Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Saturday, December 10, 2011

Ngertakeun Bumi Lamba – Harmoni Alam Lewat Sedekah Bumi


Ari Yordan Mendrofa
Masyarakat Sunda dari sejumlah wilayah berkumpul di Tangkuban Perahu. Mereka bersama mengharapkan Yang Kuasa menurunkan lagi kebaikan yang pernah diberikan kepada para leluhur.
Sangkuriang, ketika kecil diusir oleh ibunya, Nyi Dayang Sumbi, gara-gara menyembelih anjing kesayangan mereka yang sebenarnya adalah ayah Sangkuriang. Ketika dewasa, Sangkuriang berjumpa dengan Dayang Sumbi kembali dan saling jatuh cinta, tetapi belakangan Dayang Sumbi menyadari bahwa Sangkuriang adalah anaknya.
Cara menolaknya, ia meminta Sangkuriang membuat perahu dan membendung Sungai Citarum dalam semalam, tetapi dengan bantuan dewa, belum lagi perahu selesai sudah terdengar ayam berkokok. Sangkuriang marah dan menendang perahunya jauhjauh yang jatuh menangkup di bumi. Itulah yang menjadi Tangkuban Perahu.
Bukan itu saja yang menyebabkan gunung yang terletak di utara Bandung, Jawa Barat, itu dianggap sakral. Penyebab lain, konon Nyi Roro Kidul juga pernah berguru di gunung tersebut. Itu sebabnya masyarakat Sunda sampai sekarang terbiasa mengadakan ritual di kawasan yang sangat indah itu.
Di antaranya, upacara adat “Ngertakeun Bumi Lamba” yang dihelat pada akhir Juni 2011. Ngertakeun (dari kata dasar kerta berarti ‘menyejahterakan’); bumi lamba (alam jagat atau dunia sebagai alam kosmos). Ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sejak 2009, diadakan di Gunung Tangkuban Perahu. Sebelumnya, pernah dilakukan, antara lain, di Gunung Pangrango (Cianjur) dan Gunung Wayang (Bandung).
Upacara adat tahunan ini, menurut Ketua Panitia Wawan Akil, sebetulnya sudah dikenal sejak Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Padjadjaran, abad ke-14 hingga ke-15. Kalau sekarang dilaksanakan kembali, tujuannya untuk merevitalisasi peradaban yang telah ditinggalkan banyak orang.

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat