Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Wednesday, December 14, 2011

Keraton Kasepuhan Cirebon – Ketika “Bouroq” dan Burung Hong Bercumbu




Arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon adalah paduan unsur-unsur budaya Islam, Hindu, Buddha, Kristen (Barat), dan Konfusius (China). Ini bukti pembaru menghormati apa yang telah ada sebelumnya.
saat mendirikan Keraton Kasepuhan Cirebon pada 1529, Sunan Gunungjati mempertahankan unsur tradisi Hindu-Buddha dari Kerajaan Pandjadjaran. Salah satu penandanya adalah sepasang patung harimau berwarna putih di pelataran Kamandungan. Masyarakat Sunda pedalaman yakin, harimau adalah reinkarnasi sosok Prabu Siliwangi yang menjadi raja terakhir di Padjadjaran.
Jejak kebudayaan Hindu-Buddha juga tampak jelas pada kompleks bangunan sitihinggil (bahasa Jawa, siti: tanah, hinggil: tinggi) yang bercorak candi bentar—arsitektur khas zaman Majapahit—pada dua gapuranya, gapura adi di utara dan gapura banteng di selatan.
Di bawah gapura banteng ini terdapat candra sengkala dengan tulisan kuta bata tinata banteng yang kalau dibaca dari belakang merujuk tahun 1451 Saka atau 1529 Masehi. Kemungkinan besar sitihinggil inilah yang pertama kali dibangun sebelum bangunan lain menyusul kemudian.
Di dinding seluruh bangunan yang menggunakan material batu bata merah menempel aneka keramik China masa Dinasti Ming (1364-1644 M) dan keramik Delf dari Belanda. Di depan sitihinggil terdapat meja batu granit hadiah Sir Stamford Raffles, wakil Kerajaan Inggris yang pernah menjadi Gubernur Jenderal Jawa (1811-1816).
Menurut pemandu keraton, Elang Mungal (51), bangunan sitihinggil berfungsi sebagai tempat sultan menyaksikan latihan perang prajurit keraton di alunalun yang berlokasi di sebelah utara keraton. Latihan ini dilakukan setiap hari Sabtu hingga disebut sebagai Sabtonan.
Di dalam kompleks sitihinggil terdapat lima bangunan berbahan utama kayu jati mirip pendapa tanpa dinding dan masing-masing memiliki nama serta fungsi berbeda. Bangunan utama yang terletak melintang dengan jumlah saka (tiang) 20 buah dinamai malang semirang yang melambangkan 20 sifat Allah SWT. Sementara saka guru (tiang utama) enam buah, yang melambangkan rukun iman. Di tempat inilah sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.
Bangunan di sebelah kirinya bernama Pandawa Lima dengan lima buah saka yang melambangkan rukun Islam. Bangunan ini tempat para panglima perang. Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan dua saka yang melambangkan dua kalimat syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasihat sultan yang disebut penghulu.
Di belakang bangunan utama ada Mande Pengiring tempat berkumpulnya pengiring sultan. Sebuah bangunan lagi ada di sebelahnya, Mande Karasemen, di situlah para nayaga (penabuh gamelan) berada. Sampai sekarang, bangunan ini masih digunakan sebagai tempat membunyikan gamelan sekaten saat Idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu, juga terdapat lingga-yoni. Dalam khazanah kebudayaan Hindu, lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Di atas tembok sekeliling sitihinggil terdapat Candi Laras untuk penyelaras kompleks itu.

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat