Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Selasa, 11 Desember 2012

*1Museum Taman Prasasti – Sejuta Kisah Hunian Terakhir1*

Museum Taman Prasasti membuat kita berdecak kagum. Ada keindahan batu nisan yang bertutur tentang hunian terakhir sebuah peradaban masa lampau. Ada ratusan cerita tersembunyi di balik bongkahan-bongkahan bangunan kuno yang memaksa kita selalu mengingat sejarah.
Pada abad ke-18, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan banyak bangunan dengan gaya arsitektur yang menggambarkan keindahan serta kekokohan sistem pertahanan. Kawasan itu lantas dijuluki “Ratu dari Timur” atau dalam bahasa Belandanya ‘Koningin van het Oosten’. Setiap gedung didirikan untuk memenuhi kebutuhan para kaum penjajah yang memiliki gaya hidup berbeda dengan lingkungan sekitarnya.
Pemakaman merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus disediakan. Dalam tradisi Eropa, jasad orang meninggal biasanya dimakamkan dalam tanah, tidak diperabukan seperti Golongan Tionghoa yang juga tinggal di kawasan itu. Kemungkinan karena pertimbangan keamanan, kuburan orangorang Belanda (Graf der Hollanders) juga dibangun di dekat kawasan pertahanan bukan di tempat lain yang berjauhan.
Mula-mula ada tempat pemakaman khusus, de Oude Nieuwe Hollandsche Kerk, di areal gereja tua yang kini jadi Museum Wayang. Namun, pada akhir abad ke-18 kuburan ini penuh sehingga pemakaman harus dipindahkan ke luar kota pertahanan Batavia. Tempat ini disebut Kerkhof Laan atau Kebon Jahe Kober.  Mereka yang meninggal harus diangkut dengan sampan menuju tempat ini.
Prosesinya kira-kira sebagai berikut. Bila ada warga Belanda yang meninggal, jenazahnya dibawa ke rumah sakit yang kini telah berubah menjadi Museum Bank Indonesia di kawasan Beos, Jakarta Kota. Pihak rumah sakit menyediakan perahu untuk jenazah yang didayung sepanjang Kali Krukut. Perahu-perahu sewaan juga ikut mengiring di belakang, biasanya mengangkut para pelayat yang terdiri dari keluarga dan kerabat lainnya.
Iring-iringan perahu jenazah tersebut berhenti di Jalan Abdul Muis persis di belakang Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika. sekarang ini. Peti jenazah kemudian diangkat dari atas sampan dan dipindahkan ke sebuah kereta yang ditarik kuda.  Jumlah kuda yang menarik kereta itu ditentukan oleh tingkat kemakmurannya. Semakin makmur orang yang meninggal, semakin banyak pula jumlah kuda penariknya. Pada saat pemindahan dilakukan, lonceng di pemakaman berbunyi sekali. Ini adalah perintah kepada pengurus pemakaman untuk bersiap-siap.  Selanjutnya, lonceng itu terus berbunyi sampai iringan jenazah tiba di gerbang pemakaman yang mengambil corak arsitek Doria itu.
Luas Jalan Kubur, atau Kerkhof Laan, mencapai 5,9 hektar. Semenjak dibuka pada 1795, orang-orang yang punya kedudukan tinggi dan terkenal semasa hidupnya dimakamkan oleh keluarga dan kerabatnya di sini. Mereka umumnya beragama Nasrani, baik Katolik maupun Protestan. Pemerintah daerah Jakarta menutupnya pada 1975. Sebagian lahannya diambil untuk gedung-gedung pemerintah. Kerangka jenazah yang telah lama dikubur dipindahkan ke tempat lain. Sebagian ke kompleks pekuburan Menteng Pulo, sejumlah besar lainnya dibawa pulang ke negeri asal mereka. Gubernur Jakarta Ali Sadikin lalu memerintahkan aparatnya untuk mengubah sisa area Kebon Jahe Kober menjadi Museum Taman Prasasti dan meresmikan pada 9 Juli 1977.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat