioritas pembangunan. Selain nilai, bidang kebudayaan juga sangat berpotensi untuk pengembangan ekonomi kreatif.

"Tari Saman, Warisan Dunia,mengguncang hati"


Pemerintah daerah Aceh telah mendaftarkan Tari Saman sebagai tari dunia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sudah mendapat nomor seri 00001. Jika sudah mendapat ketetapan dari UNESCO, Tari Saman menjadi satu-satunya tarian daerah dari Indonesia yang menjadi warisan dunia.
Tari saman—sebuah tarian yang menggabungkan seni suara, gerakan badan, dan tepukan tangan sebagai pengganti musik pengiring—memang sangat melekat dengan Aceh.
Para penari biasanya duduk berjajar dan tidak berpindah sepanjang penampilan tari. Yang bergerak hanya tangan menepuk bahu dan paha, badan naik-turun, dan kepala menggeleng ke kiri dan ke kanan.
Gerakan tari diawali dengan ritme yang lambat, semakin lama semakin cepat, bahkan sangat cepat, seiring nyanyian syair yang dilantunkan oleh seorang syekh pemimpin para penari itu. Tari ini biasanya dimainkan oleh belasan sampai puluhan laki-laki dalam jumlah ganjil.
Hampir semua tarian Aceh dimainkan secara beramairamai. Tak terkecuali tari saman yang dimasukkan ke dalam jenis kesenian ratoh duek (tari duduk). Keseragaman formasi dan ketepatan waktu dalam bergerak adalah suatu keharusan agar gerak tarian tetap harmonis dan sempurna, meskipun dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat.
Tari saman dianggap tarian suku Gayo, sebuah suku Aceh yang terletak di wilayah pedalaman dan pegunungan Aceh. Tepatnya di wilayah Aceh Tengah. Tarian ini biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat, juga untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Tarian yang diyakini erat kaitannya dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara, khususnya di wilayah Aceh, biasanya menggunakan syair berbahasa Arab dan bahasa suku Gayo. Konon penciptaan tari saman adalah untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Itulah sebabnya tarian saman ini sangat kental dengan keislamannya.
Ada keyakinan pula bahwa tari saman erat kaitan dengan tarekat Samaniyah yang masuk ke Aceh dan Palembang sekitar abad ke-18, dibawa oleh Abdul Saman al-Palimbani, salah satu murid Syekh Abdulkarim al-Hasan as Samani Almadani sebagai pencipta tarekat Samaniyah.
“Syekh Abdulkarim al-Hasan as Samani Almadani tidak pernah menjejakkan kaki di bumi Nusantara untuk mengembangkan tarekat Samaniyah. Tarekat ini sampai ke Nusantara melalui muridnya yang disebut Ulama Empat Serangkai yang salah satunya adalah Abdul Saman al-Palimbani,” kata Iman Juani, seorang penari saman Aceh, yang sedang meneliti asal-usul tari saman.
Keempat murid Syekh Abdulkarim al-Hasan as Samai Almadani sampai ke Nusantara dan mulai menyebarkan agama Islam ke beberapa daerah di Nusantara, antara lain ke Makassar, Bugis, Palembang, dan Aceh. Abdul Saman al-Palimbani merupakan syekh yang mengembangkan tarekat Samaniyah di Palembang dan Aceh.
“Dalam akar saman, ada ratip atau zikir dengan identitas tersendiri, yaitu menggoyangkan badan ke kiri dan kanan, berzikir, dan bertepuk. Di Aceh, akar Saman sudah ada sebelumnya, tetapi belum islami,” kata Iman Juani.

"Hitam-Putih Tenun Toraja"


Tenun Toraja kini terancam punah karena tidak terjadi regenerasi penenun. Di Kampung Sa’dan, yang menjadi sentra tenun, kini tinggal 70 perajin saja yang berproduksi.
Aneka tenun tradisional Indonesia seolah tidak akan habis ditelusur. Selain dikenakan sebagai busana sehari-hari, di beberapa etnis, tenun juga menjadi busana utama saat berlangsung upacara adat ataupun hari besar keagamaan. Itulah sebabnya banyak ragam tenun di penjuru Nusantara ini. Pada suatu masa, corak kain tenun yang menjadi primadona dapat digunakan sebagai alat tukar jual-beli. Namun, kain-kain buatan masa lampau tersebut tidak bisa lagi kita nikmati saat ini, selain tidak lagi diproduksi, daya tahan seratnya luruh karena suhu dan kelembaban iklim tropis.
Begitu pun tenun asal Toraja. Sudah banyak ragam dan motifnya yang tidak diketahui lagi oleh para penerus zaman. Padahal, tenun Toraja memiliki sejarah ragam tekstil sebagai salah satu perlengkapan upacara adat kematian Toraja.
Ribuan tahun yang lalu, tenun Toraja dibuat dari kulit kayu. Kemudian material tersebut berubah lebih maju menjadi serat nanas. Konon, kain tersebut lebih sering digunakan untuk membungkus mayat karena daya serapnya tinggi. Setelah pedagang India dan Gujarat mendarat di Palopo—pantai barat Toraja sekitar 60 kilometer dari Rantepao— dikenallah campuran kapas. Kemudian kain tenun dibuat dari serat nanas yang ditambahkan serat kapas tanpa dipintal sehingga bahannya sedikit lembut. Kain tenun tersebut sudah berfungsi sebagai penutup badan.
Awal mulanya produksi kain tenun Toraja memang sulit diketahui secara pasti, kapan kegiatan menenun itu dilakukan dengan alat apa mereka menenun dan bagaimana warna serta ragam corak yang dihasilkan. Konon, menenun dimulai setelah masyarakat Toraja membangun rumah tinggal yang representatif dan dapat menjadi tempat kegiatan (Said, 2004: 152). Dalam menciptakan corak dan motif untuk menghias tenun, beberapa tokoh Toraja berkeyakinan bahwa ragam tersebut diperoleh dari meniru motif ukiran yang terdapat di tongkonan—rumah adat. Namun, jika melihat perkembangan zaman dan peradaban, motif garislah yang lebih dulu ada dibandingkan tongkonan

Ubud Writers & Readers Festival – Nandurin Karang Awak


Perhelatan Yayasan Saraswati yang sudah melahirkan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini semakin semarak, heboh, dan menarik. Kenduri yang berlangsung sejak 8 tahun ini dijuluki “Among The Top Six Best Literary Festivals in The World” oleh Harper Bazaar, United Kingdom. Apalagi, kali ini tema sentralnya bertajuk “Nandurin Karang Awak (Cultivate The Land Within)”, kalimat yang direnggut dari salah satu geguritan—syair yang dinyanyikan—karya pujangga dan pendeta besar Bali yang sangat dihormati: Ida Pedanda Made Sidemen.
“Dalam karyanya itu, Ida Pedanda Made Sidemen menitipkan pesan kepada kita,” tulis Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, di dalam buku acara, “agar mengisi hidup ini dengan menimba ilmu sebanyakbanyaknya dan selalu berpegang pada kebenaran. Beliau yakin, hanya dengan pengetahuan dan keluhuran budi, manusia akan dapat mengatasi segala tantangan hidup.”
Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati menyatakan, tema besar itu mengandung nilai-nilai
kearifan lokal, tradisi, dan spiritualitas Bali. “Yang nantinya diharapkan menjadi inspirasi bagi para peserta festival dalam berkarya dan berdialog dengan mengedepankan dimensi kesederhanaan hidup, kekayaan batin, dan kemerdekaan jiwa.”
Sementara Tjokorda Raka Kertyasa, sebagai pembina festival, bertanya, apa yang kita tanam dalam diri kita? Jawabannya, “Tubuh ini adalah bumi, yang terdiri dari lapisan-lapisan, elemen-elemen Panca Maha Butha dan roh atau jiwa.”
Wayan Juniartha, koordinator program untuk Indonesia, menjelaskan lebih lanjut bahwa Nandurin Karang Awak (menanami tanah sendiri) ada dalam geguritan Salampah Laku, puisi panjang tradisional. Dalam geguritan itu disebutkan: “… idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin… (kehendak kakanda sekarang, mulai melakukan tapa kesederhanaan, tidak memiliki tanah sawah, maka tubuh diri-lah yang ditanami).”
“Mengolah diri sendiri sebagaimana mengolah sawah—menyebarkan benih kebajikan, memotong rumput-rumput keinginan, serta memanen dengan saksama agar hanya biji budi terbaik yang dihasilkan—merupakan konsep filosofis penting dalam tataran spiritual Bali,” kata Juniartha kepada Warisan Indonesia

Di Tangan Anak-anak, Gambuh Kembali Menggeliat

Gambuh diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15 dan terus mengalami evolusi sampai abad ke-17. Mengalami balinisasi pada abad ke-19 sampai dengan abad ke-20. Gambuh nyaris mati pada abad ke-21, tetapi bangkit lagi melalui anak-anak.
Di panggung terbuka di depan angkul-angkul (gapura Bali), lima anak perempuan menari dengan gerakan-gerakan gemulai dan ritmis, diiringi seruling dan gamelan yang mendayu-dayu.  Mereka menarikan Condong dan Kakan-Kakan sambil saling sapa, menyambut kedatangan Galuh. Kemudian Galuh tampil dengan tari yang halus, luwes, lembut, dan berdialog dengan bahasa Kawi (Jawa Kuno), menceritakan situasi dan kondisi di sekitarnya. Para penari kemudian keluar dari panggung.
Pada babak selanjutnya, muncul peran Prabangsa (patih), Kade-Kadean (arya), dan Demang Tumenggung.  Mereka tampil menari secara bergantian dengan gerakan-gerakan yang berwibawa disesuaikan dengan karakter masing-masing. Gerakan mereka diikuti oleh para punakawan dengan tari dan lawakan-lawakan yang lucu dan segar, menyambut kedatangan tokoh Panji (pangeran). Kemudian Panji tampil di hadapan para abdinya dan cerita melangkah ke babak selanjutnya.  Itulah sekelumit adegan dalam sebuah pementasan gambuh yang menceritakan perjalanan Ratna Manggali mencuri kitab Lontar Takepan Danta milik Ni Calonarang untuk diserahkan kepada mertuanya, Mpu Baradah.  Ratna Manggali adalah putri kesayangan Ni Calonarang yang dipersunting oleh Mpu Bahula atas perintah Mpu Baradah guna menyingkap rahasia kesaktian Ni Calonarang dan menetralisasi kekuatan buruk kitab sakti itu.

Sensasi Musik Batu di Goa Tabuhan

Yanuar Dwi Sarjono
Tidak bisa membayangkan stalaktit-stalakmit bisa menghasilkan suara indah? Memang, harus ke Goa Tabuhan untuk membuktikan hal itu.
Di dalam sebuah ruangan gelap, tujuh orang, terdiri empat pria dan tiga perempuan, memosisikan diri di sela-sela stalaktit dan stalakmit (batu goa yang menjulur dari atas dan dari bawah). Hanya dalam hitungan detik, mengalunlah gending-gending Jawa yang dimainkan para personel musik tradisional tersebut.
Tembang Jawa “Nyidam Sari” mengawali alunan merdu dari suara tiga perempuan yang bertindak sebagai sinden atau penyanyi. Sesekali senggakan mantap keluar dari vokal waranggana atau penabuh gamelan. Lima lagu Jawa mereka lantunkan dalam waktu tak lebih dari 20 menit. Meskipun singkat, tetapi penonton dan penikmat benar-benar merasakan sensasi musik tradisional itu.
Ya, karena alunan tembang-tembang Jawa ini—lain dari biasanya—tidak diiringi gamelan lengkap, seperti saron, kenong, kempul, gambang, rebab, dan gong. Namun, hanya dengan kendang, sebagai alat asli perangkat gamelan, yang dipadu dengan pukulan stalaktit dan stalakmit, jadilah alunan gamelan Jawa yang tak kalah indah suaranya.
Sensasi musik tradisional ini bisa kita saksikan hanya di Goa Tabuhan, yang terletak di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Berjarak sekitar 25 kilometer arah barat dari pusat kota Pacitan, dan sekitar 100 kilometer dari arah kota Solo. Jika dari Solo, Goa Tabuhan bisa ditempuh melalui rute Solo-Wonogiri-Baturetno-Giriwoyo-Donorojo-Goa Tabuhan.

Mitos Negeri Kayangan

Ratusan gunung yang menghias Nusantara banyak menjadi tempat tujuan wisata di daerah ketinggian dengan hawa sejuk. Sebutlah Berastagi di Sumatera Utara; Bukit Tinggi di Sumatera Barat;
Kawasan Puncak Pass, Pengalengan, dan Kawah Putih di Jawa Barat; bahkan berbagai tempat lain hingga ujung timur Indonesia.
Namun, bisa jadi hanya Dataran Tinggi Dieng yang memiliki puluhan titik wisata dalam satu kawasan.  Daya tarik Dieng tidak sebatas keindahan alam nan eksotis. Mitos yang menyelimutinya semakin menjadi pesona sekaligus magnet kunjungan turis lokal dan mancanegara.
WARISAN INDONESIA / Bhrahu Pradipto
Mitos anak gembel dari Dieng, misalnya. Kisah misteri keberadaan anak-anak itu begitu tersohor. Rambut mereka menjadi kaku tidak tercipta sejak lahir atau karena kesengajaan. Penyebabnya justru berlangsung saat usia anak di bawah lima tahun. Diawali oleh demam tinggi, keesokan harinya beberapa helai rambut menyatu jadi gimbal.
Saat proses rambut seorang anak menjadi gimbal, demam bisa datang berulang. Anehnya, penampilan si anak gembel berubah kusam. Meskipun mandi dan keramas, kulit mereka seolah tak terawat. Ketika rambut gimbalnya dipotong, anak yang menderita “penyakit aneh” ini jatuh sakit lagi dan rambutnya kembali mengeras.
Belum ada yang bisa menjawab fenomena ini. Tak banyak kajian ilmiah yang membahasnya. Ketika dugaan penyebab gimbal berhubungan dengan kebersihan anak dan keluarganya, nyatanya “kejanggalan” juga terjadi pada keluarga dengan tingkat sanitasi di atas rata-rata.  Contoh nyata tampak pada Muhammad Alfarizi Masaid, siswa kelas III SD. Rambutnya gimbal, sementara adiknya berambut normal. Mereka berdua dibesarkan pasangan suami-istri petani kentang yang cukup berhasil.

Pasar Tradisional di Kanvas Para Pelukis

Hendra Gunawan “ Banjir di Pasar Ikan”
Pasar tradisional, tempat transaksi pedagang dan pembeli, itu termasuk salah satu objek favorit para pelukis tradisional, mulai dari modern hingga kontemporer.  Apanya yang menarik?
Di kota-kota besar di Indonesia, pasar-pasar tradisional sudah tergantikan oleh supermarket dengan beragam merek, baik merek asli dalam negeri maupun waralaba asing. Namun, di desa-desa, pasar tradisional masih berjaya, meskipun sudah terancam minimarket lokal yang mulai aktif masuk desa.
Salah satu keunggulan pasar tradisional adalah selalu tersedia ruang tawar-menawar sehingga pembeli tertantang untuk mendapatkan barang bagus dengan harga murah, sedangkan penjual tetap bisa mengambil keuntungan. Dalam proses tawar-menawar hingga tercapai titik sepakat atau tidak sepakat itulah muncul “perasaan tertentu” yang tidak didapatkan di supermarket, minimarket, dan hipermarket yang harganya tidak bisa ditawar lagi. Dalam proses tawarmenawar itu pula pedagang dan pembeli dilatih untuk saling meluluhkan hati “lawan” dengan cara yang santun.
Dalam ranah seni rupa Indonesia, kehidupan pasar tradisional banyak diangkat para pelukis ke atas kanvas.  Tentu saja dengan alasan masing-masing. Mulai dari kekayaan warna yang ditimbulkan dari kostum penjual dan pembeli, kekayaan garis bidang dan ruang, kekayaan gerak, hingga yang sudah disinggung di atas—ekspresi individu ataupun kelompok dalam proses transaksi dan pergerakan di dalam ruang. Di samping itu, setiap pasar juga menawarkan bentuk-bentuk arsitektur yang menunjukkan setting pasar, juga isi dari pasar tersebut sesuai dengan jenisnya—mulai dari pasar ikan, pasar burung, pasar buah, pasar kambing, hingga pasar yang menjual sayur-mayur, bahan kebutuhan pokok, dan kebutuhan sehari-hari lain. Belum lagi bau pasar yang mempunyai aroma khas. Dinamika pasar seperti itu menantang pelukis untuk bisa “menaklukkan” secara artistik.

Lengger Banyumas – Masak Porno, Sih?

Agung Wiera
Gerakan-gerakan tarian lengger yang erotis dianggap porno. Padahal, tarian itu awalnya kesenian keagamaan lokal.
Dua penari wanita muda usia—mengenakan kain dengan bagian dada terbuka, berkalung selendang, dan rambut disanggul—muncul dari arah yang berlawanan, diiringi tetabuhan yang keluar dari berbagai alat musik, seperti gendang, gender, dan calung dari bambu. Irama yang rancak membuat geyol si penari semakin mantap. Sambil menyanyi, mereka menarik penonton laki-laki dengan selendangnya.  Begitulah awal pementasan tari lengger.
Di bagian yang disebut babak lenggeran ini, kedua lengger (penari) memperkenalkan diri kepada penonton, kemudian menyanyi dan menari. Di sini sudah ada saweran dari penonton pria yang terkesima dengan geyol si penari yang erotis.
Adegan seperti itulah yang membuat tari tradisi dari Banyumas ini pernah dilarang oleh pemerintah daerah setempat. Tarian itu dianggap melanggar Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi.
Pembuatan film berjudul Kelas 5000-an, yang terpilih sebagai film cerita pendek terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2010, terinspirasi dari kehidupan penari lengger. Film yang disutradarai oleh Jihat Ajie itu mengisahkan penari lengger bernama Tantri. Ibunya menyarankan agar Tantri mencari pekerjaan lain, tetapi Tantri sudah telanjur mencintai pekerjaan yang ia warisi dari ibunya itu.
Setiap Tantri manggung, selalu ramai pengunjung—terutama lelaki. Yang artinya banyak rezeki. Namun, pihak keamanan membubarkan pertunjukan Tantri karena dianggap mendatangkan keonaran dan melanggar Undang-Undang Pornografi. Padahal, Tantri tidak paham apa itu Undang-Undang Pornografi. Yang ia tahu hanyalah menari dan pulang membawa uang untuk anak semata wayangnya dan ibunya yang renta.

Naskah Melayu Kuno yang Terserak



Muhlis Suhaeri
Ratusan lembar naskah Melayu Kuno di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, perlahan mulai berpindah tangan ke Malaysia yang gencar menasbihkan diri sebagai pusat peradaban Melayu di dunia.
Setumpuk  naskah lama tergeletak di lemari. Berhuruf Melawi Jawi atau Arab Gundul. Naskah berjajar tak teratur. Terserak bersama sekumpulan buku kuno. Kunci lemari terbuat dari gerendel kecil, mudah dibungkas.
Rumah berarsitektur khas Melayu tersebut tak ada yang merawat. Pekerja pembangunan masjid menjadikannya gudang dan ruang rehat. Tumpukan sekop, panci, dan kompor bercecer di segala ruang. Naskah dan rumah sama tak terawatnya.
Itulah ironi rumah khas Melayu di Kampung Dagang, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Rumah itu milik ulama terkenal di Sambas, Basuni Imran, yang bergelar “Sang Maharaja Imam”. Rumah Basuni Imran diperbaiki untuk dijadikan museum, tetapi perbaikan dan pengisian benda sejarah tak kunjung usai. Semua terbengkalai.
Kabupaten Sambas terletak di ujung pantai utara Kalimantan Barat. Berjarak sekitar 225 kilometer dari Kota Pontianak. Sambas pernah jadi perlintasan budaya, agama, perdagangan, dan jalur ekspansi antarnegara. Hal itu bisa dilihat dari berbagai barang kuno yang ditemukan di Sambas, misalnya, patung Buddha Mahayana terbuat dari emas dan perunggu yang dianggap sebagai patung Buddha tertua di Indonesia. Sayangnya, patung itu tiba-tiba raib dan muncul di Balai Lelang Southeby’s, London tahun 2002.
“Sambas jadi salah satu pintu masuk ke wilayah Nusantara,” kata Mul’am Kusairi, pencinta barang kuno dan seni di Sambas dan juga mengajar kebudayaan dan kesenian Melayu Sambas di salah satu universitas di Malaysia.
Hal itu bisa dilihat dengan ditemukannya kontrak dagang pada 1609, antara kesultanan Sambas dengan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC). Sambas masuk dalam jajaran sejarah perekonomian awal di Indonesia. Juga ditemukan berbagai senjata dari Eropa di Sambas, seperti pedang, meriam, dan lainnya. Artinya, banyak orang meninggal di Sambas. Dalam ketentaraan, senjata tidak boleh ditinggal. Kecuali ditawan atau dibunuh.
Senjata yang ditemukan sebagian besar pedang perwira. Pedang perwira banyak hiasan dan inisial. Pedang prajurit tidak ada hiasan dan inisial. Senjata ditemukan di tempat yang dianggap sarang lanun atau perompak. Pedang sebagian besar dari Inggris, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat. Pedang Moghul atau India juga banyak. Rata-rata buatan abad ke-17 hingga abad ke-18

Wednesday, March 7, 2012

ci


PT BSS Mangkir DPRD Merasa Dilecehkan

MUSI RAWAS-Rapat mediasi lanjutan sengketa lahan masyarakat dengan PT PT Buana Sriwijaya Sejahterah (BSS) di DPRD Kabupaten Musi Rawas (Mura) tampa dihadiri oleh perwakilan PT BSS. Anggota DPRD Kabupaten Mura, Zainudin Anwar mengaku kecewa karena pihak PT BSS tidak hadir dalam rapat lanjutan mengenai tuntutan warga Kecamatan Nibung.

Bahkan Zainudin merasa dilecehkan oleh PT BSS.

“Kami cuma mempasilitasi antara warga dan PT BSS agar persoalan tersebut dapat diselesaikan. Tapi pihak PT BBS tidak hadir memenuhi undangan kami artinya mereka (PT BSS) melecehkan lembaga DPRD,” kata Zainudin saat rapat di Gedung DPRD Kabupaten Mura, Rabu (7/3) sekitar pukul 9.30 Wib.

Rapat tersebut merupakan lanjutan dari rapat sebelumnya dilaksanakan padaq (27/1) lalu. Ditambahkan Zainudin, masyarakat Nibung merasa lahan mereka diserobot oleh PT BSS

“ lebih baik kami membela rakyat daripada membela investor asing sebab, investor Cuma ada selama sumber daya alam masih ada di nibung, sedangkan rakyat selalu ada karena mereka memang tinggal di situ, di nibung, kami bukan mencari kambing hitam tetapi kami hanya mempasilitasi masyarakat dengan PT BSS agar ketemu dan masalahnya menjadi klir,kota Musi Rawas ini nomor 5 daerah di sumatra selatan yang termasuk rawan komplik ” ujar zainudin

“ bila tidak ada untung buat masyarakat, buat apa adanya investor asing setuju tidak setuju adalah hak masyarakat kita sudah menurunkan tim dan sudah di cek banyak lahan produktif milik rakyat yang sejak dulu tinggal disitu yang di serobot PT BSS ” tarmizi




Masyatakat menuntut, agar pemerintah mencabut hak izin PT BSS karena dianggap telah menyerobot tanah warga Nibung , PT BSS harus mengembalikan lahan yang telah di kelola oleh warga, PT BSS di tuntut agar tidak menggarap lahan sebelum adanya keputusan atau ketetapan, dan lahan yang di jadikan plasma harus jelas batasan batasanya.

Menurut laporan Tarmizi yang berkedudukan sebagai Camat desa Nibung lahan yang ada di 5 desa yang terdiri dari lahan produktif dan lahan tidak produkrif, Jati mulya, SP 8, SP 10, SP 11 dan tebing ringgi di perkirakan sekitar 29.000 Hektar dan lahan yang di kuasai oleh PT Buana sriwijaya sejaterah (BSS) sekitar 20.000. Hektar, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara kapasitas lahan milik warga dengan lahan PT BSS yang di persengketakan, dan hasil sementara belum bisa mengambil keputusan karena tidak hadirnya sebelah pihak dari pihak sebelah PT BSS yang mangkir dari rapat.

Kesimpulan yang dihasilkan oleh DPRD Musi rawas , hanya akan di agendakan kembali, dan bila pihak dari PT BSS mangkir kembali DPRD akan  menggunakan aparat, untuk sementara PT BSS tidak boleh melakukan aktivitas di lahan sengketa, dan 500 hektar lahan digunakan untuk plasma, PT BSS harus ikut memelihara jalan yang di lewati.(Mg02)