Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Tuesday, December 11, 2012

*1Merekam Jejak Nias1*


Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa
Tak sia-sia Johannes meninggalkan Jerman. Jerih payah sang pastor terlunasi dengan berdirinya museum ini.
Museum Pusaka Nias (Museum of Nias Heritage) yang terletak di Jl Yos Sudarso No. 134 A, Gunungsitoli, ibarat ‘gudang ilmu dan sejarah’. Pasalnya di tempat ini, kita bisa memahami Nias dengan segala unsurnya.  Berbagai koleksi benda penting terpelihara dengan baik. Mulai dari artefak alat-alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisional, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan sampai rumah adat asli Nias yang disebut Omo Hada.
Ironisnya, meski menyandang nama Museum Pusaka Nias, namun pendiri museum ini bukanlah asli orang Nias ataupun dilakukan pemerintah daerah setempat. Pendiri museum yang kelengkapan koleksinya sudah diakui dunia internasional ini, justru dilakukan seorang pastor berkebangsaaan Jerman, bernama Johannes Maria Hammerle OFMCap. “Saya mendirikan museum ini pada awal 1991,” ucap pastor kelahiran 9 Juli 1941 di Hausach, Black Forest, Jerman Barat ini.
Diakui, membangun museum bukanlah sesuatu yang direncanakannya. Terlebih, sebelum menginjakkan kaki di Tana Niha (Tanah Nias), dia tidak pernah mengetahui Kepulauan Nias itu seperti apa. Sekadar membalik kisah, Johannes tiba di Nias pada 1971 sebagai misionaris. Dia diutus gerejanya di Jerman untuk menggali ilmu di tanah seberang.  “Sebenarnya, kalau boleh memilih, saya pilih Sumatera. Tapi, ini sudah panggilan buat saya,’’ ujarnya.

*1Markas Mumi Penjaga Tradisi1*

Sudah sejak 1.700 tahun lalu masyarakat Toraja memiliki cara unik memakamkan jenazah, yakni dengan meletakkan begitu saja di tebing atau gua marmer. Lewat doa kepada Deata dalam kepercayaan Aluk Todolo, jenazah itu tidak berbau meski tanpa pembalseman.
Meskipun dinaungi rimbun pepohonan dan hawa dingin pegunungan, tidak membuat kompleks makam tua di Toraja ini angker, apalagi mistis. Padahal, tulang-belulang manusia berserak di sanasini. Kete Kesu’ begitulah orang Toraja menyebut situs pekuburan di Kecamatan Kesu’, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, ini.
Menurut sejarah kuno Toraja, situs ini sudah dijadikan pekuburan sejak ribuan tahun lalu. Diprediksi demikian karena begitu sampai di tengah situs, kita akan menemui tulang-belulang berserakan di tangga menuju gua. Menurut Arkeolog Toraja Marla Tandirerung, fosil itu merupakan tulang bangsawan hingga budak yang hidup di sejumlah tongkonan di Wilayah Adat Kesu’.
Dahulu, Suku Toraja tidak mengubur jenazah orang yang meninggal, tetapi ditaruh saja di sekitar gua. Alasannya, selain peradaban manusia belum berkembang, mereka senantiasa bisa tetap menjaga peninggalan leluhur yang turut dibawa ke kuburan. Di Kete Kesu’, tidak hanya bangsawan yang menjadikan situs itu sebagai kuburan, tetapi orang biasa yang bekerja pada bangsawan itu juga dimakamkan.
Ketua Adat Wilayah Kesu’ Layuk Sarongallo juga bercerita demikian. Seraya mendongengkan kehidupan leluhur Toraja, Kete Kesu’ merupakan areal pemakaman gunung batu yang terbentuk alami. Masyarakat primitif tidak lagi memerlukan peralatan untuk menyimpan jenazah dan memanfaatkan gua-gua alam sebagai tempat peristirahatan terakhir keluarga mereka.
Hal tersebut diperkirakan terjadi sejak 1.700 tahun yang lalu. Mayat ditempatkan di gua-gua hanya ditutupi kulit kayu yang sudah diketam untuk sekujur badan. Namun, anehnya, tidak sedikit pun bau bangkai menyengat hidung. Layuk menjelaskan, ajaran Aluk Todolo yang dianut Suku Toraja memang berdoa kepada Deata agar bau-bau tersebut dihilangkan dari tanah mereka tinggal. Alasan lain yang bisa terlihat dari hilangnya bau busuk di pekuburan ini, yaitu gunung yang terbentuk dari marmer tersebut mengalirkan hawa dingin sehingga mayat seperti dimasukkan ke dalam pendingin. Karena itu, sekarang Toraja dikenal memiliki banyak mumi. Dalam areal Kete Kesu’, ada tiga tipe kuburan atau liang dalam bahasa Toraja, antara lain ditempatkan di gua dan tebing, lalu diukirlah kayu menjadi erong, dan yang paling baru adalah patane (kuburan modern).

*1Down to the River1*


Yudasmoro
Sebuah iklan televisi swasta pernah menarik perhatian saya. Adegan seorang ibu dengan acungan jempolnya yang khas. Dengan biduk kecil, ia menjajakan dagangannya menerabas beberapa perahu yang memuat sayur-mayur dan buah-buahan.  Itulah Pasar Apung Muara Kuin di Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Adalah Pak Johan, pria ramah berusia sekitar 40 tahunan yang senang ngobrol dan ramah ini, yang banyak bercerita tentang pasar apung. Beliau adalah pemilik Borneo Homestay yang menjadi tempat saya menginap selama saya berkunjung ke Banjarmasin. Deretan simbol bendera negara-negara di dunia dan semboyan “home for backpackers” di bagian depan mempertegas bahwa penginapan ini menjadi langganan para wisatawan berkantong “tipis” (budget traveller) dari seluruh dunia.  Tempatnya memang sangat sederhana, tetapi para tamu yang menginap di sini sebagian besar adalah backpacker bule.
“Nama saya ada di Lonely Planet kok bersama homestay ini,” kata Pak Johan. Sebetulnya ada 2 pasar apung di Banjarmasin, yaitu Lok Baintan dan Muara Kuin.  Berdasarkan keterangan Pak Johan, pasar apung tradisional yang masih asli adalah Lok Baintan. Hal itu karena Pasar Apung Muara Kuin sengaja dibuat oleh pemerintah untuk keperluan pariwisata. Bertambahnya infrastruktur darat membuat kegiatan pasar apung kini bahkan mulai terancam oleh pasar darat. Apalagi, semakin banyaknya jembatan yang dibangun kini mulai mengancam potensi wisata sungai. “Kota seribu sungai ini bisa berubah jadi kota seribu jembatan,” keluh Pak Johan.

*1Museum Taman Prasasti – Sejuta Kisah Hunian Terakhir1*

Museum Taman Prasasti membuat kita berdecak kagum. Ada keindahan batu nisan yang bertutur tentang hunian terakhir sebuah peradaban masa lampau. Ada ratusan cerita tersembunyi di balik bongkahan-bongkahan bangunan kuno yang memaksa kita selalu mengingat sejarah.
Pada abad ke-18, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan banyak bangunan dengan gaya arsitektur yang menggambarkan keindahan serta kekokohan sistem pertahanan. Kawasan itu lantas dijuluki “Ratu dari Timur” atau dalam bahasa Belandanya ‘Koningin van het Oosten’. Setiap gedung didirikan untuk memenuhi kebutuhan para kaum penjajah yang memiliki gaya hidup berbeda dengan lingkungan sekitarnya.
Pemakaman merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus disediakan. Dalam tradisi Eropa, jasad orang meninggal biasanya dimakamkan dalam tanah, tidak diperabukan seperti Golongan Tionghoa yang juga tinggal di kawasan itu. Kemungkinan karena pertimbangan keamanan, kuburan orangorang Belanda (Graf der Hollanders) juga dibangun di dekat kawasan pertahanan bukan di tempat lain yang berjauhan.
Mula-mula ada tempat pemakaman khusus, de Oude Nieuwe Hollandsche Kerk, di areal gereja tua yang kini jadi Museum Wayang. Namun, pada akhir abad ke-18 kuburan ini penuh sehingga pemakaman harus dipindahkan ke luar kota pertahanan Batavia. Tempat ini disebut Kerkhof Laan atau Kebon Jahe Kober.  Mereka yang meninggal harus diangkut dengan sampan menuju tempat ini.
Prosesinya kira-kira sebagai berikut. Bila ada warga Belanda yang meninggal, jenazahnya dibawa ke rumah sakit yang kini telah berubah menjadi Museum Bank Indonesia di kawasan Beos, Jakarta Kota. Pihak rumah sakit menyediakan perahu untuk jenazah yang didayung sepanjang Kali Krukut. Perahu-perahu sewaan juga ikut mengiring di belakang, biasanya mengangkut para pelayat yang terdiri dari keluarga dan kerabat lainnya.
Iring-iringan perahu jenazah tersebut berhenti di Jalan Abdul Muis persis di belakang Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika. sekarang ini. Peti jenazah kemudian diangkat dari atas sampan dan dipindahkan ke sebuah kereta yang ditarik kuda.  Jumlah kuda yang menarik kereta itu ditentukan oleh tingkat kemakmurannya. Semakin makmur orang yang meninggal, semakin banyak pula jumlah kuda penariknya. Pada saat pemindahan dilakukan, lonceng di pemakaman berbunyi sekali. Ini adalah perintah kepada pengurus pemakaman untuk bersiap-siap.  Selanjutnya, lonceng itu terus berbunyi sampai iringan jenazah tiba di gerbang pemakaman yang mengambil corak arsitek Doria itu.
Luas Jalan Kubur, atau Kerkhof Laan, mencapai 5,9 hektar. Semenjak dibuka pada 1795, orang-orang yang punya kedudukan tinggi dan terkenal semasa hidupnya dimakamkan oleh keluarga dan kerabatnya di sini. Mereka umumnya beragama Nasrani, baik Katolik maupun Protestan. Pemerintah daerah Jakarta menutupnya pada 1975. Sebagian lahannya diambil untuk gedung-gedung pemerintah. Kerangka jenazah yang telah lama dikubur dipindahkan ke tempat lain. Sebagian ke kompleks pekuburan Menteng Pulo, sejumlah besar lainnya dibawa pulang ke negeri asal mereka. Gubernur Jakarta Ali Sadikin lalu memerintahkan aparatnya untuk mengubah sisa area Kebon Jahe Kober menjadi Museum Taman Prasasti dan meresmikan pada 9 Juli 1977.

*Museum Ullen Sentalu – Upaya Penyelamatan Warisan Keraton*1


Para bangsawan keraton Mataram bergotong royong mendirikan museum ini agar masyarakat mengenal tradisi serta kejayaan Kerajaan Yogyakarta dan Solo. Saat Merapi meletus atapnya tertimbun debu setebal 25 sentimeter.
“Saya ingin melihat meja rias kuno milik putri keraton yang katanya ada di sini. Kata temanteman yang pernah melihat sih, cantik. Sudah lama sebenarnya saya kepengin ke sini,” ujar Nurma Wulandari (38) asal Surabaya.
Demikian jawaban salah seorang pengunjung ketika Warisan Indonesia menanyakan apa yang membuat dirinya tertarik mengunjungi Museum Ullen Sentalu. Jauh-jauh dari Surabaya hanya ingin melihat meja rias? Jawaban itu seakan terkesan berlebihan. Namun, jika melihat fenomena umum tentang apresiasi masyarakat terhadap museum, kita tak heran lagi.
Dibanding puluhan museum lain di kawasan Yogyakarta, nasib Ullen Sentalu sedikit lebih beruntung. Tiap hari selalu ada pengunjung yang datang. Mungkin karena letaknya di lokasi wisata favorit, Kaliurang, Yogyakarta. “Sesepi-sepinya pengunjung, tiap hari lima sampai sepuluh orang masih ada,” kata Ria Januar, salah seorang staf museum.
Museum Seni dan Budaya Ullen Sentalu didirikan oleh keluarga Haryono asal Solo. Pendirian museum ini juga didukung oleh Sri Paduka Paku Alam VIII, Sunan Paku Buwono XII, Gusti Kanjeng Ratu Alit, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Poeger, dan Gusti Raden Ayu (GRAy) Nurul Kusumawardhani. Mereka juga sekaligus ikut memberikan material untuk koleksi museum, seperti kain batik, asesoris, foto, dan naskah. Museum ini diresmikan pada 1 Maret 1997 oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Paku Alam VIII yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur DIY.

"*1Museum Taman Prasasti, Serpihan Kisah Nisan-nisan Tua*1"


Ada kisah yang tersembunyi pada nisan-nisan tua bekas kuburan kaum elite masa kolonial. Sayang, salah satu kompleks permakaman paling tua di dunia itu tak terurus. Di situ bersemayam jenazah para gubernur jenderal, panglima perang, hingga aktivis yang mati muda, Soe Hok Gie. Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang massa dari goresan prasasti mereka yang pergi.
Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan. Pesan itu tertulis di batu penanda peresmian Museum Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang 1, Gambir, Jakarta Pusat. Tertanggal 9 Juli 1977 oleh Pejabat Gubernur KDKI Jakarta Letjen TNI (Marinir) Ali Sadikin. Warga sekitar lebih suka menyebutnya Taman Prasasti Kebun Jahe. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan itu adalah sebuah permakaman mewah buat orangorang terpandang saat itu. Namun, Pemerintah DKI Jakarta mengubahnya menjadi museum. Dari kejauhan, museum itu sangat kentara.
Gaya arsitekturnya kontras dengan bangunanbangunan lain di sekitarnya. Delapan belas pilar kokoh yang menjulang tinggi di gerbang amat menyita perhatian. Saat membangun museum ini pada tahun 1844, para perancangnya sengaja mengadopsi arsitektur klasik gaya Doria. Hal yang kerap ditemui di kantor-kantor pengadilan.
Dua meriam perunggu di kanan-kiri museum seolah-olah menyambut para pengunjung. Di pagar sekeliling tembok depan terpajang sekitar 35 nisan dari batu gunung biru atau batu pantai yang keras dari India Selatan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin bagus kualitas batu yang digunakan.
Berbeda dengan museum pada umumnya, Museum Taman Prasasti ini tidak memajang koleksinya di ruang pamer yang berhias sorotan lampu dan ruangan dengan pengatur suhu. Bangunan itu sejatinya memang dirancang sebagai museum terbuka.
Nisan-nisan kuburan orang yang meninggal pada zaman kolonial Belanda pun dibiarkan apa adanya. Namun, ada juga yang sudah diinventaris dan dikelompokkan. Kesan angker dan seram pun sirna dengan suasana rindangnya pepohonan, kicauan burung, bentuk nisan dan patung yang beraneka corak unsur dan bahasa.

Friday, October 12, 2012

"ABG Ditemukan Bugil di Pantai"


 
Pelaku pemerkosaan di Pasuruan dibawa polisi (Dok: Sindo TV/Jaka Samudra)PASURUAN - Seorang siswi SMP diperkosa oleh nelayan di pesisisir pantai di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sebelum diperkosa, korban dicekoki minuman keras.

Korban, warga Desa Pamatan, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, sempat dibawa ke Puskesmas Nguling, Pasuruan, karena ditemukan warga dalam kondisi bugil di pinggir pantai di Dusun Krajan, Desa Kedawang, Kecamatan Nguling.

Gadis yang sebentar lagi menamatkan SMP itu diketahui diperkosa oleh So (23), pada Jumat malam kemarin.

Hasil pemeriksaan, dari mulut remaja berparas cantik tercium minuman keras. Di leher korban, ada bekas cekikan, dan tangan pelaku terapat luka gigitan.

Sementara itu, pelaku berhasil diamankan Kepala Dusun Kedawang, Sobri, kemudian dibawa ke Mapolsek Nguling.

Korban diketahui sudah menghilang dari rumah sejak pekan lalu. Keluarga sempat melaporkan kasus kehilangan tersebut ke Mapolres Probolinggo.

“Sudah dilaporkan ke polisi, tahu-tahu tak sadar setelah diperkosa,” ucap Suhandak, keluarga korban di Mapolsek Nguling, Sabtu (5/5/2012).

Kanit Reskrim Polsek Nguling Iptu Sunyoto mengungkapkan kasus ini dilimpahkan ke Polres Pasuruan untuk diusut lebih lanjut. Korban diduga diculik lebih dulu di Probolinggo.

“Bila dilihat, korban ini diperkosa secara bergilir, karena sempat dibawa oleh teman pelaku dari wilayah Pasuruan dan Probolinggo selama tujuh hari,” ujar Sunyoto.

Monday, September 10, 2012

Museum Taman Prasasti, Serpihan Kisah Nisan-nisan Tua


Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi
Ada kisah yang tersembunyi pada nisan-nisan tua bekas kuburan kaum elite masa kolonial. Sayang, salah satu kompleks permakaman paling tua di dunia itu tak terurus. Di situ bersemayam jenazah para gubernur jenderal, panglima perang, hingga aktivis yang mati muda, Soe Hok Gie. Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang massa dari goresan prasasti mereka yang pergi.
Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan. Pesan itu tertulis di batu penanda peresmian Museum Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang 1, Gambir, Jakarta Pusat. Tertanggal 9 Juli 1977 oleh Pejabat Gubernur KDKI Jakarta Letjen TNI (Marinir) Ali Sadikin. Warga sekitar lebih suka menyebutnya Taman Prasasti Kebun Jahe. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan itu adalah sebuah permakaman mewah buat orangorang terpandang saat itu. Namun, Pemerintah DKI Jakarta mengubahnya menjadi museum. Dari kejauhan, museum itu sangat kentara.
Gaya arsitekturnya kontras dengan bangunanbangunan lain di sekitarnya. Delapan belas pilar kokoh yang menjulang tinggi di gerbang amat menyita perhatian. Saat membangun museum ini pada tahun 1844, para perancangnya sengaja mengadopsi arsitektur klasik gaya Doria. Hal yang kerap ditemui di kantor-kantor pengadilan.
Dua meriam perunggu di kanan-kiri museum seolah-olah menyambut para pengunjung. Di pagar sekeliling tembok depan terpajang sekitar 35 nisan dari batu gunung biru atau batu pantai yang keras dari India Selatan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin bagus kualitas batu yang digunakan.
Berbeda dengan museum pada umumnya, Museum Taman Prasasti ini tidak memajang koleksinya di ruang pamer yang berhias sorotan lampu dan ruangan dengan pengatur suhu. Bangunan itu sejatinya memang dirancang sebagai museum terbuka.
Nisan-nisan kuburan orang yang meninggal pada zaman kolonial Belanda pun dibiarkan apa adanya. Namun, ada juga yang sudah diinventaris dan dikelompokkan. Kesan angker dan seram pun sirna dengan suasana rindangnya pepohonan, kicauan burung, bentuk nisan dan patung yang beraneka corak unsur dan bahasa.

Friday, July 20, 2012

Menapak Tilas Jejak Kesakralan Hindu di Gedongsongo


Diasz Kundi
Kompleks candi ini menyimpan misteri berabad-abad yang belum terjawab. Perjalanan ke puncak candi yang berat akan menjawab pertanyaan, mengapa nenek moyang kita mendirikan tempat ibadah di puncak pegunungan?
Masyarakat sekitar menyebut kompleks candi itu Gedongsongo. Dalam bahasa Jawa, ‘gedong’ berarti rumah atau bangunan, sedangkan ‘songo’ berarti sembilan. Secara harfiah, Gedongsongo berarti ‘sembilan bangunan’. Meskipun pengunjung hanya menyaksikan lima kompleks bangunan, masyarakat yakin bahwa awalnya kawasan ini memiliki sembilan kompleks bangunan candi.
Bangunan candi itu berderet dari bawah ke puncak perbukitan Ungaran. Baik warga maupun para arkeolog Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah mempunyai beberapa tafsiran terhadap maksud peletakan bangunan itu. Tafsiran pertama menganggapnya sebagai simbol hierarki kesucian.  Artinya, candi yang di atas lebih suci dari candi yang di bawah. Tafsiran kedua mengatakan, deretan ini menunjukkan sebuah prosesi keagamaan yang berjalan dari candi terbawah hingga ke atas.
Adapun tafsiran ketiga menganggapnya sebagai gambaran dari sembilan lubang yang terdapat pada tubuh manusia, yaitu sepasang (dua) mata, sepasang (dua) telinga, dua lubang hidung, mulut, kemaluan, dan anus. Banyak anggota masyarakat berkeyakinan bahwa empat bagian kompleks candi yang tak terlihat itu mengalami proses moksa (menghilang secara gaib).  Sampai kini keyakinan itu tertanam kuat dalam benak masyarakat. Mbah Sapto, seorang budayawan setempat, dan rekannya, Ki Suro Menggolo, adalah sebagian di antara orang-orang yang menjunjung keyakinan itu.  Menurut mereka, candi paling bawah yang mengawali rangkaian itu adalah lubang kemaluan, lalu berderet ke atas. “Sehingga bisa diilustrasikan, candi-candi ini tegak berdiri menggambarkan sembilan lubang pada [tubuh] manusia secara utuh,” tutur mereka.

Museum Taman Prasasti, Serpihan Kisah Nisan-nisan Tua


Warisan Indonesia/Ibnu Setiadi
Ada kisah yang tersembunyi pada nisan-nisan tua bekas kuburan kaum elite masa kolonial. Sayang, salah satu kompleks permakaman paling tua di dunia itu tak terurus. Di situ bersemayam jenazah para gubernur jenderal, panglima perang, hingga aktivis yang mati muda, Soe Hok Gie. Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang massa dari goresan prasasti mereka yang pergi.
Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan. Pesan itu tertulis di batu penanda peresmian Museum Taman Prasasti, Jalan Tanah Abang 1, Gambir, Jakarta Pusat. Tertanggal 9 Juli 1977 oleh Pejabat Gubernur KDKI Jakarta Letjen TNI (Marinir) Ali Sadikin. Warga sekitar lebih suka menyebutnya Taman Prasasti Kebun Jahe. Pada masa penjajahan Belanda, bangunan itu adalah sebuah permakaman mewah buat orangorang terpandang saat itu. Namun, Pemerintah DKI Jakarta mengubahnya menjadi museum. Dari kejauhan, museum itu sangat kentara.
Gaya arsitekturnya kontras dengan bangunanbangunan lain di sekitarnya. Delapan belas pilar kokoh yang menjulang tinggi di gerbang amat menyita perhatian. Saat membangun museum ini pada tahun 1844, para perancangnya sengaja mengadopsi arsitektur klasik gaya Doria. Hal yang kerap ditemui di kantor-kantor pengadilan.
Dua meriam perunggu di kanan-kiri museum seolah-olah menyambut para pengunjung. Di pagar sekeliling tembok depan terpajang sekitar 35 nisan dari batu gunung biru atau batu pantai yang keras dari India Selatan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin bagus kualitas batu yang digunakan.
Berbeda dengan museum pada umumnya, Museum Taman Prasasti ini tidak memajang koleksinya di ruang pamer yang berhias sorotan lampu dan ruangan dengan pengatur suhu. Bangunan itu sejatinya memang dirancang sebagai museum terbuka.
Nisan-nisan kuburan orang yang meninggal pada zaman kolonial Belanda pun dibiarkan apa adanya. Namun, ada juga yang sudah diinventaris dan dikelompokkan. Kesan angker dan seram pun sirna dengan suasana rindangnya pepohonan, kicauan burung, bentuk nisan dan patung yang beraneka corak unsur dan bahasa

Tuesday, May 29, 2012

agus blog

contoh

"Komunitas Air Gunung – Mengalir Mengikuti Zaman"


WARISAN INDONESIA / Bhrahu Pradipto
Komunitas Air Gunung hadir di tengah kelompok pelukis kampung yang bekerja tanpa konsep. Berkat kegigihan pencetusnya, sebagian anggota komunitas sukses dengan karyanya. Kini hidup mereka terus mengalir mengikuti gerak zaman.
Suatu ketika, Agus Wuryanto, SN., seorang fotografer profesional, memerhatikan karya-karya pelukis di kampung kelahirannya, Wonosobo, Jawa Tengah, tampak sama. Semua membuat gambar pemandangan, sawah, gunung, alam pedesaan. Seragam dan tak ada yang istimewa.
Saat mencoba berkomunikasi dengan para pelukis tersebut yang ia dengarkan adalah keluhan tentang hidup mereka yang serba susah. Paling tinggi, sebuah karya dibeli orang dengan harga Rp500.000. Sebagai lulusan seni murni Institut Seni Indonesia, hatinya tergelitik sekaligus prihatin dengan kondisi tersebut.
WARISAN INDONESIA / Bhrahu Pradipto
Berbekal ilmu selama masa kuliah dan pengalaman panjangnya memainkan kuas di atas kanvas, ia kumpulkan para pelukis itu dalam sebuah wadah, yang kemudian dinamakan Komunitas Air Gunung. Ia memulai urusan itu saat tak lagi mengemban tugas pelaksana pemotretan di lapangan, maklum kiprahnya di dunia fotografi memang cukup mendalam. Ia adalah Ketua Pencinta Fotografi Wonosobo. Dengan demikian, konsentrasinya bisa lebih fokus.
Sejak tahun 2006, dengan telaten ia memberikan pelatihan kepada anggota komunitas. “Teknik penggemblengannya seperti home schooling. Artinya, tercipta interaksi yang lebih intim. Setiap ingin membuat satu karya, ide si pelukis didiskusikan sampai menemukan konsep yang menarik,” ungkapnya.
Bagi penggiat seni di Wonosobo ini, ada tiga hal utama yang harus dimiliki seseorang pelukis anggotanya agar dapat mencapai hasil maksimal. Pertama, harus ada kepedulian, baik dari pengajar maupun murid yang ia bimbing. Kedua, harus ada keterlibatan emosional antarpersonal. Dan ketiga, harus ada kepercayaan.Akhirnya dengan bentuk pertemanan, diharapkan tercipta ikatan yang kuat, saling memahami.

"Menapak Tilas Jejak Kesakralan Hindu di Gedongsongo"


Kompleks candi ini menyimpan misteri berabad-abad yang belum terjawab. Perjalanan ke puncak candi yang berat akan menjawab pertanyaan, mengapa nenek moyang kita mendirikan tempat ibadah di puncak pegunungan?
Masyarakat sekitar menyebut kompleks candi itu Gedongsongo. Dalam bahasa Jawa, ‘gedong’ berarti rumah atau bangunan, sedangkan ‘songo’ berarti sembilan. Secara harfiah, Gedongsongo berarti ‘sembilan bangunan’. Meskipun pengunjung hanya menyaksikan lima kompleks bangunan, masyarakat yakin bahwa awalnya kawasan ini memiliki sembilan kompleks bangunan candi.
Bangunan candi itu berderet dari bawah ke puncak perbukitan Ungaran. Baik warga maupun para arkeolog Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah mempunyai beberapa tafsiran terhadap maksud peletakan bangunan itu. Tafsiran pertama menganggapnya sebagai simbol hierarki kesucian.  Artinya, candi yang di atas lebih suci dari candi yang di bawah. Tafsiran kedua mengatakan, deretan ini menunjukkan sebuah prosesi keagamaan yang berjalan dari candi terbawah hingga ke atas.
Adapun tafsiran ketiga menganggapnya sebagai gambaran dari sembilan lubang yang terdapat pada tubuh manusia, yaitu sepasang (dua) mata, sepasang (dua) telinga, dua lubang hidung, mulut, kemaluan, dan anus. Banyak anggota masyarakat berkeyakinan bahwa empat bagian kompleks candi yang tak terlihat itu mengalami proses moksa (menghilang secara gaib).  Sampai kini keyakinan itu tertanam kuat dalam benak masyarakat. Mbah Sapto, seorang budayawan setempat, dan rekannya, Ki Suro Menggolo, adalah sebagian di antara orang-orang yang menjunjung keyakinan itu.  Menurut mereka, candi paling bawah yang mengawali rangkaian itu adalah lubang kemaluan, lalu berderet ke atas. “Sehingga bisa diilustrasikan, candi-candi ini tegak berdiri menggambarkan sembilan lubang pada [tubuh] manusia secara utuh,” tutur mereka.

"Indonesian Heritage Society – Diam-Diam Mempromosikan Indonesia"



Pada 21 Agustus 1995, Ganesha Society disahkan menjadi Indonesian Heritage Society (IHS), dalam bentuk yayasan yang dikelola oleh dewan pengurus tanpa honor. Tujuan utamanya, membantu lembaga-lembaga budaya Indonesia serta meningkatkan pengetahuan, pemahaman, apresiasi budaya, dan warisan Indonesia.
Hawa malam sudah dingin, ditambah lagi Jakarta diguyur hujan. Namun, Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta, pada 8 November 2011 itu tidak juga sepi. Pengunjung tetap berdatangan, sendiri maupun dengan pasangan. Menggenggam gelas berkaki anggur putih, menyapa rekan lainnya, mereka menghangatkan suasana malam itu.
Malam itu mereka datang khusus untuk mendengarkan dua jam pemaparan Dinny Jusuf, pegiat Tenun Sa’dan Toraja Utara, tentang tekstil dan tradisi masyarakat Tana Toraja. Pengunjung, yang kebanyakan berasal dari Eropa, Amerika, Australia, sangat antusias. Hal itu tampak dari pertanyaan yang mereka ajukan seputar akses yang dapat ditempuh menuju Tana Toraja.
Itulah salah satu kegiatan IHS, sebuah organisasi nirlaba yang punya visi utama menggali kekayaan seni, sejarah, dan budaya tradisi Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung di Erasmus Huis itu adalah salah satu kegiatan yang rutin dilakukan setiap Selasa selama Oktober-November dan Januari- Februari. Kelas yang dikenal dengan evening lectures—yang pada 8 November 2011 merupakan penutup Evening Lectures 2011—itu mengkaji keanekaragaman budaya tradisi dan budaya kontemporer Indonesia dengan fokus pada pemaparan seni, etnografi, agama, budaya, sejarah, dan pengetahuan alam. Pengantar dalam pertemuan itu menggunakan bahasa Inggis karena pengunjungnya kebanyakan ekspatriat.

"Kepingan Fakta di Liang Bua"


Penemuan situs manusia purba Liang Bua pada tahun 2003 mengguncang dunia arkeologi. Digali pertama kali pada tahun 1965, hingga kini temuan ini terus menjadi perdebatan di kalangan arkeolog.
BENARKAH Homo floresiensis yang tengkorak dan kerangkanya ditemukan di Liang Bua, Flores, oleh arkeolog Indonesia dan Australia tahun 2003 berkerabat dengan Pithecanthropus erectus—manusia kera yang berjalan tegak?
Atau, temuan yang diumumkan oleh arkeolog Michael Morwood dari Universitas Wollongong, Australia, secara sepihak pada tahun 2003 itu merupakan tengkorak homo sapiens—manusia modern—yang mengidap penyakit sehingga bertubuh kerdil hingga dijuluki manusia hobbit?
Terlepas dari perdebatan ilmiah yang hingga kini terus berlangsung itu, situs Liang Bua yang berada di gua karst yang dihiasi stalaktit di ketinggian 500 di atas permukaan laut (dpl) dan berjarak sekitar 25 kilometer utara Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menyimpan kepingan fakta jejak peradaban Flores purba.
Ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan mobil dari pusat kota Ruteng, jalanan menuju Liang Bua—yang artinya gua dingin—itu berkelok dan tanpa papan penunjuk jalan. Berada di Kampung Rampasasa, Desa Waemulu, Kecamatan Waeriri, Kabupaten Manggarai, situs Liang Bua berada tak jauh dari persawahan dan dikelilingi hutan.
Menurut pemandu, Cornelis Jaman (38), situs Liang Bua memiliki lebar 50 meter, panjang 40 meter, dan tinggi dinding dari permukaan tanah 25 meter. “Menurut legenda rakyat sini, gua ini diciptakan nenek moyang kami dengan bantuan makhluk gaib, tetapi tentu ini sekadar legenda,” ujarnya tanpa meneruskan ceritanya.
Penggalian (ekskavasi) situs terus berlangsung hingga kini dan memperkerjakan warga setempat dengan upah Rp 40.000 per hari. Beberapa nama arkeolog yang pernah melakukan penggalian itu, menurut Cornelis, adalah Michael Morwood, Raden Panji Soejono, Thomas Sutikno, Rokus Duwe Awe, dan Sri Warsisto. “Penggalian terus berlangsung, sehari menjelang Lebaran kemarin dihentikan, seusai Lebaran akan dilanjutkan,” katanya kepada Warisan Indonesia, akhir Agustus lalu.
Sedikitnya, ada 3 lubang besar yang digali membujur dan melintang dengan kedalaman bervariasi berkisar 3-6 meter yang diberi pembatas tali rafia, agar situs tidak rusak oleh pengunjung. Di permukaan tampak beberapa kantong plastik berisi serpihan tulang diklasifikasi dan diberi kode tertentu. “Kemarin, kami menemukan kerangka tikus purba, ini kantong tulangnya,” kata Blacius Nggadu (43), kuli gali yang sehari-hari membantu para antropolog, sembari menunjukkan temuan tulang belulang di telapak tangannya

"Museum Taman Prasasti – Sejuta Kisah Hunian Terakhir"


Museum Taman Prasasti membuat kita berdecak kagum. Ada keindahan batu nisan yang bertutur tentang hunian terakhir sebuah peradaban masa lampau. Ada ratusan cerita tersembunyi di balik bongkahan-bongkahan bangunan kuno yang memaksa kita selalu mengingat sejarah.
Pada abad ke-18, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan banyak bangunan dengan gaya arsitektur yang menggambarkan keindahan serta kekokohan sistem pertahanan. Kawasan itu lantas dijuluki “Ratu dari Timur” atau dalam bahasa Belandanya ‘Koningin van het Oosten’. Setiap gedung didirikan untuk memenuhi kebutuhan para kaum penjajah yang memiliki gaya hidup berbeda dengan lingkungan sekitarnya.
Pemakaman merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus disediakan. Dalam tradisi Eropa, jasad orang meninggal biasanya dimakamkan dalam tanah, tidak diperabukan seperti Golongan Tionghoa yang juga tinggal di kawasan itu. Kemungkinan karena pertimbangan keamanan, kuburan orangorang Belanda (Graf der Hollanders) juga dibangun di dekat kawasan pertahanan bukan di tempat lain yang berjauhan.
Mula-mula ada tempat pemakaman khusus, de Oude Nieuwe Hollandsche Kerk, di areal gereja tua yang kini jadi Museum Wayang. Namun, pada akhir abad ke-18 kuburan ini penuh sehingga pemakaman harus dipindahkan ke luar kota pertahanan Batavia. Tempat ini disebut Kerkhof Laan atau Kebon Jahe Kober.  Mereka yang meninggal harus diangkut dengan sampan menuju tempat ini.
Prosesinya kira-kira sebagai berikut. Bila ada warga Belanda yang meninggal, jenazahnya dibawa ke rumah sakit yang kini telah berubah menjadi Museum Bank Indonesia di kawasan Beos, Jakarta Kota. Pihak rumah sakit menyediakan perahu untuk jenazah yang didayung sepanjang Kali Krukut. Perahu-perahu sewaan juga ikut mengiring di belakang, biasanya mengangkut para pelayat yang terdiri dari keluarga dan kerabat lainnya.
Iring-iringan perahu jenazah tersebut berhenti di Jalan Abdul Muis persis di belakang Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika. sekarang ini. Peti jenazah kemudian diangkat dari atas sampan dan dipindahkan ke sebuah kereta yang ditarik kuda.  Jumlah kuda yang menarik kereta itu ditentukan oleh tingkat kemakmurannya. Semakin makmur orang yang meninggal, semakin banyak pula jumlah kuda penariknya. Pada saat pemindahan dilakukan, lonceng di pemakaman berbunyi sekali. Ini adalah perintah kepada pengurus pemakaman untuk bersiap-siap.  Selanjutnya, lonceng itu terus berbunyi sampai iringan jenazah tiba di gerbang pemakaman yang mengambil corak arsitek Doria itu.
Luas Jalan Kubur, atau Kerkhof Laan, mencapai 5,9 hektar. Semenjak dibuka pada 1795, orang-orang yang punya kedudukan tinggi dan terkenal semasa hidupnya dimakamkan oleh keluarga dan kerabatnya di sini. Mereka umumnya beragama Nasrani, baik Katolik maupun Protestan. Pemerintah daerah Jakarta menutupnya pada 1975. Sebagian lahannya diambil untuk gedung-gedung pemerintah. Kerangka jenazah yang telah lama dikubur dipindahkan ke tempat lain. Sebagian ke kompleks pekuburan Menteng Pulo, sejumlah besar lainnya dibawa pulang ke negeri asal mereka. Gubernur Jakarta Ali Sadikin lalu memerintahkan aparatnya untuk mengubah sisa area Kebon Jahe Kober menjadi Museum Taman Prasasti dan meresmikan pada 9 Juli 1977.

"Spirit Cerita Panji Metropolitan"



Wayang beber nyaris tinggal kenangan. Beruntung masih ada sejumlah anak muda yang peduli dan mencoba melestarikannya. Mereka tergabung dalam satu wadah bernama Komunitas Wayang Beber Metropolitan.
Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya apa itu wayang beber? Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Dinamakan beber, karena cerita yang disampaikan dilakukan dengan cara dibeber, bentuknya lembaran-lembaran berupa gulungan lukisan wayang. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita dengan cara dibeberkan.
Beberapa waktu lalu, tepatnya 21-29 Maret 2012, di Bentara Budaya Jakarta, Komunitas Wayang Beber Metropolitan menggelar pameran wayang beber bertajuk Dolanan Wayang Beber. Mereka mencoba memunculkan fenomena metropolitan dalam bentuk wayang beber.
Karya-karya yang ditampilkan berupa pertunjukan wayang beber dengan tetap mempertahankan fungsi wayang beber. Tema-tema dan bentuk visualnya pun sesuai dengan perkembangan masa kini. Adapun pamerannya lebih menampilkan wayang beber bentuk lawasan hingga kontemporer, dengan mengangkat isuisu atau fenomena sosial yang tengah berkecamuk di masyarakat. Saat penutupan acara, mereka mementaskan wayang beber kontemporer berjudul “Kabut Hitam di Desa Temu Kerep”.
Menurut Adi Prasetya (39), ketua sekaligus salah seorang pelopor pendiri Komunitas Wayang Beber Metropolitan, seperti terjadi satu pengulangan—ibaratnya spirit ribuan tahun yang lalu terulang kembali di Jakarta. Wayang beber ini biasanya diminta pentas hanya saatsaat tertentu. “Ini bisa dihitung dengan jari dan baru kemarin Jakarta mementaskan wayang beber sepanjang Jakarta ini lahir,” ujar pria yang lebih akrab disapa Mas Sam tersebut. Sebetulnya, kata Adi, wayang beber bisa dirunut benang merahnya dalam mempersatukan Nusantara, meski dengan tafsir lokal atas Cerita Panji yang berbeda.
Dinda Intan Pramesti Putri (25), Manajer Wayang Beber Metropolitan, menambahkan, Cerita Panji diambil dari banyak cerita, ada yang menyebutkan zaman Kerajaan Jenggala, ada juga zaman Brawijaya saat memerintah di Majapahit. Akan tetapi, intinya itu dari Raja Jawa. Jadi zaman Darmawangsa atau Si Panji ini yang akhirnya ceritanya menyebar ke seluruh Nusantara dalam ceritacerita lain dengan tafsir setiap daerah.
“Sekarang sulit untuk mendapatkan selembar wayang beber. Memang masih ada di beberapa kalangan masyarakat, seperti daerah Pacitan, Jawa Timur dan di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul (DI Yogyakarta,” ujar Intan

Thursday, May 3, 2012

"Paradoks"

Aris Liem
Lagu pop “Benci Tapi Rindu”, yang dinyanyikan oleh Diana Nasution, sangat populer pada tahun 70-an. Ekspresi cinta romantis, emosional, lantang itu, pernah juga dinyanyikan oleh pelawak bernama Darto Helm.
Bukan hanya sekedar penghibur diriku ini, sayang.
Bukan pula sekedar pelepas rindumu o sayang.
Sakit hatiku uu…, kau buat begitu.
Kau datang dan pergi sesuka hatimu.
O… kejamnya dikau, teganya dikau padaku.
Kau pergi dan datang sesuka hatimu.
O… sakitnya hati bencinya hati padamu.
Sakitnya hati ini, namun aku rindu.
Bencinya hati ini, tapi aku rindu.
Paradoks yang berat, alot di mata filsafat, ternyata diangkat mudah oleh lagu pop. Mengalir dengan enteng, ringan, gesit, dan menghibur. Sama dengan cerita telur Columbus. Sementara para pemikir pusing memikirkan bagaimana caranya menegakkan telur, Columbus dengan tanpa beban meremukkan ujung telor itu hingga bisa tegak. Tentu saja sesudah itu orang lain bisa menirunya karena sangat mudah. Tapi sebelumnya, tak pernah terpikir.
Dalam sebuah cerita Wild West, ada bayi jatuh ke tangan suku Indian. Anak itu kemudian tumbuh menjadi pejuang Indian. Dia mengalami kehidupan mengerikan yang bersimbah darah. Ketika ia tertangkap dan hidup kembali di masyarakat kulit putih, pada hari tuanya, ia diminta mengungkap pengalamannya yang luar biasa itu. Tetapi, lelaki itu hanya berkata: “Aku hidup beberapa lama di masyarakat Indian dan sekarang aku kembali hidup di masyarakat biasa.”
Pada sebuah kejadian, selalu ada sudut bidik lain yang memungkinkan sesuatu itu diartikan bertentangan dengan nilai sebelumnya. Menghadapi sesuatu yang paradoksal, yang kemudian penting, bukan saja kenyataan yang paradoks itu, tetapi apa yang menyebabkan nilai bisa berakrobat begitu rupa.
Adalah anak dari keluarga miskin merengek minta dibelikan motor, tetapi ditolak orangtuanya karena ekonomi keluarga tidak memungkinkan. Baru setelah 5 tahun menabung, orangtuanya berhasil memenuhi hasrat anaknya. Pada hari ulang tahunnya, anak itu dihadiahi motor yang dimimpikannya. Anak itu senang sekali. Tapi, hanya dua jam kemudian dia pulang melaporkan motornya ringsek ditabrak truk.
Bapaknya marah dan mencak-mencak. “Bego! Puluhan juta yang aku tabung 5 tahun lenyap hanya dalam 2 jam?” Tapi, istrinya berkata lain, ”Pak, biar motornya hancur, tapi syukur alhamdulillah anak kita, kan, tidak apa-apa!”