Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Rabu, 14 Desember 2011

Puri Agung Karangasem: Sebuah Potret Pelestarian Budaya




Kontribusi Kerajaan Karangasem pada perkembangan sejarah Bali amat penting. Saat zaman berubah, anak cucu raja berkumpul dan melestarikan tradisinya di sebuah puri.
Puri Agung Karangasem adalah salah satu peninggalan penting Kerajaan Karangasem.
Bangunan megah yang hingga kini tetap terpelihara itu sesungguhnya baru hadir jauh setelah pendirian kerajaan. Namun, kenyataannya, kompleks seluas 1,5 hektar itu memainkan peran penting pada masa kemerdekaan menyusul sirnanya kekuasaan kerajaan yang sesungguhnya.
I Gusti Gede Djelantik adalah raja yang mendirikan puri itu. Saat itu, ia adalah Stedehouder atau wakil pemerintah kolonial Belanda yang pertama antara tahun 1896 dan 1908. Sejak 1909, ia digantikan keponakannya, I Gusti Bagus Djelantik, atau Anak Agung Bagus Djelantik. Inilah raja terakhir yang meninggal pada 1966 di Puri Agung tersebut.
Raja terakhir, yang juga tersohor dengan nama Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem ini, amat berjasa. Dia meninggalkan banyak karya di berbagai bidang. Karangasem mencapai kemajuan pesat. Pendidikan, kesenian, adat, pertanian ataupun keagamaan. Keahliannya mencakup seni ukir dan tari gambuh. Ia juga menggubah tembang dan kakawin dalam bahasa Kawi.
Puri Agung Karangasem, yang merupakan karya pendahulunya, itu ia perindah dengan menciptakan Kuri Agung atau gapura istana. Rancangannya unik dan terus terpelihara hingga kini. Dua buah taman yang merupakan karyanya adalah Taman Sukadasa (1919) dan Taman Tirta Gangga (1948).
Setelah kemerdekaan pemerintahan kerajaan tidak ada lagi. Namun, menurut pengelola Puri Agung Karangasem, Anak Agung Made Arya, tata pemerintahan sebenarnya sampai kini masih lestari di lingkungan semeton atau kerabat internal. Tentu, penerapannya berbeda pada saat ini karena tatanan itu dijaga untuk memenuhi kepentingan adat dan keagamaan di lingkungan puri.“Kalau dahulu puri dipimpin seorang raja, kini dipimpin penglingsir puri,” tutur cucu raja terakhir Kerajaan Karangasem itu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat