Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Saturday, December 10, 2011

Gandrung Melawan Arus Zaman


WARISAN INDONESIA
Tari Gandrung yang energik dan sangat dinamis, dipercaya menggambarkan kultur asli orang Osing.
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), pada awal Juli 2011, meriah dengan pementasan Gandrung eng tay karya Dedy Luthan. Ini adalah persembahan kelima dari Dedy yang mengeksplorasi gandrung, setelah kadung Dadi Gandrung Wis (1990), Gandrung Salatun (1992), iki Buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1999).
“Tapi Gandrung Eng Tay merupakan tari gandrung pertama garapan saya yang tidak bercerita tentang penari gandrung, tetapi tentang kesetiaan perempuan yang diangkat dari kisah klasik China,” ungkap pimpinan Dedy Dance Company ini, yang kali ini menautkan kisah cinta Sam Pek Eng Tay dengan gerakan dinamis gandrung khas Banyuwangi.
Dedy, meski berdarah Minang, sejak lama tertarik pada kesenian gandrung. Pada 1989, ia masuk-keluar kampung di Banyuwangi memburu kesenian gandrung yang biasa dipentaskan di perhelatan pernikahan dan sejenisnya.
“Gandrung adalah misteri,” ujar Dedy, “kalau biasanya penari perempuan menjadi anggota kelompok, dalam gandrung menjadi penari sentral dan menari mengikuti rasanya, gamelan justru ditabuh mengikuti gandrung.”
“Pokoke Kepenak”
Gandrung adalah seni pertunjukan khas Banyuwangi, daerah ujung timur Pulau Jawa. Itu juga sebabnya, sejak tahun 2000, Banyuwangi ditetapkan sebagai Kota Gandrung.
Seniman-seniman tradisi Banyuwangi ini mempunyai prinsip pokoke kepenak. Misalnya dalam hal musik, apa saja yang didengarnya enak akan diadaptasi dengan rasa Banyuwangi. Angklung atau carug dan barong didapat dari kebiasaan orang Madura.
Menurut Dedy Luthan, alat musik gandrung yang asli sebenarnya hanya gendang, gong, kenong, biola, dan kloncing. Namun, perkembangan selanjutnya ditambah dengan saron, terbang, bedug. Ada juga yang menambah dengan angklung.
Sebagai daerah perlintasan dari Jawa ke Bali, budaya Banyuwangi, khususnya Osing, mendapat percampuran Bali, Jawa, dan Madura. Terlihat dari musik yang dinamis, seperti Bali, gerak tari yang ada kemiripan dengan tari Bali, tetapi di beberapa bagian lenggangnya mirip dengan tari Madura, dan kadang-kadang lembut mirip dengan tari Jawa.
Tari Gandrung—yang namanya diambil dari kata ‘gandrung’ (bahasa Jawa, artinya ‘cinta setengah mati atau tergila-gila’)—dianggap satu genre dengan tari ketuk tilu (Jawa Barat), tayub (Jawa Tengah dan Jawa Timur), lengger (Cilacap dan Banyumas), serta joged bumbung di Bali. Persamaannya, sang penari yang biasanya berpenampilan eksotik, menjadi sorotan utama dan melibatkan tamu pria untuk menari bersama.

Ubud Writers & Readers Festival – Nandurin Karang Awak


Warisan Indonesia/Putu Wijaya
Perhelatan Yayasan Saraswati yang sudah melahirkan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini semakin semarak, heboh, dan menarik. Kenduri yang berlangsung sejak 8 tahun ini dijuluki “Among The Top Six Best Literary Festivals in The World” oleh Harper Bazaar, United Kingdom. Apalagi, kali ini tema sentralnya bertajuk “Nandurin Karang Awak (Cultivate The Land Within)”, kalimat yang direnggut dari salah satu geguritan—syair yang dinyanyikan—karya pujangga dan pendeta besar Bali yang sangat dihormati: Ida Pedanda Made Sidemen.
“Dalam karyanya itu, Ida Pedanda Made Sidemen menitipkan pesan kepada kita,” tulis Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, di dalam buku acara, “agar mengisi hidup ini dengan menimba ilmu sebanyakbanyaknya dan selalu berpegang pada kebenaran. Beliau yakin, hanya dengan pengetahuan dan keluhuran budi, manusia akan dapat mengatasi segala tantangan hidup.”
Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati menyatakan, tema besar itu mengandung nilai-nilai
kearifan lokal, tradisi, dan spiritualitas Bali. “Yang nantinya diharapkan menjadi inspirasi bagi para peserta festival dalam berkarya dan berdialog dengan mengedepankan dimensi kesederhanaan hidup, kekayaan batin, dan kemerdekaan jiwa.”
Sementara Tjokorda Raka Kertyasa, sebagai pembina festival, bertanya, apa yang kita tanam dalam diri kita? Jawabannya, “Tubuh ini adalah bumi, yang terdiri dari lapisan-lapisan, elemen-elemen Panca Maha Butha dan roh atau jiwa.”
Wayan Juniartha, koordinator program untuk Indonesia, menjelaskan lebih lanjut bahwa Nandurin Karang Awak (menanami tanah sendiri) ada dalam geguritan Salampah Laku, puisi panjang tradisional. Dalam geguritan itu disebutkan: “… idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin… (kehendak kakanda sekarang, mulai melakukan tapa kesederhanaan, tidak memiliki tanah sawah, maka tubuh diri-lah yang ditanami).”
“Mengolah diri sendiri sebagaimana mengolah sawah—menyebarkan benih kebajikan, memotong rumput-rumput keinginan, serta memanen dengan saksama agar hanya biji budi terbaik yang dihasilkan—merupakan konsep filosofis penting dalam tataran spiritual Bali,” kata Juniartha kepada Warisan Indonesia.

Ngertakeun Bumi Lamba – Harmoni Alam Lewat Sedekah Bumi


Ari Yordan Mendrofa
Masyarakat Sunda dari sejumlah wilayah berkumpul di Tangkuban Perahu. Mereka bersama mengharapkan Yang Kuasa menurunkan lagi kebaikan yang pernah diberikan kepada para leluhur.
Sangkuriang, ketika kecil diusir oleh ibunya, Nyi Dayang Sumbi, gara-gara menyembelih anjing kesayangan mereka yang sebenarnya adalah ayah Sangkuriang. Ketika dewasa, Sangkuriang berjumpa dengan Dayang Sumbi kembali dan saling jatuh cinta, tetapi belakangan Dayang Sumbi menyadari bahwa Sangkuriang adalah anaknya.
Cara menolaknya, ia meminta Sangkuriang membuat perahu dan membendung Sungai Citarum dalam semalam, tetapi dengan bantuan dewa, belum lagi perahu selesai sudah terdengar ayam berkokok. Sangkuriang marah dan menendang perahunya jauhjauh yang jatuh menangkup di bumi. Itulah yang menjadi Tangkuban Perahu.
Bukan itu saja yang menyebabkan gunung yang terletak di utara Bandung, Jawa Barat, itu dianggap sakral. Penyebab lain, konon Nyi Roro Kidul juga pernah berguru di gunung tersebut. Itu sebabnya masyarakat Sunda sampai sekarang terbiasa mengadakan ritual di kawasan yang sangat indah itu.
Di antaranya, upacara adat “Ngertakeun Bumi Lamba” yang dihelat pada akhir Juni 2011. Ngertakeun (dari kata dasar kerta berarti ‘menyejahterakan’); bumi lamba (alam jagat atau dunia sebagai alam kosmos). Ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sejak 2009, diadakan di Gunung Tangkuban Perahu. Sebelumnya, pernah dilakukan, antara lain, di Gunung Pangrango (Cianjur) dan Gunung Wayang (Bandung).
Upacara adat tahunan ini, menurut Ketua Panitia Wawan Akil, sebetulnya sudah dikenal sejak Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Padjadjaran, abad ke-14 hingga ke-15. Kalau sekarang dilaksanakan kembali, tujuannya untuk merevitalisasi peradaban yang telah ditinggalkan banyak orang.

Ngumbai Lawok – Mencuci Laut di Lampung


Christian Heru
Ngumbai Lawok (Mencuci Laut) adalah ritual tradisi masyarakat Lampung sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada penguasa laut sekaligus ajang silaturahmi antarwarga pesisir.
Meskipun gerimis rintik-rintik, warga Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, tetap bersukacita layaknya orang yang sedang menyiapkan pesta.
Pasalnya, hari itu, Kamis 20 Oktober 2011, selain ada peresmian balai desa, juga digelar Ngumbai Lawok. Inilah tradisi pesta laut yang selalu dinanti warga untuk mendapatkan berkah.
Upacara yang dianggap sebagai wujud rasa syukur ini diselenggarakan setahun sekali oleh warga Sungai Burung dan sekitarnya. Warga—yang sehari-hari menjadi nelayan itu—bergotong royong menyiapkan ritual Ngumbai Lawok berupa kepala kerbau dan kelengkapannya untuk dilarung ke laut. Sesudah ritual usai, warga bersilaturahmi dengan makan bersama sambil menikmati pentas hiburan.
Tradisi Ngumbai Lawok, selain sebagai wahana puja, juga merupakan jalan silaturahmi bagi masyarakat pesisir Lampung. Ada benang merah hubungan ke atas dan kepada sesama.

Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu – Mencari Kebenaran Melalui Alam

Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa
Melatih kebaikan dan kesabaran tidak selalu mudah. Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu mengajarkannya melalui rangkaian ritual.
Komunitas adat yang bermukim di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ini menamakan diri Suku Dayak Hindu- Budha Bumi Segandu. Namun, tidak ada hubungannya dengan suku dalam artian etnis, tidak juga berkaitan dengan Suku Dayak di Kalimantan. Juga tidak ada hubungannya dengan agama Hindu dan Budha.
Ya, “Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu” bukan kalimat harfiah. Setiap katanya diambil dari kandungan makna dan filosofinya. “Suku Dayak Hindu-Budha”, terdiri atas kata “suku” (dalam bahasa Jawa, merupakan bahasa halus dari “sikil”) artinya “kaki”. Maknanya, setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya.
Lalu “dayak” diambil dari kata “diayak” yang artinya “disaring” agar setiap manusia dapat menyaring, mana yang salah dan mana yang benar. Adapun kata “hindu”, menurut Tetua Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Paheran Takmad Diningrat, artinya “kandungan” atau “rahim”. Makna filosofisnya bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang ibu (perempuan). Dan, kata “budha” diistilahkan “wuda” atau “telanjang”, mengingatkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang dan suci.
“Bumi Segandu Indramayu” pun punya makna tersendiri. “Bumi” bermakna “wujud”, sedangkan “segandu” bermakna “sekujur badan”. “Indramayu”, mengandung pengertian: “in” (‘inti’), ”darma” (orangtua), “ayu” (perempuan). Filosofinya, ibu (perempuan) merupakan sumber kehidupan karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.
Itu sebabnya masyarakat adat ini sangat menghormati kaum perempuan, yang tecermin dalam ajaran dan kehidupan mereka sehari-hari. “Buat saya, taat sama anak dan perempuan. Karena anak sama orangtua, yang benar anak, orangtua salah dulu. Orang sekarang ngakunya benar semua,” kata Paheran Takmad Diningrat. Maksudnya, sebagai orang yang lahir lebih dulu, maka orangtua justru yang punya kesalahan lebih banyak daripada anak.

Nyobeng dan Jejak Ritual Kaum Pengayau


Muhlis Suhaeri
Kalimantan sering dikaitkan dengan tradisi mengayau atau potong kepala. Tradisi itu sudah tak ada lagi, tetapi ritual persembahan untuk menghormati kepala hasil mengayau tetap berlangsung.
Mengayau di masyarakat Dayak, Kalimantan—yang konon simbol keperkasaan sekaligus menghindarkan warga dari penyakit—sudah dilarang sejak 1894, yakni sejak pertemuan akbar para tetua suku Dayak di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah. Namun, hasil kesepakatan itu tak sepenuhnya tersosialisasi.
Di Kalimantan Barat, misalnya, menurut Waliman (45), mantan Kepala Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Kalimantan Barat, daerahnya masih mengalami puncak budaya mengayau pada 1948-1950. “Mengayau di wilayah ini berakhir sejak misionaris masuk,” kata Waliman, yang merupakan salah satu warga dari subsuku Dayak Bidayuh.
Toh, tradisi yang berkaitan dengan mengayau tetap ada sampai sekarang. Pada pertengahan Juni yang lalu, misalnya, masyarakat Dayak yang tinggal di luar daerah pulang kampung. Sekolah setempat pun diliburkan selama dua hari.
Itulah jadwal penyelenggaraan nyobeng atau nibakng siwak setiap tahunnya di Dusun Sebujit Baru, Sebujit Iyang, dan Sebujit Lama yang berasal dari satu keturunan. Dulu, malah selain setiap Juni, juga diselenggarakan pada Maret dan April. Warga menyebut peristiwa tersebut dengan istilah gawai.
“Setiap gawai, kami selalu pulang, supaya bisa berkumpul dengan keluarga,” tutur Okren (30), pemuda di Sebujit, yang sudah sejak 1995 bekerja di Kuching, Sarawak, Malaysia. Padahal, dari perbatasan di Serikin ke Kuching jaraknya sekitar 50 kilometer. Dari Serikin ke Sebujit masih sekitar satu jam perjalanan dengan kondisi jalan tanah dan berlumpur kalau hujan.
Benedit Anak Kalong (39), anggota Polis Diraja Malaysia (PDRM), sejak enam tahun lalu selalu datang ke Sebujit setiap ada gawai. Meskipun dia dari subsuku Dayak Iban, istrinya orang Sebujit, anak ketua adat. Benedit naik motor bersama anak dan istri selama dua jam dari Kuching ke Sebujit. Katanya, ia mengikuti gawai tidak untuk bersenang-senang, tetapi untuk menyucikan jiwa dan raga.

Meriam Bambu Gelegar sampai Jauh


Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa
Permainan yang membutuhkan nyali, tetapi banyak disukai…
Malam Tahun Baru, bila di kota-kota besar anakanak dan remaja ramai meniup terompet, di beberapa daerah mereka ramai mendentumkan meriam bambu. Sama dengan suasana malam menjelang Ramadan, seperti yang biasa dilakukan masyarakat Gorontalo, membunyikan meriam bambu sehari sebelum ibadah puasa dilaksanakan.
Bahkan, selama bulan suci Ramadan, Agustus lalu, anak-anak Gorontalo membunyikan bunggo (meriam bambu) untuk membangunkan warga bersantap sahur.  Lantaran sudah tradisi, tak ada warga keberatan. Sejak awal Ramadan, para remaja membuat bunggo sebanyakbanyaknya karena pada akhir Ramadan dilombakan.  Sementara di Kampung Kubang, Curug, Serang, Provinsi Banten, ingar-bingar perang meriam bambu justru pada saat ngabuburit—menunggu waktu berbuka puasa.  Warga, terutama anak-anak, berlomba menyiapkan potongan bambu di tanah lapang di kawasan perbukitan tidak jauh dari kampung mereka. Potongan bambu itu lalu disusun dan dijadikan meriam.
Anak-anak Kampung Kedoyang, Serang, Provinsi Banten, waktu bulan Ramadan lalu, menunggu berbuka puasa sambil bermain meriam bambu di dekat lapangan desa.  Meskipun ketika menyulut meriam bambu itu mereka menutup telinga dengan tangan ketika kemudian terdengar suara, Buummm…! dari moncong bambu yang sedang mereka kerumuni, anak-anak usia 8-14 itu bersorak riang.
Suasana itulah yang membuat masa kecil begitu mengesankan. Kangen rasanya bila pada masa kecil akrab dengan meriam bambu. Seperti yang pernah dikatakan Indra Perdana Sinaga (Naga ‘Lila’) dalam sebuah wawancara, bahwa ia yang masa kecilnya di Kalimantan sangat rindu bermain meriam bambu, meskipun bulu matanya pernah terbakar gara-gara meriam bambu.

Membuka Pintu Berkat dengan Paruangan

Tirtoandayanto MR
Mereka datang dan berkumpul untuk satu tujuan, yaitu mengagungkan alam gaib, memohon pintu berkat terbuka, sekaligus membina persatuan antarpenduduk desa.
Pascabencana di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pengungsi korban gempa dan tsunami di wilayah Pagai Selatan masih menunggu rumah yang dijanjikan oleh pemerintah. Beruntunglah mereka yang tinggal di gunung, seperti Desa Matotonan. Mereka jauh dari bencana dan tetap dapat berkehidupan normal, bahkan tetap bisa menjalankan upacara adat.
Bagi suku Mentawai—yang selain tinggal di Mentawai juga di Pagai Utara dan Pagai Selatan—upacara adat adalah bagian penting hidup keseharian. Masyarakat Mentawai, yang sebagaimana suku Nias dan Enggano, adalah pendukung budaya Proto-Melayu. Penduduknya masih mempertahankan kepercayaan nenek moyang, yaitu Sabulungan.
Kepercayaan tersebut menekankan bahwa setiap benda, hidup ataupun mati, memiliki roh. Karena itu, setiap akan melakukan aktivitas, manusia harus memperhitungkan masak-masak agar roh-roh penguasa alam mau memberkati. Kegiatan menebang pohon untuk membuat perahu, mengobati orang sakit, atau membangun rumah baru, misalnya, biasanya diawali upacara tersendiri. Termasuk juga ketika membuat tato, yang merupakan tradisi khas suku Mentawai, terkait dengan peran dan status penggunanya.  Sebelum membangun uma (rumah panjang) atau menyambut sikerei (tabib) dari desa lain, juga dilakukan punen (upacara adat). Caranya, dengan mengumpulkan para sikerei dalam satu uma. Semakin besar dan penting acara, semakin banyak sikerei yang terlibat. Dulu, di setiap desa dengan penduduk di atas 1.000 jiwa, jumlah sikerei bisa lebih dari 200 orang. Kuantitas ini memang tidak mengikat, tetapi hal ini menggambarkan betapa pentingnya keberadaan sikerei untuk menjalankan roda kehidupan. Mereka akan merapalkan doa-doa yang sesuai dengan keperluan sang pengundang.

Tedhak Siten, Tahapan Baru Kehidupan Manusia


Warisan Indonesia/Bhrahu Pradipto
Sejak bayi hingga dewasa, manusia mengalami perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi mentalnya. Karena itulah ia perlu disiapkan dalam bentuk upacara. Tedhak Siten atau Turun Tanah hanya salah satunya. Upacara itu merupakan ungkapan rasa syukur karena mendapat titipan dari Tuhan.
Nuriyah Abdurrahman Wahid tertawa melihat dua orang cucunya yang masih berusia di bawah lima tahun muncul mengenakan busana Jawa. Malika Aurora Madura, putri dari Yenny Wahid—putri kedua dari empat putri presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid—mengenakan kain kebaya. Sedangkan Kahlil Pandyakira Abdurrahman Akbarsyah, putra dari Anita Wahid—adik Yenny—mengenakan kain dan surjan lengkap dengan belangkon. Semua yang hadir ikut tersenyum-senyum melihat kelucuan mereka.
Hari itu, 7 Mei 2011, di sela kesibukannya membangun partai baru, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenny) dan suaminya Dhohir Farisi, bersama Anita Hayatunnufus Rahman Wahid (Anita) dan suaminya, Imam Jehan Akbarsyah Sikumbang, mengadakan upacara Tedhak Siten bagi anak-anak mereka.
Yenny mengatakan, menjalankan tradisi Tedhak Siten ini dengan harapan agar putrinya kelak selamat dunia dan akhirat. “Saya juga berharap agar Malika menjadi anak yang mandiri, bertanggung jawab, serta mendapatkan derajat yang baik di tengah masyarakat,” ujar Yenny.
Akhir-akhir ini upacara Tedhak Siten diadakan oleh banyak tokoh. Pasangan Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo, misalnya, juga menyelenggarakan Tedhak Siten ketika putrinya, Siti Kirania Trihatmodjo, berusia 7 bulan.

Titik Balik Nias


Foto: Hardy Mendröfa
Berderet Desa mengepung mata, berpagar peradaban zaman. Di sinilah Orang Nias (Ono Niha), merefleksikan Bö’ömbanua, Bö’ö mböwö (baca: be’e mbanua, be’e mbewe-red). Yakni ‘lain kampung, lain pula adatnya’.
Berkunjung ke desa-desa di Pulau Nias, kita seperti di hadapkan pada sebuah eksotisme peradaban budaya. Rumah-rumah berderet rapi lengkap dengan ornamen tradisional, yang tak lapuk dimakan zaman.  Inilah Nias, pulau indah di sebelah barat provinsi Sumatera Utara.
Tercatat ada sekitar 655 desa/kelurahan di Pulau Nias. Dan, uniknya, mereka memiliki tradisi yang berbeda di setiap cakupan wilayahnya. Sebuah refleksi bergaris budaya dengan label Bö’ö mbanua, Bö’ö mböwö . Dari beragam desa yang ada di sana, ada tiga desa yang kami kunjungi untuk lebih menyelami denyut kehidupan Ono Niha. Desa-desa yang kami tuju adalah Desa Bawömataluo di Kecamatan Fanayama, Nias Selatan, juga Kampung Tundrumbaho di Desa Lahusa Idang Tae, Kecamatan Gomo, Nias Selatan, serta Desa Börönadu (Berenadu) atau Desa Sifalagö Gomo, Kecamatan Gomo, Nias Selatan.
Untuk mencapai Desa Bawömataluo atau yang dikenal sebagai Desa Bukit Matahari, memang dibutuhkan tenaga ekstra. Bukan apa-apa, desa ini secara demografis memiliki letak tertinggi dibandingkan desa-desa lain di Nias.  Perjalanan dapat ditempuh dari Bandara Binaka, Gunung Sitoli lewat jalur darat selama lebih kurang 2,5 jam ke Kota Teluk Dalam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Bawömataluo yang masuk ke dalam kecamatan Fanayama dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam. Tipografi Nias yang berbukit dan berkelok, bakal Anda kenang sepanjang hayat. Ditambah pemandangan alam yang benar-benar alami, maka lengkaplah sebuah sajian petualangan budaya.
Desa Bawömataluo sendiri merupakan salah satu perkampungan tradisional terbesar di Nias. Lokasi desa yang tepat berada di atas bukit, memaksa pengunjung yang hendak mengunjungi desa ini untuk menapaki 86 anak tangga yang memiliki kemiringan sekitar 45 derajat dan berada tepat di depan gerbang desa. Selepas menapaki anak tangga, kita sudah langsung berada di pelataran desa. Dari sini, sejauh mata memandang terlihat pemukiman desa-desa lain yang ada di bawahnya. Tak hanya itu, bentang laut di kejauhan pun terlihat jelas.

WARISAN INDONESIA

Bulan November ini, antara lain, kita memperingati Hari Pahlawan. Sebuah peringatan rutin, tetapi sebetulnya merupakan momentum kita merenungi betapa hebatnya mereka. Apa pun motivasinya, yang mereka lakukan adalah untuk kejayaan negara dan bangsa kita.
Namun, menyebut pahlawan, kita sering lupa bahwa apabila berkaitan dengan perjuangan bangsa, setiap daerah di Indonesia mempunyai pahlawan, kendati mungkin hanya dikenal secara lokal. Dan, sebagian dari mereka masih dicintai oleh pengikutnya. Bahkan, ajaran-ajarannya masih diteruskan.
Sebut saja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional dari Tapanuli—yang dikenal dengan “Raja Batak”—sampai saat ini masih dikenang oleh keturunannya sebagai tokoh yang selalu mengajarkan keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, sampai sekarang, nilai-nilai ajarannya menjadi kepercayaan masyarakat Batak.
Adalah kebetulan Sisingamangaraja kita kenal sebagai pahlawan yang dibanggakan oleh keturunannya. Bagaimana dengan Ki Samin Surosentiko (1859-1914) di Jawa Tengah? Juga Kiai Madrais di Jawa Barat? Mereka ikut berjuang melawan kolonialisme Belanda, meskipun tak disebut sebagai pahlawan nasional.
Sampai sekarang ajaran-ajaran mereka dilanjutkan para pengikut. Kita perlu mengapresiasi kepahlawanan mereka yang sangat berkaitan dengan masyarakat tradisi di Indonesia. Itu sebabnya, dalam edisi ini kami mengangkat beberapa pahlawan lokal dari beberapa daerah (GONG).
Selain itu, banyak lagi liputan budaya tradisi menarik yang mudah-mudahan menggugah Anda untuk lebih mencintai Tanah Air kita. Antara lain, tentang upacara Ngumbai Lawok (Cuci Laut) di Lampung yang dilaksanakan pada Oktober lalu. Mereka mengadakan upacara dan pesta di laut, tujuannya tak lain mengucapkan syukur kepada Yang Kuasa atas rezeki yang diberikan oleh-Nya melalui laut (Upacara Adat).
Juga tentang Hutan Donoloyo, cagar alam yang melegenda dengan kayu-kayu jati raksasanya. Menurut legenda, kawasan di Wonogiri yang juga ternasuk situs itu, penjaganya, yaitu Ki Donoloyo, mengingatkan bila ada yang menebang pohon-pohon jati di sana akan terjadi bencana (Legenda). Percaya atau tidak, kita sudah membuktikan bahwa dengan adanya banyak penebangan pohon, maka terjadi banyak bencana.
Di edisi ini, kami juga mengajak untuk melihat nasib kesenian Ketoprak yang nyaris terlupakan (Teater) dan pusaka rencong (Kriya) yang kini lebih populer sebagai cendera mata. Bila ada usul, silakan sampaikan

Seren Taun – Wujud Syukur kepada Tuhan


Yadi Yasin
Mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengharapkan perlindungan di musim tanam, masih banyak dilakukan oleh para petani di banyak daerah di Indonesia. Di antaranya di Tanah Pasundan, dikenal upacara adat seren taun, upacara adat tahunan panen padi.
Pada akhir Januari lalu, misalnya, upacara seren taun diselenggarakan oleh penduduk Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Juga oleh masyarakat Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Penduduk Desa Malasari memulai upacara tersebut dengan mengarak hasil panen dengan tandu – disebut anteuran (antaran)–dipimpin Jaro (Kepala Adat), berkeliling kampung sampai ke halaman Balai Desa. Rombongan tersebut kemudian disambut oleh Lengser–dalam adat Sunda dikenal sebagai salah satu tokoh arif yang jenaka dan biasa menjadi jembatan kalangan raja dan rakyat jelata–dengan tarian jenaka disertai sorak-sorai warga. Lengser dan Jaro kemudian berbaur menari bersama warga dalam suasana gembira, ditutup dengan ramai-ramai berebut anteuran.
Sementara itu, masyarakat adat Cigugur, Kuningan, menggelar upacara di kaki Gunung Ceremai. Diawali dengan prosesi ngajayak yang berarti menyambut atau menjemput padi, diteruskan dengan tiga pergelaran kolosal yaitu tari Buyung, tari Angklung Baduy, dan Angklung Buncis yang dimainkan oleh berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang hidup di Cigugur. Rangkaian acara bermakna syukur kepada Tuhan ini dikukuhkan dengan pembacaan doa yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama yang ada.
Hajatan yang biasa berpusat di kediaman Pangeran Djatikusumah, sesepuh masyarakat Desa Cigugur, di Pendopo Paseban Tri Panca Tunggal–sebuah kompleks perumahan khas golongan ningrat Sunda yang didirikan pada 1840–itu, diawali dengan tari Buyung yang dibawakan oleh puluhan wanita cantik. Tarian tersebut menggambarkan pengorbanan wanita dalam mencari air untuk sawahnya.

“Feta Batu” Keajaiban Musik Purba


Tidak sembarang batu digunakan. Dan, tidak sembarang orang bisa memainkan.
Bagaimana ceritanya, batu bisa jadi alat musik?  Pergilah ke Nias, di sana ada Feta Batu, yakni alat musik yang berasal dari batu asli. Selain merdu, suara yang dihasilkan seolah membawa suasana magis. Namun sayang, regenerasi pemain Feta Batu berjalan di tempat.  Di masa lalu, Feta Batu sering dimainkan dalam berbagai acara. Namun, seiring berjalannya waktu, alat musik ini semakin kurang eksistensinya. Banyak faktor penyebab, selain sulitnya mencari batu, generasi muda sepertinya enggan memainkan alat musik ini.
Hingga suatu hari, Hikayat Manao, salah seseorang tetua yang dihormati di Nias mendapat pesan dari seorang etnimusikolog, Rizaldi Siagiaan. “Kami bertemu saat konser multimedia Megalitikum dan Kuantum yang digelar di Jakarta, _ 2005 lalu. Saat itu, dia berpesan agar saya menemukan kembali Feta Batu yang sudah sempat punah itu,” ungkap Hikayat.
Jelas, ini bukan amanat yang gampang untuk dilaksanakan, justru sebaliknya membuat pusing bapak empat anak ini._”Musik batu, batu musik. Apa itu musik batu? Pertanyaan itu yang terus bergema dalam kepala saya,” kenangnya.  Bermula dari situlah, proses pencarian (kembali) musik batu mulai dilakukannya. Diawali dengan mengetuk batu-batu yang ada di pekarangan rumah_dengan pemukul kayu. Ternyata bunyi yang keluar dari batu-batu_ itu sama dan senada. ”Kemana harus mencari batu yang bunyinya macam-macam untuk bisa menganyam melodi?” pertanyaan itu kembali memenuhi pikirannya.
Di tengah kepusingan yang menerpa, pria yang lahir pada 12 Juni 1958 ini lantas bergegas menuju hutan yang tak jauh dari Desa Bawömataluo, tempat tinggalnya seharihari.  Setengah jam kemudian ia terperangah sebab menemukan pagar batu yang cukup panjang. Ini rupanya pembatas desa yang dihikayatkan turun-temurun. Spontan ia berseru ke arah pagar dalam bahasa Nias yang artinya, “Oh, leluhurku, aku baru mendapat amanat untuk menemukan musik batu. Pernah kudengar kalian leluhurku memilikinya.  Tunjukkanlah batu bermusik kalau cerita yang kudengar itu benar.”

Sebuah Misteri di Museum Sejarah Jakarta

Pada tahun 2010 silam, sekumpulan seniman Inggris dan Indonesia menemukan sebuah ruang rahasia yang menyimpan harta karun terbesar di Kotatua Jakarta. Inilah pertama kali kisah itu diceritakan. Masuki pintu ini. Ikuti petualangan mereka menemukan Mystery of Batavia!
Paragraf di atas adalah pembuka website Mystery of Batavia, sebuah program yang diluncurkan oleh British Council bekerja sama dengan para seniman Indonesia dan Inggris. Beberapa kalimat di paragraf tersebut mungkin membuat kita bertanya-tanya. Ruang rahasia? Harta karun? Ini fiksi apa bukan ya?
Jadi gini loh ibu-ibu :D Sebenarnya memang ada sebuah ruangan di dalam Museum Sejarah Jakarta (yang juga biasa disebut Museum Fatahillah) yang berisi mural besar. Mural ini adalah karya seniman Harijadi Sumodidjojo, yang ia mulai tahun 1973, setahun sebelum museum Fatahillah resmi dibuka. Namun kabarnya dana untuk melanjutkan proyek ini sempat tersendat dan sehingga Harijadi tidak bisa melanjutkannya. Bahkan, sebelum mural yang penuh warna dan ‘cerita’ ini selesai dibuat, beliau keburu meninggal dunia.
Selama 30 tahun, ruangan berisi mural tersebut ‘tersembunyi’ dan nyaris tidak diketahui oleh masyarakat, sampai akhirnya sekelompok seniman asal Inggris dan Indonesia menemukannya secara tidak sengaja pada tahun 2010. Mural ini, yang seolah menyimpan begitu banyak kisah dan misteri tentang Jakarta tempoe doeloe, menginspirasi mereka untuk membuat sebuah program yang dinamakan Mystery of Batavia. Menurut Yudhi Soerjoatmodjo, program manager British Council Indonesia dan orang pertama yang mendengar tentang mural ini, program Mystery of Batavia dibuat untuk memperkenalkan pengalaman baru berinteraksi dengan sebuah peninggalan sejarah. Dengan menggabungkan teknologi, kreativitas dan sejarah, lukisan ini seolah dibuat ‘hidup’.
Salah satu bagian mural karya Harijadi Sumodidjojo. Photo courtesy of Rere FD
Hari Sabtu kemarin, saya dan teman-teman di kantor serta teman-teman Mommies Daily dan Fashionese Daily, datang ke Museum Sejarah Jakarta untuk menonton pertunjukan Animated Interactive Mystery of Batavia. Sebelumnya kami sempat masuk ke ruangan mural dan melihat sendiri karya seni yang menjadi inspirasi dari program ini. It was truly a sight to see. Agak susah menggambarkannya dengan kata-kata, karena begitu ‘kaya’-nya mural ini dengan detil dan cerita. Butuh waktu lama untuk menyelami setiap bagian dari mural yang besarnya hampir satu ruangan ini. Yang menarik, ternyata walaupun muralnya tidak selesai, sebagian besar dinding ruangan sudah digambar sketsa oleh Harijadi, tapi sketsa-sketsa tersebut belum diberi warna. Di ruangan tersebut juga tersedia beberapa unit komputer yang di dalamnya sudah berisi replika dari mural ini dan kita bisa melihat detil dari tiap gambarnya melalui komputer tersebut.
Interactive Animated performance-nya sendiri merupakan kolaborasi British Council dengan Teater Koma. Durasinya hanya sekitar 20 menit, namun yang seru, kita tidak akan hanya menonton pertunjukan, tapi bisa ikut terlibat di dalamnya (makanya dinamakan interactive :D). Pertunjukan ini juga menggunakan teknologi yang cukup canggih, di mana lukisan S. Harijadi ditampilkan melalui visualisasi komputer dan tokoh-tokoh di dalamnya bisa bergerak dan bicara! Dijamin si kecil pasti terkagum-kagum melihatnya deh. Tapi perlu saya tambahkan, bahwa tidak semua adegan di pertunjukan ini cocok untuk anak-anak balita. Jadi sebaiknya sih, anak-anak yang sudah cukup besar saja yang dibawa masuk, sementara yang kecil bisa menikmati suasana Jakarta tempoe doeloe di luar ruangan pertunjukan. Tentunya dengan ditemani orang dewasa ya.
Saya dan Amalia bersama para pemain Teater Koma seusai pertunjukan Mystery of Batavia
Berkunjung ke Museum Fatahillah serta menikmati program Mystery of Batavia membuat saya menyadari, bahwa banyak sekali cerita yang tersimpan di kota tempat kita tinggal ini yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Sejak sering membuka website Mystery of Batavia, saya jadi agak ketagihan membaca bagian History and Myth, yang isinya berupa penggalan kisah-kisah seputar kehidupan masyarakat Batavia di masa lampau. Pastinya bisa jadi hal seru juga yang bisa kita ceritakan ke anak-anak ya moms!
Mommies, ajak si kecil yuk, keliling kota tua! Kita sama-sama belajar tentang sejarah kota Jakarta dengan cara yang fun dan menarik, sekaligus menikmati akhir pekan yang ‘beda’! Rencananya, kita akan sama-sama naik bus ke Kota Tua dari FX Sudirman, kemudian mengunjungi beberapa museum yang ada di daerah tersebut, dan tentunya mampir ke Museum Sejarah Jakarta untuk menonton pertunjukan Mystery of Batavia. Biayanya cuma 100 ribu rupiah per keluarga (terdiri dari maksimal 4 orang) yang sudah termasuk transportasi, tiket masuk museum dan snack serta minuman.

Google Earth Menemukan Rahasia Terlarang Arkeologi Arab Saudi


 Seorang arkeolog telah mengidentifikasi hampir 2.000 situs penting di Arab Saudi menggunakan Google Earth, walaupun mereka tidak pernah mengunjungi negara itu.

David Kennedy, seorang profesor klasik dan sejarah kuno di University of Western Australia, menggunakan peta satelit Google Earth untuk menentukan 1.977 situs arkeologi potensial, termasuk 1.082 titik air mata batu berbentuk kuburan.

"Saya belum pernah ke Arab Saudi," kata Dr Kennedy. "Ini bukan negara termudah untuk masuk."

Dr Kennedy mengatakan kepada New Scientist bahwa ia telah meverifikasi gambar yang menunjukkan situs arkeologi aktual dengan meminta seorang teman yang bekerja di Kerajaan untuk memotret lokasi. Penggunaan satelit udara dan pencitraan telah digunakan di Inggris untuk mencari situs Romawi di Inggris, serta garis Nazca di Peru dan reruntuhan Maya di Belize.

Tapi beberapa arkeolog telah diberi akses ke Arab Saudi. ketakutan Kerajaan pada Ulama garis keras yang mungkin memusatkan perhatian pada peradaban yang berkembang ada sebelum munculnya Islam - dan dengan demikian dalam jangka panjang dapat merusak agama negara.

Pada tahun 1994, sebuah dewan ulama Saudi melaporkan telah mengeluarkan dekrit yang menyatakan bahwa untuk melestarikan situs sejarah "bisa mengarah pada politeisme dan penyembahan berhala".

Penguasa Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir telah memperbolehkan arkeolog untuk menggali beberapa situs, termasuk reruntuhan spektakuler tetapi sedikit-diketahui Maidan Saleh, sebuah kota tua yang ditandai 2.000 batas selatan peradaban Nabataean.

Apakah Anak Anda Tergolong Anak-anak Indigo ?



Apakah Anak Anda Tergolong Anak-anak Indigo ? Sebelum kita membahas tentang anak-anak indigo, alangkah baiknya kita mengetahui dulu mengenai warna indigo yang dimaksud pada anak-anak indigo. Warna indigo adalah warna yang dominan dari warna aura (warna biru-merah). Warna Indigo menunjukkan cakra mata ketiga, pusat aktivitas dari enerji psychic, yang terbuka pada anak-anak Indigo. Anak-anak Indigo memahami perbedaan yang sangat tipis antara dunia kasat dan dunia spiritual, dan mereka memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari sini, yang orang lain tidak mampu. Kebanyakan perilaku anak Indigo dapat dipahami dari aspek ini.
Definisi anak indigo adalah anak yang menunjukkan seperangkat atribut psikologis baru dan luar biasa, serta menunjukkan sebuah pola perilaku yang pada umumnya tidak didokumentasikan sebelumnya. Pola ini memiliki faktor-faktor unik yang umum, yang mengisyaratkan agar orang-orang yang berinteraksi dengan mereka (para orangtua, khususnya) mengubah perlakuan dan pengasuhan terhadap mereka guna mencapai keseimbangan. Mengabaikan pola-pola baru ini akan kemungkinan besar berarti menciptakan ketidakseimbangan dan frustasi dalam benak dari kehidupan baru yang berharga ini.
Banyak anak-anak sekarang yang terkategorikan sebagai Anak Indigo, juga disebut “Children of the Sun” oleh para ahli dari Amerika. Atau disebut juga sebagai “Millennium Children”. Para ahli mengatakan lebih dari 90% (di lain buku menyebutkan lebih dari 80 %) dari anak-anak di bawah 12 tahun, dan beberapa mengatakan walau dalam persentase yang tidak besar terdapat Indigo dewasa. Anak-anak ini teridentifikasi melalui adanya karakteristik yang unik. Mereka cerdas dan kreatif, namun bersifat sulit diatur pada kekuasaan dan sistem secara umum. Mereka sering disalahdiagnosa sebagai ADD (Attention Deficit Disorder = atau Gangguan Kekurangan Perhatian) atau ADHD (Attention Deficit Hyperaktive Disorder = Gangguan Hiperaktif Kekurangan Perhatian) yang membutuhkan terapi untuk mengatasi sifatnya.
Secara fisik dan emosional mereka sangat sensitif. Mereka juga sangat perhatian dan empati terhadap orang lain, juga beberapa menjadi terlihat tidak berperasaan. Anak Indigo dapat mudah marah dan kasar, mereka membutuhkan keyakinan bahwa dirinya diterima dan memerlukan konseling. Indigo juga mempunyai rasa depresi di usia muda jika mereka merasa tidak mengapa mereka dilahirkan atau merasa tidak mempu berbuat apa-apa untuk memperbaiki dunia.
Bagi Wikimuers yang ingin mengetahui apakah anaknya atau diri sendiri termasuk seorang Indigo, bisa mencocokkan karakteristik anak Indigo dan Indigo dewasa berikut ini. Selain itu biasanya seorang anak Indigo tergolong anak yang istimewa (biasanya memiliki IQ -Intelligence Quotient- lebih dari 120 dan mempunyai kecenderungan mempunyai kemampuan supranatural) namun seringkali mempunyai permasalahan dengan sistem belajar di sekolah pada umumnya.
 Karakteristik Anak Indigo :
1. Mempunyai kesadaran diri yg tinggi, terhubung dengan sumber (Tuhan).

2. Mengerti jika dirinya layak untuk berada di dunia.
3. Mempunyai pengertian yang jelas akan dirinya.
4. Tidak nyaman dengan disiplin dan cara yang otoriter tanpa alasan yang jelas.
5. Menolak mengikuti aturan atau petunjuk.
6. Tidak sabaran dan tidak suka bila harus menunggu.
7. Frustasi dengan sistem yang sifatnya ritual dan tidak kreatif.
8. Mereka punya cara yg lebih baik dlm menyelesaikan masalah.
9. Sebagian besar adalah orang yg menimbulkan rasa tidak nyaman.
10. Tidak bisa menerima hukuman yang tanpa alasan, selalu ingin alasan yang jelas.
11. Mudah bosan dengan tugas yg diberikan.
12. Kreatif.
13. Mudah teralihkan perhatiannya, bisa mengerjakan banyak hal bersamaan.
14. Menunjukan intuisi yang kuat.
15. Punya empati yang kuat terhadap sesama, atau tidak punya empati sama sekali.
16. Sangat berbakat dan rata-rata sangat pintar.
17. Saat kecil sering diidentifikasi menderita ADD / ADHD (Atenttion Defisit Disorder = susah konsentrasi) / ADHD (Attention Defisit and Hyperactive Disorder = hiperaktif).
18. Mempunyai visi dan cita-cita yang kuat.
19. Pandangan mata mereka terlihat, bijaksana, mendalam dan tua.
20. Mempunyai kesadaran spiritual atau mempunyai kemampuan psikis.
21. Mengekspresikan kemarahan dan mempunyai masalah dengan menahan amarah.
22. Membutuhkan dukungan untuk menemukan diri mereka.
23. Berada di dunia untuk merubah dunia, untuk membantu kita hidup dalam keharmonisan dan damai antara yg satu dengan yg lain dan meningkatkan getaran planet.
Karakteristik Indigo Dewasa


1. Mereka pintar walaupun tidak selalu berada di tingkatan paling atas.
2. Kreatif dan sangat menikmati menciptakan sesuatu.
3. Selalu ingin tahu kenapa, khususnya jika mereka disuruh melakukan sesuatu.
4. Muak akan pekerjaan yang banyak dan berulang-ulang di sekolah.
5. Pemberontak di sekolah, menolak mengerjakan tugas dll. atau ingin memberontak tapi tidak berani karena ada tekanan dari orang tua.
6. Punya masalah dengan keberadaan, seperti tidak diterima, atau terasing. Biasanya menimbulkan perasaan ingin bunuh diri, tapi tidak benar-benar melakukannnya.
7. Punya masalaha dengan amarah.
8. Tidak nyaman dengan politik karena merasa suara mereka tidak dihitung, dan tidak peduli dengan hasil yang keluar.
9. Frustasi dengan budaya Amerika tradisional.
10. Tidak terima bila hak-hak mereka diambil atau diinjak-injak.
11. Punya hasrat yang membara untuk merubah dunia, tapi kesulitan menemukan jalurnya.
12. Mempunyai ketertarikan akan hal spiritual dan kemampuan psikis saat usia muda.
13. Punya beberapa "Role model" Indigo.
14. Punya intuisi yang kuat.
15. Punya sifat atau jalan pikir yang tidak biasa, sulit fokus pada tugas, atau meloncat-loncat di tengah pembicaraan.
16. Pernah mengalami pengalaman spiritual, psikis dll.
17. Sensitif terhadap yg berhubungan dgn listrik.
18. Mempunyai kesadaran akan dimensi lain.
19. Secara seksual sangat ekspresif atau malah menolak seksualitas aga bisa mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
20. Mencari arti hidup mereka dan mengerti tentang dunia, mereka bisa mencarinya dengan melalui agama, buku dll.
21. Waktu mereka merasa diri mereka seimbang, mereka akan menjadi kuat, sehat, dan individu yang bahagia.
Bagi Wikimuer yang ingin memperoleh penjelasan lebih jauh mengenai anak-anak Indigo dan permasalahan di seputar keindigoan seseorang bisa mendapatkan di (sekaligus juga merupakan referensi tulisan saya ini) :
- Buku The Indigo Children, Anak-anak Baru Itu Telah Datang oleh Lee Carrol & Ja Tober
- Buku 17 Emosi Negatif Anak Indigo, Terapi Mental da Perilaku oleh Wayne Dosick, Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW
- Link ke situs-situs berikut :
http://www.indigoindonesia.com/
www.starchild.co.za/what.html
- Khusus pembahasan mengenai cakra dapat dilihat di link :
http://www.uduryna.com/Chakras-Diagnostic-Guide.pdf
http://www.ascendpress.org/PDF-files/Chakras5.pdf

Saturday, December 3, 2011

Syekh Subakir, Babad Tanah Jawa


Dalam legenda yang beredar di Pulau Jawa dikisahkan, Sudah beberapa kali utusan dari Arab, untuk menyebarkan Agama Islam di tanah Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya telah gagal secara makro. Disebabkan orang-orang Jawa pada waktu itu masih kokoh memegang kepercayaan lama. Dengan tokoh-tokoh gaibnya masih sangat menguasai bumi dan laut di sekitar P Jawa. Para ulama yang dikirim untuk menyebarkan Agama Islam mendapat halangan yang sangat berat, meskipun berkembang tetapi hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. Secara makro dapat dikatakan gagal. Maka diutuslah Syeh Subakir untuk menyebarkan agama Islam dengan membawa batu hitam yang dipasang di seantero Nusantara, untuk tanah Jawa diletakkan di tengah-tengahnya yaitu di gunung Tidar . Efek dari kekuatan gaib suci yang dimunculkan oleh batu hitam menimbulkan gejolak, mengamuklah para mahluk : Jin, setan dan mahluk halus lainnya. Syeh Subakirlah yang mampu meredam amukan dari mereka. Akan tetapi mereka sesumbar dengan berkata: “ Walaupun kamu sudah mampu meredam amukan kami, kamu dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, tetapi Kodratullah tetap masih berlaku atas ku ingat itu wahai Syeh Subakir.” “Apa itu?” kata Syeh Subakir. Kata Jin, “Aku masih dibolehkan untuk menggoda manusia, termasuk orang-orang Islam yang imannya masih lemah”.
 Syekh Subakir berasal dari Iran ( dalam riwayat lain berasal dari Rum). Syekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang  diutus oleh  Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey,  untuk berdakwah di  pulau Jawa pada tahun 1404,  mereka  diantaranya:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat.

Legenda Joko Tingkir 2


Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir. Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.

Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kesultanan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).


Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati Sultan Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru (saudara seperguruan ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.

Saat itu Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang sudah diberi mantra. Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan Sultan di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam naskah-naskah babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati Sultan kembali.

Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai bupati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana.
Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, putranya yang bergelar Sunan Prawoto naik takhta, tapi kemudian tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang juga membunuh Pangeran Kalinyamat, menantu Sultan Trenggana yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian Arya Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Arya Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak.
Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan Mataram sebagai hadiah.
Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga menewaskan Arya Penangsang di tepi Bengawan Sore.
Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Ratu Kalinyamat menyerahkan takhta Demak kepada Adiwijaya. Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai sultan pertama.
Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.

Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Sultan Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya saat ia dilantik menjadi sultan usai kematian Arya Penangsang.

Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.
Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.

Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijaya dengan para adipati Bang Wetan. Sunan Prapen berhasil meyakinkan para adipati sehingga mereka bersedia mengakui kedaulatan Kesultanan Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir
Sutawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.

Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Sultan Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.

Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.

Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Sultan Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak.
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang, bergelar Sultan Ngawantipura
Sayyidina Abdurrohman (Jaka Tingkir), salah satu garis keturunannya…

**Sayyidina Abdul Halim (P. Benawa),
** Sayyidina Abdurrohman (P. Samhud Bagda),
** Sayyidina Abdul Halim,
** Sayyidina Abdul Wahid,
** Sayyidina Abu Sarwan.
** Sayyidina KH. As’ari,
** Sayyidina KH. Hasyim As’ari
** Sayyidina KH. Abdul Wahid Hasyim
**KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Jejak Joko Tingkir



joko tingkir Komplek Pemakaman Butuh di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, terletak sekitar 10 kilometer dari Kota Solo. Jalan menuju ke pemakaman itu tidak terlalu bagus. Jalannya berlubang-lubang dan sempit, sekitar tiga hingga empat kilometer dari kompleks pemakaman itu. 
Suasana di kompleks pemakaman sangat teduh. Sebuah pohon besar berdiri tegak menaungi masjid kecil bercat krem yang cukup terawat. Jalan masuk menuju gerbang pemakaman yang berlapis semen juga rapi dan bersih. Meski demikian, kesan bersahaja tetap tampak jelas.


Di kompleks inilah terletak makam penguasa Keraton Pajang (1550-1582) yang bergelar Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Pria yang pada masa kecilnya bernama Mas Karebet ini dikenal sebagai salah satu cikal bakal raja Jawa. Kerajaan yang dipimpinnya adalah embrio kerajaan Mataram yang selanjutnya berkembang lagi menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Untuk masuk ke bagian dalam kompleks pemakaman, pengunjung harus melepaskan alas kaki. Di sebelah dalam kompleks pemakaman yang dikelilingi tembok itu terdapat lebih dari 20 pusara. Sembilan pusara di antaranya berada di dalam rumah tua yang ada di dalam kompleks pemakaman. Pusara Joko Tingkir berada pada bagian tengah rumah. Di dalam rumah yang alasnya sudah bertegel itu juga terdapat pusara orangtua Joko Tingkir, yakni Ki Kebo Kenanga dan Nyi Kebo Kenanga.
Selain pusara, di halaman kompleks pemakaman terdapat kotak kaca yang di dalamnya berisi batang kayu yang sudah kropos. Batang kayu tua ini diyakini pernah dipakai Joko Tingkir pada abad ke-16 saat menuju Butuh melalui Bengawan Solo untuk berguru pada Ki Ageng Butuh. Sama dengan ayah Joko Tingkir, Ki Kebo Kenanga, Ki Ageng Butuh juga berguru pada Syeh Siti Jenar, tokoh sufi yang dihukum mati oleh Wali Songo.

Perjalanan hidup Joko Tingkir yang pernah menjadi raja menyebabkan makamnya kerap dikunjungi orang, mulai dari rakyat jelata hingga pejabat di daerah maupun di pusat. Bahkan, tidak sedikit orang yang secara khusus bersemadi selama berhari-hari di makam yang dianggap keramat.
Selain itu, orang sering mendatangi makam tokoh, seperti Joko Tingkir, karena raja dalam tradisi Jawa bukan sembarang orang. Ia harus kejatuhan wahyu kedaton terlebih dahulu.
Dengan kata lain, seseorang harus mendapat anugerah dari kekuatan adikodrati sebelum menduduki takhta kekuasaan. Lebih dari itu, seorang raja juga harus memiliki kedekatan dengan kekuatan adikodrati.
Tak mengherankan, kisah raja yang sebelum berkuasa mendapat anugerah adikodrati dan berkemampuan membina hubungan secara kontinu dengan penguasa alam gaib sangat sering didapati dalam legenda raja Jawa.

SEORANG pemuda asli Kota Solo, Adam (21), mengatakan, ia pernah semadi di makam Joko Tingkir selama dua hari saat usianya masih 17 tahun. Tidak ada keinginan apa pun yang melandasinya untuk nglakoni (laku) di makam Joko Tingkir selain rasa ingin nglakoni itu sendiri. “Waktu itu malam Jumat Kliwon. Saya hanya sanggup semalam,” ujarnya.
Seorang kerabat dekatnya, menurut Adam, juga pernah melakukan semadi di kompleks pemakaman Joko Tingkir. Berbeda dengan Adam yang hanya bertahan semalam, kerabat dekat Adam ini sanggup hingga sebelas malam berturut-turut. “Orang yang nglakoni di makam Joko Tingkir biasanya memang didorong motivasi yang bermacam-macam,” ujarnya.
Adam mengaku tidak mau mengharapkan apa pun dari lakunya di makam Joko Tingkir karena takut melawan hukum agamanya, yakni Islam. “Orang hanya boleh berharap berkah dari Allah, tidak dari makam dan lain sebagainya. Apa yang saya lakukan hanya sebatas untuk nglakoni, sekaligus berdoa bagi leluhur,” ujar pria muda yang konon memiliki garis keturunan Joko Tingkir ini.
Juru kunci makam Joko Tingkir, Jono (56), mengungkapkan, selain sekadar untuk nyekar (menaburkan kembang), orang-orang yang datang ke makam Joko Tingkir ada pula yang berharap mendapat petunjuk mengenai masa depannya. Meski demikian, selama belasan tahun menjaga makam itu, ia merasa tidak pernah menemui hal-hal yang bersifat gaib.

Meski jumlahnya semakin sedikit, laku tapa prihatin sangat erat dalam kehidupan orang Jawa, terutama mereka yang sungguh-sungguh menghayati kejawen. Bentuk laku tapa, seperti puasa, menyepi, kungkum (berendam di mata air) saat malam hari, diyakini dapat menghantarkan orang untuk aneges karsa atau mengetahui kehendak Tuhan atas dirinya.
Aneges karsa itulah sebenarnya yang dibutuhkan manusia. Kesibukan, kebisingan, gelora nafsu dalam diri, membuat manusia kerap gagal memahami kehendak Yang Kuasa atas dirinya. Aneges karsa hanya bisa dicapai lewat hening sekaligus kerendahan hati.
Kisah Joko Tingkir yang membatalkan niatnya untuk membalas dendam atas kekalahannya dari Sutawijaya memperlihatkan sikap pasrah pada kehendak Yang Kuasa. Ia mau rendah hati dan menyingkirkan nafsu kekuasaannya. Ia bersedia menjalani apa yang menjadi tugas dalam hidupnya, yakni mengajar rakyat dan mengembangkan tradisi baru di tengah masyarakat.

Sarana alam untuk mengatasi Pelet :


1. dari unsur batu-batuan :

- Batu Crystal Quartz ( kinyang air ),
ini untuk cincin atau kalung.
sebab alasan, batu ini sangat menyukai untuk menyerap energy negatif
juga berfungsi untuk grounding ke bumi, sebagaimana kita ketahui,
orang yg selalu dekat ke bumi diyakini tak akan bisa kena gangguan sihir...
dan pelet ialah diantara bagian dari ilmu sihir/guna-guna

- Batu Sulaiman Mata,
ini juga terkenal di Sumatera barat,
sebagai pegangan untuk menyelamatkan diri dari gangguan gaib,
juga karena diyakini guratan berbentuk lingkaran yg semakin jelas
akan membuat kekuatan batu itu semakin kuat untuk mengatasi gangguan gaib.

- Batu Galih Kelor,
ini juga jamak diyakini kalangan praktisi gaib,
untuk menghancurkan/menetralir pengaruh guna-guna yg dibikin orang.

- Batu akik Darah,
ini diyakini untuk menguatkan syaraf dan darah
sehingga diri kita akan kuat dalam menerima pengaruh guna-guna yg dibuat orang

- Batu mustika apa saja,
ialah sama berfungsi sebagai proteksi
bahkan mampu untuk menyeleraskan kembali ketidakseimbangan pada jiwa kita,
akibat pengaruh guna-guna

- Batu Akik Yaman,
dan inilah yg terkuat dari kalangan perbatuan
yg mampu mengatasi gangguan jin dan guna-guna tingkat tinggi,
sebagian ahli hikmah menyatakan, karena batu ini ialah padanan dari ilmu jaljalut.
dan jaljalut sangat keras dalam memerangi sihir.