Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Sabtu, 24 Maret 2012

"Hitam-Putih Tenun Toraja"


Tenun Toraja kini terancam punah karena tidak terjadi regenerasi penenun. Di Kampung Sa’dan, yang menjadi sentra tenun, kini tinggal 70 perajin saja yang berproduksi.
Aneka tenun tradisional Indonesia seolah tidak akan habis ditelusur. Selain dikenakan sebagai busana sehari-hari, di beberapa etnis, tenun juga menjadi busana utama saat berlangsung upacara adat ataupun hari besar keagamaan. Itulah sebabnya banyak ragam tenun di penjuru Nusantara ini. Pada suatu masa, corak kain tenun yang menjadi primadona dapat digunakan sebagai alat tukar jual-beli. Namun, kain-kain buatan masa lampau tersebut tidak bisa lagi kita nikmati saat ini, selain tidak lagi diproduksi, daya tahan seratnya luruh karena suhu dan kelembaban iklim tropis.
Begitu pun tenun asal Toraja. Sudah banyak ragam dan motifnya yang tidak diketahui lagi oleh para penerus zaman. Padahal, tenun Toraja memiliki sejarah ragam tekstil sebagai salah satu perlengkapan upacara adat kematian Toraja.
Ribuan tahun yang lalu, tenun Toraja dibuat dari kulit kayu. Kemudian material tersebut berubah lebih maju menjadi serat nanas. Konon, kain tersebut lebih sering digunakan untuk membungkus mayat karena daya serapnya tinggi. Setelah pedagang India dan Gujarat mendarat di Palopo—pantai barat Toraja sekitar 60 kilometer dari Rantepao— dikenallah campuran kapas. Kemudian kain tenun dibuat dari serat nanas yang ditambahkan serat kapas tanpa dipintal sehingga bahannya sedikit lembut. Kain tenun tersebut sudah berfungsi sebagai penutup badan.
Awal mulanya produksi kain tenun Toraja memang sulit diketahui secara pasti, kapan kegiatan menenun itu dilakukan dengan alat apa mereka menenun dan bagaimana warna serta ragam corak yang dihasilkan. Konon, menenun dimulai setelah masyarakat Toraja membangun rumah tinggal yang representatif dan dapat menjadi tempat kegiatan (Said, 2004: 152). Dalam menciptakan corak dan motif untuk menghias tenun, beberapa tokoh Toraja berkeyakinan bahwa ragam tersebut diperoleh dari meniru motif ukiran yang terdapat di tongkonan—rumah adat. Namun, jika melihat perkembangan zaman dan peradaban, motif garislah yang lebih dulu ada dibandingkan tongkonan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat