Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Tuesday, May 29, 2012

"Spirit Cerita Panji Metropolitan"



Wayang beber nyaris tinggal kenangan. Beruntung masih ada sejumlah anak muda yang peduli dan mencoba melestarikannya. Mereka tergabung dalam satu wadah bernama Komunitas Wayang Beber Metropolitan.
Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya apa itu wayang beber? Wayang beber muncul dan berkembang di Pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Dinamakan beber, karena cerita yang disampaikan dilakukan dengan cara dibeber, bentuknya lembaran-lembaran berupa gulungan lukisan wayang. Gambar-gambar tokoh pewayangan dilukiskan pada selembar kain atau kertas, disusun adegan demi adegan berurutan sesuai dengan urutan cerita dengan cara dibeberkan.
Beberapa waktu lalu, tepatnya 21-29 Maret 2012, di Bentara Budaya Jakarta, Komunitas Wayang Beber Metropolitan menggelar pameran wayang beber bertajuk Dolanan Wayang Beber. Mereka mencoba memunculkan fenomena metropolitan dalam bentuk wayang beber.
Karya-karya yang ditampilkan berupa pertunjukan wayang beber dengan tetap mempertahankan fungsi wayang beber. Tema-tema dan bentuk visualnya pun sesuai dengan perkembangan masa kini. Adapun pamerannya lebih menampilkan wayang beber bentuk lawasan hingga kontemporer, dengan mengangkat isuisu atau fenomena sosial yang tengah berkecamuk di masyarakat. Saat penutupan acara, mereka mementaskan wayang beber kontemporer berjudul “Kabut Hitam di Desa Temu Kerep”.
Menurut Adi Prasetya (39), ketua sekaligus salah seorang pelopor pendiri Komunitas Wayang Beber Metropolitan, seperti terjadi satu pengulangan—ibaratnya spirit ribuan tahun yang lalu terulang kembali di Jakarta. Wayang beber ini biasanya diminta pentas hanya saatsaat tertentu. “Ini bisa dihitung dengan jari dan baru kemarin Jakarta mementaskan wayang beber sepanjang Jakarta ini lahir,” ujar pria yang lebih akrab disapa Mas Sam tersebut. Sebetulnya, kata Adi, wayang beber bisa dirunut benang merahnya dalam mempersatukan Nusantara, meski dengan tafsir lokal atas Cerita Panji yang berbeda.
Dinda Intan Pramesti Putri (25), Manajer Wayang Beber Metropolitan, menambahkan, Cerita Panji diambil dari banyak cerita, ada yang menyebutkan zaman Kerajaan Jenggala, ada juga zaman Brawijaya saat memerintah di Majapahit. Akan tetapi, intinya itu dari Raja Jawa. Jadi zaman Darmawangsa atau Si Panji ini yang akhirnya ceritanya menyebar ke seluruh Nusantara dalam ceritacerita lain dengan tafsir setiap daerah.
“Sekarang sulit untuk mendapatkan selembar wayang beber. Memang masih ada di beberapa kalangan masyarakat, seperti daerah Pacitan, Jawa Timur dan di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul (DI Yogyakarta,” ujar Intan

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat