Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Saturday, December 3, 2011

LAKU SENOPATI ING ALAGA


Setelah bersemedi di tengah samudera pantai Parangritis memohon kepada Gusti Allah agar dirinya diizinkan untuk menjadi raja di tanah jawa, Senopati lalu berjalan di atas air menuju darat, jalannya bagaikan berjalan diatas tanah saja hebatnya selama bersemedi ditengah samudera badannya tidak basah walau diterjang ombak berkali-kali. Begitu dekat dengan bibir pantai alangkah terkejutnya dia melihat Sunan Kalijaga berdiri disana. Dia lalu bersujud dan memohon ampun karena telah berani menyombongkan diri dengan ilmunya itu.

Sunan Kalijaga lalu berkata "Bangunlah hai putera Ki Gede Pamanahan, janganlah menuruti kelemahan hati yang menyuarakan keserakahan, enyahkanlah bisikan setan itu, bangkitlah hai murid Jaka Tingkir!". Senopati lalu bangkit, Sunan Kalijaga kemudian bertanya padanya "apakah benar kau sangat ingin menjadi raja yang menguasai tanah jawa ini?", Senopati mengangguk perlahan, Sunan Kalijaga bertanya lagi "meskipun itu berati kau harus berhadapan dengan guru sekaligus ayah angkatmu Sultan Hadiwijaya dan berperang dengan seluruh negeri Pajang yang selama ini menjadi negeri tumpah darahmu dan tempat alamrhum ayahmu mengabdi?", Senopati lalu menundukan kepalanya, tubuhnya berguncang, air matanya meleleh lalu pelan berkata "Hamba selalu memohon petunjuk kepada Gusti Allah namun belum mendapatkan petunjuknya, mungkin Gusti Allah memberikan petunjuknya lewat Kanjeng Sunan", Sunan Kalijaga tersenyum lalu kembali membuka mulutnya "Baiklah Senopati akan kuberikan pelajaran yang amat tinngi dari Kanjeng Rasul untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat".

Sunan Kalijaga menghela nafas sebelum memberikan wejangannya, lalu sambil duduk diatas sebuah batu karang dia memulai wejangannya kepada Senopati "Perang itu sesungguhnya hanyalah suatu alat penghancur untuk menghilangkan kerusakan yang disebabkan oleh kebhatilan, diganti dengan yang baru. Timbulnya suatu peradaban itu adalah karena perombakan dar yang silam yang manusia rusak sendiri. Agama Islam lahir sebagai agama penutup, tidak akan ada lagi agama yang diridhai oleh Gusti Allah selain Islam, Kitab suci Al Qur'an lahir sebagai pelengkap dari semua kitab suci sebelumnya yaitu Taurat, Zabur, dan Injil. Memang sudah menjadi takdir Hyang Maha Kuasa kalau semua pemeluk kitab sebelum Al Qur'an itu akan selalu memusuhi para pemeluk agama Islam jika mereka menolak untuk masuk Islam, dan diantara para pemeluk Islam pun akan selalu muncul perbedaan, hal itu dikarenakan terbatasnya daya berpikir manusia yang tidak akan pernah bisa menyingkap takdir Illahi".

Sambil memandang ke arah laut Sunan Kalijaga menyedekapkan tangannya lalu melanjutkan ucapannya "Tanpa persengketaan manusia tidak akan bergairah untuk hidup lebih maju. Tanpa perangpun semua mahluk akan menemui ajal yang telah digariskan. Setelah itu diganti dengan manusia yang baru untuk meneruskan sisa pekerjaan yang telah mati. Demikianlah seterusnya seperti alam raya yang terus bergerak gberputar tak pernah diam, demikian pula pikiran manusia setiap detik bergerak terus tak pernah berhenti. Manusia sebagai tempat roh akan mengalami masa bayi, kanak-kanak, dewasa sampai kemudian mati, bagi yang tawakal berserah diri kepada Gusti Allah tidak akan goncang hatinya. Walaupun tidak perang, alam akan merusak dan menghancurkan kehidupan agar manusia menjadi sadar, bahwa dia tak berkuasa apa-apa di dunia ini. Pandanglah kehidupan di sekitar kesultanan Pajang anakku, mereka itu adalah manusia-manusia yang tak menyadari asalnya dan diperbudak oleh khayalan. Perjalan hidup manusia tidak bisa tetap, bagaikan alam, ada terang dan gelap, ada panas dan dingin, berubah-ubah sesuai kehendak Hyang Maha Kuasa. Usia hidup dialam ini kasar ini tak ubahnya seperti kedipan mata cepatnya bila dibandingkan dengan usia alam yang berjuta-juta tahun. Oleh sebab itu terimalah segala derita ataupun semua cobaan dengan ikhlas nerima kepada yang telah digariskan oleh Gusti Allah."

Sunan Kalijaga lalu mengelus-elus jenggotnya "Atma atau roh itu tak dapat dihancurkan dengan kekuatan apapun, tak dapat dilihat, tak dapat dipikirkan, tak bisa berubah sifatnya. Tak bisa dibunuh walaupun jasad yang menjadi temaptnya bersemayam dihancurkan. Semua mahluk pada permulaannya tidak tampak, setelah melalui nafsu birahi antara pria dan wanita diasatukan, barulah dibentuk dalam rahim. Setelah dilahirkan barulah nampak, semenjak kecil hingga tua bangka, mereka tak menyadari bahwa mereka berasal dari tak tampak yaitu tiada. Kematian menjadi momok ketakutan bagi yang tak mengenal atmanya. Orang seringkali memperbincangkan tentang roh, meskipun demikian hanya beberapa orang saja yang mengerti pada sifat abadi itu. Ada dan tiada sama saja bagi siapa yang sesungguhnya mengetahui sajatining kebenaran. Yang menguasai manusia dialam lahir ilaha pancaindra, sedangkan Atma adalah pendukung raga seluruhnya. Lahirnya pancaindra setelah menjelma menjadi manusia, sedangkan atma sudah ada sebelum manusia lahir kedunia. Tetapi janganlah menyekutukan atma dan pancaindra, karena didalam pancaindra itu terdapat nafsu-pikiran, itikad persaan dan akal. Siapa yang beritikad baik pikirannyapun akan tenang, nafsunya dapat terkendalikan, perasaannya akan lebih tajam, dan akalnyapun akan lebih cerdas. Siapa yang dapat mengendalikan seluruh panca indranya dan memusatkan akal budinya terhadap atma untuk bersujud berserah diri kepada Illahi, dialah yang akan menemukan kebahagiaan sejati nan abadi dunia-akhirat. Illahi adalah yang tak ada habis-habisnya dan tertinggi yang meniptakan alam semesta dengan segala isinya, Adhi Atma adalah roh suci yang bersemayam dalam diri manusia, setan adalah nafsu negatif yang menimbulkan nafsu keduniawian. Siapa yang mengingat bahwa Gusti Allah adalah yang paling esa berkuasa, maka dialah yang mengetahui kebenaran.

Deru ombak menggetarkan tempat itu, semakin lama semakin pasang, namun Sunan Kalijaga meneruskan wejangannya " Orang yang sempit pikirannya menganggap Illahi itu hanya bersifat tidak kelihatan dan beranggapan Illahi itu omong kosong belaka yang tidak masuk akal, padahal Illahi ada dimana-mana dalam segala bentuk dan kekal sifatnya yang memberikan daya berpikir pada seluruh manusia. Bukan Ilmu ataupun kesaktian fisik yang bisa menuntun kejalan yang manunggal di Jalan Illahi, karena ilmu tanpa disertai budi, dan kesaktian lahir adalah kesombongan dan kemurkaan. Dia yang beriman, bertaqwa, dan bertwakal kepadanya dan berikhtiar mempersatukan dia dengan Illahi sambil menjalankan kebajikan, dan menyebarkan ajaran Illahi dia akan mencapai sifat yang diridhai Gusti Allah untuk menjadi Khalifah Umatnya. Apa yang disebut prikebajikan adalah rendah hati, jujur, sabar, dapat melepaskan pikiran dan hawa nafsu keduniawian, dan tidak menyimpan kebencian. siapa yang melihat bahwa benda yang saling bunuh dan bukan rohnya, siapa yang mengakui segala yang terjadi akibat kesalahannya sendiri dialah yang nerima. Bangkitlah engkau Senopati anakku! Kalahkanlah semua musuh-musuhmu! Karena engkau adalah alat untuk melenyapkan angkara murka dan membentuk kehidupan yang baru di tanah jawa ini! Sesungguhnya tanpa peranmu pun orang-orang Pajang yang berlindung dibawah kekuasaan Sultan Hadiwijaya sudah mati, karena diliputi oleh benci dan dendam. Mereka orang-orang yang berlindung dibawah kekuasaan Sulta Hadiwijaya untuk melampiaskan hasrat serakahnya seperti serigala-serigala yang terkurung api, sebentar lagi hangus terbakar. Janganlah bersedih hati menghadapi ujian ini Senopati, semua yang kukatakan ini adalah Ilapat dari Gusti Allah demi memberimu petunujuk atas permohonanmu kepada Gusti Allah siang dan malam, wahyu keprabon untuk memimpin umat di tanah jawa ini telah berpindah dari Sultan Hadiwijaya kepadamu karena Pajang telah rusak oleh orang-orang yang serakah. Namun ketahuilah Mataram akan berumur pendek dari mulai engkau, anak dan cucumu, cucumu akan menjadi raja yang sangat kaya, mataram akan mencapai puncak kejayaannya, namun Mataram akan rusak oleh cicitmu karena bersekutu dengan orang-orang asing bertubuh tinggi-besar, berkulit putih, berambut seperti rambut jagung yang akan menyengsarakan seluruh umat di tanah jawa ini. kerusakan Mataram akan ditandai dengan muculnya bintang kemukus setiap malam, sering terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan, Gunung Merapi sering bergolak dahsyat".

Senopati mengankat kepalanya "Yang kanjeng Sunan wejangkan benar-benar meresap dalam sanubariku, hamba bersyukur ternyata Gusti Allah mengabulkan permohonan Hamba dan alamarhum ayahanda. Namun yang belum saya mengerti mengapa di jagat ini begitu banyak aliran kepercayaan?"

Sunan Kalijaga Menjawab " Sumbernya hanya satu seperti sumber air gunung yang sangat bersih tanpa ada kotoran mengalir kebawah. Lalu beranak sungai dihulu, dialirkan kesetiap arah untuk dipergunakan macam-macam keperluan seperti minum, mencuci, mengairi sawah, dan lain-lain sehingga kotor sulit dibersihkan kembali. Begitupun pengertian tentang Tuhan, siapa yang memuja Allah SWT dia akan pergi kepada Gusti Allah, siapa yang memuja Dewa dia akan pergi kepada Dewa, siapa yang memuja Jin dia akan pergi kepada Jin, siapa yang memuja Leluhur dia akan Pergi kepada Leluhurnya. Namun tetaplah semua akan kembali kepada satu sumbernya yaitu sang maha pencipta Gusti Allah SWT, La Illa Haillallah tiada tuhan selain Allah. Ada pula orang-orang yang menyerahkan hartanya sebagai bakti kepada Illahi, Namun dibalik hatinya ia meminta kembalinya yang lebih besar, itu namanya murka, ada orang yang berpura-pura memuja Illahi nmun mengharapkan upah, dia tidak akan sampai kepada Illahi. Begitulah pengertian tentang Tuhan, diolah beraneka ragam hasil pengertian akal tanpa budi, iman, dan Taqwa. Tidak demikian dengan orang yang beriman dan bertaqwa, dia akan terus menuju mencari sumbernya. Dia tidak akan terpengaruh oleh kesibukan dan nikmat duniawi yang tercipta darisetan pembawa hawa nafsu yang merusak. Dia akan senantiasa tenang, karena ia sadar bahwa semua pergolakan disebabkan oleh setan. Bagaikan orang yang berjalan di lorong gelap gulita yang menemukan pelita, demikianlah orang yang berserah diri kepada Gusti Allah SWT".

Senopati lalu bangun, Sunan Kalijaga lalu mengajaknya pulang ke Kota Gede "Mari anakku aku ingin melihat rumahmu dan kota yang telah engkau bangun", Senopati menjawab "Mari kanjeng Sunan". Setelah sampai Sunan Kalijaga memerintahkan Senopati untuk memagari rumahnya dan membangun tembok dari batu bata disekitar Kota Gede dengan memberi petunjuk lewat air doanya "Senopati anakku, bila kelak engkau hendak membangun tembok benteng Kota Gede ikutilah tempat dimana aku mengikuti air tadi, nah selamat tinggal anakku, aku hedak pulang ke Kadilangu". Senopati lalu membangun tembok kota mengikuti saran yang Sunan Kalijaga sampaikan. Wejangan itupun diresapinya hingga kelak tiba saatnya ia menjadi raja sekaligus penyebar agama islam di tanah jawa ini.

Ramalan Jayabaya


Roabaca.com.- Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat Ramalan-ramalan tersebut

Dikutip dari Wikipedia dijelaskan "Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah "Perdikan" yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam'iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.
[sunting] Analisa

Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut "Kitab Asrar" Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan". Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai "Ratu Bobodo") ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan "JANGKA JAYABAYA" dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama "REPUBLIK INDONESIA"!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini.
[sunting] Kitab Musasar Jayabaya

Asmarandana

1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.

2. Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.
3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.
4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.
5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.
6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.
7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.

8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.
9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,
10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.
11. Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.
12. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.
13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu..
14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.
15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.
16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.
17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.
18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.
19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.
20. Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.
21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.


Sinom

1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.
2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.
3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.
4. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.
5. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.
6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.
7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.
8. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.
9. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.
10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.
11. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.
12. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.
13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.
14. Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.
15. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.
16. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.
17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.
18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.
19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.
20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).
21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).
22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.
23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.
24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.
25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.
26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.
27. Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.
28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.
29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

== Isi Ramalan ==

1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
2. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.
3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.
4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.
5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.
6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.
7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.
8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.
9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.
10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.
11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik
12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.
13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.
15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.
16. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.
17. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.
18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.
19. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.
20. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.
21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.
22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.
23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.
24. Nantang bapa--- Menantang ayah.
25. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.
26. Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.
27. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.
28. Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.
29. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil
31. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil
32. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.
33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.
34. Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.
35. Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.
36. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.
37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
38. Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.
39. Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.
40. Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).
41. Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.
42. Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan
43. Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.
44. Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
45. Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan
46. Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.
47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.
48. Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.
49. Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.
50. Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar istri/suami.
51. Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.
52. Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.
53. Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).
54. Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.
55. Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.
56. Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.
57. Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.
58. Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.
59. Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.
60. Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.
61. Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
62. Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.
63. Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.
64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya.
65. Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.
66. Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.
67. Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.
68. Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.
69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.
70. Akeh laknat--- Banyak kutukan
71. Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.
72. Anak mangan bapak---Anak makan bapak.
73. Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.
74. Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.
75. Guru disatru---Guru dimusuhi.
76. Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.
77. Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.
78. Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.
79. Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.
80. Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.
81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.
82. Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.
83. Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.
84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.
85. Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.
86. Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.
87. Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.
88. Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
89. Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
90. Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.
91. Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.
92. Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.
93. Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.
94. Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.
95. Akeh barang haram---Banyak barang haram.
96. Akeh anak haram---Banyak anak haram.
97. Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.
98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.
99. Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.
100. Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.
101. Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.
102. Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.
103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.
104. Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.
105. Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.
106. Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.
107. Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.
108. Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.
109. Sing wedi mati---Yang takut mati.
110. Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.
111. Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih
112. Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur
113. Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.
114. Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.
115. Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.
116. Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.
117. Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.
118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.
119. Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.
120. Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.
121. Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.
122. Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.
123. Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.
124. Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.
125. Anak lali bapak---Anak lupa bapa.
126. Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.
127. Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.
128. Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.
129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.
130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.
131. Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.
132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.
133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.
134. Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.
135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.
136. Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.
137. Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.
138. Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.
139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.
140. Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.
141. Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.
142. Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.
143. Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana
144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.
145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.
146. Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.
147. Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.
148. Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.
149. Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.
150. Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.
151. Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.
152. Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.
153. Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.
154. Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
155. Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.
156. Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
157. Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.
158. Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
159. Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang
161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.
162. Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.
163. Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.
164. Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci.
165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.
166. Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.
167. Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut.
168. Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.
169. Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.
170. Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.
171. Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.
172. Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh
173. Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.
174. Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.
175. Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.
176. Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.
177. Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
178. Agama ditantang---Agama ditantang.
179. Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.
180. Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.
181. Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
182. Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.
183. Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.
184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.
185. Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.
186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.
187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.
188. Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.
189. Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.
190. Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.
191. Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
192. Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
193. Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.
194. Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga
195. Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.
196. Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.
197. Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.
198. Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.
199. Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.
200. Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.
201. Buruh mangluh---Buruh menangis.
202. Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.
203. Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.
204. Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.
205. Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.
206. Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
207. Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.
208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.
209. Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.
210. Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.
211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.
212. Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.
213. Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.
214. Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.
215. Akeh wong limbung---Banyak orang limbung

216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

Wangi Aroma Mistis Alas Ketonggo Ngawi


- Sabtu, Desember 25, 2010 -
Bagi siapa pun yang gemar akan wisata spiritual pasti sudah pernah mendengar nama Alas Ketonggo atau ada sebagian orang yang menyebutnya dengan Alas Srigati. Kawasan hutan yang memiliki pemandangan cukup indah dan rindang ini ternyata menyimpang sejuta misteri penuh nuasa mistis.
Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang berada Lereng Gunung Lawu tepatnya di Desa Babadan, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari Pusat Kota Keripik ini kearah selatan.

Dalam hutan yang mayoritas ditumbuhi tanaman jati ini memiliki sepuluh tempat pertapan. Diantaranya Palenggahan-Agung-Srigati, Pertapaan-Dewi-Tunjung-Sekar, Sendang-Derajad, Sendang-Mintowiji, Goa Sidodadi Bagus, Pundhen Watu Dakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Punden Siti Hinggil, Sendang Panguripan, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno.

Rata-rata dari ruang atau tempat pesangrahan tersebut mengeluarkan wangi aroma dupa yang kental. Pasalnya dalam ruang tersebut hampir selalu terdapat bekas dupa yang masih menyala bekas orang bersemedi.

Dari selain tempat pertapaan tersebut di hutan yang menurut sebagian orang tidak kalah "Wingit" dengan Alas Purwo ini, juga mememiliki sebuah sungai yang sering digunakan sebagai orang untuk menyepi dan bermeditasi dan bisa disebut "Kali Tempur Sedalem".
"Ada orang yang juga sering bersemedi di dalam sungai kalo malam. Apalagi saat malam Jumat dan Malam suro, pasti banyak yang bersemedi di dalam sungai sambil menyalakan dupa di depan tempatnya semedi," ujar salah satu pemilik warung Kopi yang ada di dalam hutan tersebut, Mbah Ginem.

Didalam warung yang tidak aliri oleh listrik ini dan hanya memiliki penerangan dari api yang bersumber dari sumbu dari botol yang didalamanya terdapat minyak tanah atau warga sekitar menyebutnya dengan nama "Ublik" ini, selain menyediakan makan dan minuman warung tersebut juga menyedikan dupa atau sebagian orang menyebutnya dengan hio serta kemenyan.

Mbah Ginem mengatakan, pada malam malam di kawasan hutan yang tidak tertembus oleh sinyal HP ini sering terjadi fenomena-fenomena yang sering tidak bisa dicerna dengan akal sehat.

"Kadang kadang ada suara yang seperti ratusan orang berbicara tapi setelah dilihat tidak ada wujudnya. Selain itu ada juga sebagian orang yang melihat sekelebatan mahkluk samar. Selain itu juga sering ada kilatan sinar berwarna warni yang jatuh di sekitar hutan" tuturnya.

Orang yang datang ke Alas Ketonggo sendiri memiliki berbagai macam tujuan. Diantaranya meminta pesugihan, ngalap berkah, meminta agar karirnya lancar sampai orang yang dirasa memiliki sedikit kemampuan untuk menarik senjata atau barang pusaka yang diduga banyak tersebar di tempat tersebut, samapi ada juga yang meminta judoh.
"Saya datang kesini bersama dua orang teman saya. Saya kesini untuk meminta agar bisa lolos dalam tes CPNS kemarin," ujar salah satu pengunjung Febri sambil bertapa di dalam dinginya air sungai.
Febri menuturkan, saat awal ia masuk kedalam air sungai, badannya memang merasakan dingin yang cukup menggigit tulang. Namun setelah beberapa saat setelah ia bisa berkonsentrasi air sungai tersebut justru terasa hangat.

Sementara menurut juru kunci di hutan dengan sungai yang lebih mirip lembah ini, Marji, membenarkan bawa memang banyak orang yang datang untuk "ngalap berkah" atau sekedar bermeditasi untuk berbagai alasan.
Marji menjelaskan ada beberapa tokoh nasional yang dulu pernah bermeditasi di hutan ini. Diantaranya Bung Karno, Suyadi, serta salah seorang politisi yang saat ini masih eksi dan bernaung di dalam salah satu parpol partai berlogo pohon.
"Dulu ada satu orang anggota parpol dari Jarkarta yang sering datang kesini untuk bermeditasi di Pesanggraha Soekarno dan Palenggahan Srigati. Tapi saat ia sudah mendapatkan tempat ia sudah jarang kesini lagi," tuturnya.

Selain Pesangragan Soekarno yang digunakan oleh presiden pertama Indonesia ini untuk bermeditasi ada juga Palenggahan Srigati dipercaya sebagai tempat beristirahat Prabu Brawijaya setelah kalah perang dari Raden Patah, tahun 1293.

"Tempat ini akhirnya dikenal sebagai petilasan Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Seiring berjalannya waktu, petilasan ini menjadi pesanggrahan dengan dibangunnya rumah kecil ini pada tahun 1975. Karena itulah, tempat ini diyakini untuk menjadi tempat ziarah orang-orang yang ingin menjadi penguasa," kata Marji menerangkan.

Marji menuturkan, banyak kisah mistis yang terjadi di Alas Ketonggo dan berhubungan dengan situasi politik-nasional. Seperti saat adanya beberapa tanaman jati yang sudah cukup tua tiba-tiba mengering dan mati. Hal tersebut entah disengaja atau tidak bertepatan dengan turunnya Soeharto dari jabatan Presiden Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 yang lalu

MENGUNGKP SAIAPA SEBENARNYA IBU RATU KIDUL : MANUSIA ATAU SILUMAN?


Kalau kita mendengar ratu kidul langsung terbayang hal-hal mistis, merinding badan kita, musrik dan tidak masuk akal. Sebelum saya cerita siapa sebenarnya beliau perlu diketahui dulu bahwa Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT paling mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk-makhluk ciptaan ALLAH lain sekalipun malaikat

Siapa Ibu Ratu Kidul? Kita kembali ke pada jaman dulu (jaman Hindu/Nabi Sis AS) tepatnya jaman Aji Saka, Aji Sakti dan Aji Putih. Ketiganya adalah kembar dan putra dari Raja Sungging Perbangkala dengan Ibu Ratu Dewi Arumba kerajaan dari India dekat Sungai Yamuna. Setelah meningkat dewasa ketiganya mempunyai kesaktian dan kepandaian yang setara sehingga membuat Raja melakukan sayembara kepada ketiganya untuk memperebutkan pusaka Kembang Cangkok Wijaya Kusuma yang selalu diikuti oleh pusaka Cakra Bijaksana dan Tiwi Krama. Siapa yang mendapatkan pusaka itu akan ditunjuk menjadi Raja. Oleh Patih Kerajaan, Patih Abiyasa yang sakti pusaka kembang cangkok wijaya kusuma dilempar jauh-jauh. Akhirnya ketiga putra raja mengejar pusaka itu dengan kesaktian mereka masing-masing.

Sampailah pada satu masa dan tempat dimana pusaka uitu ternyata jatuhnya di sekitar Nusantara tepatnya di pulau Jawa. Setelah berbulan-bulan mengejar akhirnya mereka tiba di pulau Jawa.
Singkat cerita seiring dengan waktu, ternyata yang menemukan pusaka itu adalah Aji Putih (bungsu). Dengan sikap yang elegan dan tenang disampaikanlah penenemuannya kepada Aji Sakti (tengah) dan dikatakan oleh Aji Sakti bahwa ini adalah kehendak Sang Hyang Wenang (Tuhan bahasa sekarangnya). Tiba-tiba datanglah Aji Saka (sulung) dengan nafsunya dan cenderung iri merebut pusaka itu dari Aji Putih tetapi ditahan oleh Aji Sakti sehingga tetap dipegang oleh Aji Putih. Pada saat itu Aji Putih mengatakan kalau memang kakak sulungnya memang menginginkan pusaka akan diberikan. Aji Saka mengatakan itu memang hak dia sebagai kakak tertua tetapi ditolak ole Aji Sakti dengan mengatakan sesuai dengan pesan dan janji dari ayahanda bahwa yang menemukan pusaka akan dijadikan raja maka Aji Putihlah yang berhak menjadi Raja.
Aji Saka terus beragumen dan tetap menginginkan pusaka tetapi selalu dibantah oleh Aji Sakti sehingga terjadilah perang mulut dan perang fisik diantara keduanya sementara Aji Putih tetap pasrah dan ikhlas. Disini ditunjuukkan bahwa pasrah dan ikhlas yang tawadu pasti menuai hasil yang baik.

Perang antara kakak-adik terus terjadi tidak ada yang menang dan yang kalah sampai waktu bertahun-tahun sampai berabad bahkan sekarang.Karena bosan berperang, Aji Saka akhirnya pergi ke timur tepatnya daerah Banyuwangi (Alas Purwo). Disitulah Aji Saka merintis dan mendirikan kerajaan secara turun menurun mulai dari Daha, Kediri,inga Ssari, Majapahit sampai Mataram. Ingat like father like son, sifat iri dan gila kekuasaan selalu menyertai perjalanan anak cucu Aji Saka sehingga kita dapat menyaksikan sejarah perebutan kekuasaan Ken Arok-Tunggul Ametung, Tribuana Tunggal Dewi sampai kerajaan Mataram menjadi dua Yogyakarta dan Surakarta bahkan sekarang keraton Surakarta sempat pecah memperebutkan kekuasaan mnjadi Mangkunegaran.

Bagaimana dengan Aji Putih? Aji Putih bersama turunannya mendirikan kerajaan Galeuh Pakuan sedangkan Aji Sakti mendirikan kerajaan Pajajaran yang sebenarnya hanya seolah-olah.Maksudnya mendikan kerajaan tetapi tidak menjadi raja 9jadi Pandita) dan selalu melindungi adiknya dari serangan Aji Saka.

Hubungannya dengan Ratu Kidul? Aji Sakti mempunyai 2 anak yaitu Dewi Sri Pohaci (sering dipanggil Cinde Maya) dan Jaka Manggala. Karena kecantikan Dewi Pohaci, banyak pria terutama kaum bangsawan menginginkannya menjadi calon istri mereka sehingga dibuatlah sayembara oleh Aji Sakti siapa yang dapat mengalahkan kesaktian Jaka Manggala maka akan ditunjuk sebagai suami Dewi Sri Pohaci. Seiring waktu, kesaktian Jaka Manggala tidak dapat dikalahkan oleh pria manapun sehingga membuat Dewi Sri Pohaci merenung dan sedih memikirkan nasibnya. Kalau begini terus bisa bisa gue nggak kawin-kawin nih (dalam hatinya). Sikap Dewi Sri Pohaci inilah membuat Jaka Manggala merasa bersalah tetapi dia sangat mencintai kakaknya sampai kapanpun.

Setelah merenung dan berpikir, Jaka Manggala memutuskan akan menghilang dari hadapan Dewi Sri Pohaci agar dapat menikah dengan pria idamannya dengan syarat dia menhilang tapi tidak jauh dari kakaknya. Caranya? Dengan kesaktiannya, Jaka Manggala masuk ke dalam kemaluan Kakaknya sampai ditemukan calon suami yang ideal buat kakaknya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sampai abad berganti abad, masuklah masa Islam di tanah Jawa. Suatu hari Wali Songo memanggil Panembahan Senopati untuk memberitahukan peristiwa besar yang akan dialami oleh Panembahan Senopati. Dikatakannya Panembahan Senopati akan menemukan calon istrini yang ideal tetapi ada petunjuk buat dia bahwa setelah menikah Panembahan Senopati dilarang untuk melakukan hubungan badan dengan istrinya selama 40 hari dan selama itu melakukan shalat Tahajud dengan amalan yang telah ditentukan.

Benar saja, suatu hari ketika berburu di hutan, Panembahan Senopati bertemu seorang wanita yang sangat cantik sekali dan dia sangat terpesona akan tutur bahasanya yang santun. Akhirnya wanita itu diajaklah ke kediaman beliau karena ternyata wanita itu tinggal seorang diri di hutan. Beliau mengabarkan kepada para wali apakah ini calaon istri yang ideal. Ternyata benar dan menikahlah keduanya tetapi Panembahan Senopati tidak lupa akan amant para wali selam 40 hari melakukan amalan dari para wali.

Pada hari ketiga terjadilah peristiwa yang akan mengubah tatanan dan sikap masyarakat Jawa terhadap pantai Selatan. yaitu ketika sedang wirid tepat di samping kelambu istrinya tiba-tiba Panembahan Senopati melihat seorang pria ada dalam kelambu itu. Ternyata pria di dalam kelambu itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jaka Manggala, adik dari istrinya yaitu Dewi Sri Pohaci (berganti nama menjadi Cinde maya pada jaman itu). Rupanya Jaka Manggala keluar dari kemaluan kakaknya karena tidak kuat lagi menahan panasnya energi yang keluar dari setiap ayat Qur’an yang diwiridkan oleh Panembahan Senopati.
Panembahan Senopati sempat berpikir apakan istrinya telah berbuat serong dan dikejarlah Jaka Manggala tetapi dengan kelihaiannya berhasil melarikan diri dengan cepatnya tanpa bisa dikejar oleh Panembahan Senopati. Ketika kembali ke kediaman Panembahan, ternyata Cinde Maya sudah tidak ada di kamarnya dan kelihatan melarikan diri juga karena merasa malu kepada Panembahan Senopati yang sudah dianggapnya sebagai pria dan suami yang baik dan beriman. Akhirnya dengan tergopoh-gopoh Cinde Maya sampailah di tepi jurang di Pantai Selatan dengan maksud bunuh dri ketika akan menceburkan diri, ada seorang pria yang memegang pundaknya sehingga selamatlah Cinde Maya. Siapakah Pria itu?

Pria itu adalah Nabi Khidir AS, dengan suara yang lantang ditegur dan dimarahilah Cinde Maya dengan mengingatkan bahwa sebagai manusia yang melakukan tindakan bunuh diri adalah dosa besar dan tidak diampuni oleh ALLAH SWT dan jaminannnya adalah neraka. Sambil menangis, Cinde Maya mengatakan apa yang harus dilakukan untuk menutupi aib itu. Oleh Nabi Khidir AS itu bukan aib tapi itu adalah takdir ALLAH SWT, atas seijin ALLAH, Nabi Khidir menawarkan kepada Cinde Maya untuk tinggal di Laut Selatan (alam gaib) sekaligus bertugas menjaga harta warisan Nabi Sulaeman AS (Nabi terkaya) dan juga ikut melestarikan alam lingkungan sepanjang pantai selatan Jawa. Cinde Maya menyetujuinya hingga sekarang masih menetapi laut selatan yang dikenal dengan Ibu Ratu Kidul.
Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang selama ini digambarkan dengan wanita cantik pada lukisan dan kemunculan di sekitar laut selatan? Wanita itu adalah Nyi Blorong, siluman yang merupakan panglima dari Ibu Ratu Kidul dengan sifat yang kurang baik seperti tidak ingin disamakan dengan manusia baik pakaian, fisik dan lain sebagainya, Kalau di darat dikuasai oleh Centing Manik (SIluman) sedangkan di pantai Utara Jawa dikuasai Dewi Lanjar (siluman).
Jadi kesimpulannya adalah Ibu Ratu Kidul adalah manusia juga yang mengalami proses penuaan fisik dan karena Kun Faya Kun-nya ALLAH, beliau dapat berada di dua alam serta selalu melindungi anak cucunya. Begitulah ceritanya, jadi sebagai manusia , kita tidak boleh takut pada hal-hal mistik, klenik dan lain sebagainya apalagi jin dan setan tetapi yang kita takutkan adalah diri kita sendiri dalam mengendalikan nafsu manusia. Haya min autiha ka bada min sahadati (bahasa ibrani: ingat akan adat kita yang sah sebagai manusia) mudah-mudahan bermanfaat dan terus tingkatkan ibadah kepada ALLAH SWT dan bermanfaat bagi manusia dan alam sekitarnya

MISTERI DI CANDI CETHO DAN PENATARAN



Masih soal misteri piramida di Jawa Barat, dibawah ini Pak Awang H Satyana berkisah tentang candi-candi di Jawa Barat.

Menurut Pak Awang usaha Pak Agung, Pak Timmy dkk-nya dari Yayasan Turangga Seta yang sedang mencari bukti bahwa Indonesia (Jawa) pada masa lalu pernah berkebudayaan sangat tinggi, berkebudayaan Atlantis (Santos, 2005), penakluk bangsa-bangsa seperti Afrika Utara, Timur Tengah dan Amerika (Indian), patut dipuji melihat semangatnya menggali masa lalu. Kini, termasuk menafsirkan bangunan dan relief candi-candi Sukuh, Cetho/Ceto/Ceta dan Penataran sebagai candi-candi yang ditafsirkannya lebih mirip bangunan piramida di Mesir atau piramida suku Maya di Amerika Tengah, daripada candi-candi Jawa, sekaligus relief2 yang menggambarkan penaklukan bangsa Timur Tengah dan Indian oleh Jawa.

Cukup menarik metode mereka menyamakan patung-patung dan relief-relief di ketiga candi itu dengan patung-patung dan ornamen2 dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Indian. Sangat jelas bahwa mereka sangat diinspirasi oleh buku Atlantis karya Santos (2005) yang menyebutkan bahwa kebudayaan membangun piramida berasal dari Jawa lalu menyebar ke Afrika, Timur Tengah dan Amerika Tengah.

Tetapi, menurut hemat saya, mereka hanya menampilkan sebagian patung dan relief yang dirasakannya mendukung tesis Santos (2005) saja, dan tidak memasukkan banyak patung dan relief yang sama-sekali tak berhubungan dengan Afrika Utara-Timur Tengah- Amerika Tengah. Relief dan arca di candi-candi Penataran, Sukuh dan Cheto tak hanya yang ada di artikel yang mereka tulis.

Candi Sukuh dan Cetho di Kabupaten Karanganyar, sebelah timur Solo, di lereng barat Gunung Lawu sudah diketahui sebagai candi-candi yang unik sejak zaman Stutterheim, ahli arkeologi Belanda, menelitinya pada tahun 1930-an. Pembuatan patung dan reliefnya memang lebih kasar daripada relief dan patung candi-candi pada umumnya, itu juga yang membuat Stutterheim berpikir bahwa pemahatnya bukan pekerja dari kalangan istana, tetapi pemahat biasa dari desa sekitarnya.

Beberapa prasasti yang agak kasar, yang masih memakai tarikh candrasangkala Saka (1416-1459 M untuk Candi Sukuh dan 1468-1475 untuk Candi Cetho) memastikan persamaan waktu urutan pembangunan kedua candi ini yang dibangun pada masing-masing ketinggian 910 m (Sukuh) dan 1470 m dpl (Cetho). Kedua candi dibangun secara punden berundak dan menghadap ke barat, mungkin ke arah Merapi (padahal mereka duduk di lereng Lawu, boleh diduga bahwa Merapi pada saat itu lebih aktif daripada Lawu, dan kedua candi ini barangkali dibangun untuk maksud tertentu dalam penyembahan terhadap Merapi).

Tak usah mengherankan mengapa pembangunannya menggunakan batuan andesitik sebab memang di lereng Gunung Lawu banyak material itu, seperti halnya candi-candi di Jawa Tengah. Gunung Lawu berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kedua candi ini dibangun di wilayah Jawa Tengah, sehingga masih memiliki sifat2 candi Jawa Tengah yang dibangun dengan batugunung, meskipun struktur bangunannya berbeda dari umumnya candi-candi Jawa Tengah, juga berbeda dari candi-candi Majapahit di Jawa Timur meskipun dibangun pada zaman Majapahit.

Tak usah diragukan lagi kronologi pembangunannya sebab tahun-tahun Saka itu (1 Saka=78 M) tercantum di candi tersebut, sehingga kita tak perlu mereka-reka kapan tahun pembuatannya.

Tak usah diherankan pula mengapa candi-candi ini mirip piramid, sebab kedua candi dibangun di lereng gunung yang cukup tinggi, sehingga dibangun berupa teras-teras yang berundak yang langsung digali di lereng gunung (tiga teras di Sukuh, dan tujuh di Cetho, dan di Sukuh masih ditambah dengan sebuah piramida besar ditopangi oleh sebuah lingga bertingkat dan sebuah sistem saluran air yang unik.

Pak Agung dkk dari Yayasan Turangga Seta hanya menampilkan patung2 dan relief2 yang dirasa mirip-mirip dengan gambaran orang2 dari Afrika, Timur Tengah dan Indian -sehingga cocok dengan tesis Santos (2005) tentang Indonesia adalah Atlantis yang pernah menaklukan Afrika, Timur Tengah dan Amerika. Padahal, ikonografi utama kedua candi bukanlah patung dan relief yang digambarkan Pak Agung dkk, melainkan figur-figur terpentingnya adalah (baik relief maupun arca) menggambarkan Bima dan adiknya Sadewa. Sekalipun mereka merupakan tokoh2 Mahabharata, di sini mereka muncul dalam adegan-adegan khas Jawa.

Gambaran2 Bima tampaknya berasal dari lakon Dewaruci yang dikenal baik oleh para penggemar wayang Jawa. Sadewa juga muncul pada sebuah karangan masa lalu bernama Sudamala, yang menceritakan bagaimana Sadewa berhasil meruwat Uma dari kutukan yang telah mengubahnya menjadi Durga. Tokoh lain yang menampilkan ideologi penyelamatan zaman itu adalah burung mistis Garuda yang muncul beberapa kali bukan sebagai tunggangan Wisnu tetapi sebagai tokoh otonom, Jatayu atau Garudeya, lakon dari pupuh pertama Mahabharata.

Beberapa arca, artefak penting telah dipindahkan ke museum Jakarta atau museum Surakarta entah kenapa sehingga bisa membuat ketidaklengkapan penafsiran. Misalnya di atas teras paling atas piramid di Candi Sukuh itu ada sebuah lingga besar yang kini ada di museum Jakarta. Juga dulu ada arca besar Bima yang kini telah berpindah sebagai koleksi pribadi seorang kolektor di Solo.

Akan halnya Candi Penataran/Panataran di dekat kota Blitar beradasarkan candrasengkala yang dipahatkan di candi itu diketahui bahwa candi ini pun dibangun pada zaman Majapahit pada 1369-1375 M. Candi induknya yang terdiri atas tiga tingkat pun dipenuhi relief yang lebih menceritakan kisah-kisah pewayangan Ramayana dibandingkan bangsa Jawa menyerang suku Indian seperti ditafsirkan pak Agung dkk. Tingkat pertama dihiasi relief Ramayana dengan adegan Hanoman datang di Alengka sebagai utusan Rama sampai tewasnya Kumbakarna. Di tingkat kedua dipahatkan kisah Kresnayana, cerita tentang bagaimana Kresna memperoleh istrinya, Rukmini. Candrasengkala termuda yang ditemukan di candi ini berangka tahun 1337 Saka (1415 M).

Pendek kata, meskipun Sukuh dan Cheto unik dalam struktur bangunannya, kedua candi ini masih didominasi oleh cerita pewayangan yang merupakan sinkretisme antara kebudayaan India dan Jawa, sebagaimana kita tahu yang merupakan pandangan hidup agama-agama Hindu (Penataran) dan Syiwa (Sukuh dan Cheto, yang di Indonesia berbentuk lingga). Keunikan struktur bangunan yang mirip piramid hanyalah sebagian kecil saja dari struktur candi, begitu juga keberadaan relief dan arca yang dirasa aneh.

Perlu diingat bahwa pada zaman Majapahit, Indonesia berhubungan sangat luas dengan wilayah-wilayah di seluruh Indonesia dan sekitarnya melalui program ekspansi selama zaman Tribuana Tunggadwi sampai Hayam Wuruk saat Gajah Mada menjadi mahapatihnya, baik dalam bentuk penaklukan maupun hubungan dagang saja. Pembangunan Sukuh dan Cheto serta Penataran sebagian ada pada zaman ekspansi itu.

Itu tak berarti sama sekali bahwa Indonesia (Jawa) adalah Atlantis. Itu hanya berarti bahwa pada zaman Majapahit memang pernah terjadi kejayaan Nusantara melalui politik ekspansi Sumpah Palapa, meskipun tokh tak sampai bertahan 200 tahun karena Majapahit yang jaya pun akhirnya mengalami ’sirna ilang kertaning bhumi - 1400 Saka (1478 M).
Maka buat saya, Candi Sukuh, Cetho dan Penataran tak membuktikan apa-apa tentang tesis Santos (205).

ILMU KARANG JATI

ILMU KARANG JATI

Salam Pamuji Rahayu dalem ingkang kangmas Ki wongalus dan sedulur semuanya saya Wong Djowo yang ndeso ini. Ijinkan saya pada kesempatan jum’at yang indah ini berbagi ilmu yang saya miliki. Sebagai sarana memperkaya khasanah keilmuan nusantara dan menjaga warisan leluhur kita agar tetap lestari sampai anak cucu nanti. sebelumnya mari kita bedah sedikit mengenai ilmu ini.

Ilmu Karang jati sejatinya adalah ilmu untuk pengaktifan empat unsur kekuatan yang ada di diri kita dan alam semesta. sebenarnya ilmu ini tidak ada namanya saat saya menerimanya dan diajarkan oleh leluhur saya di alam langgeng. Namun mengingat kekuatannya saya namakan ilmu karang jati. yang memiliki Makna Karang = Keteguhan. Dan Jati = Diri sejati / ingsun yang sejati. Maka bermakna keseluruhan ilmu keteguhan akan diri kita yang sejati. Apapun makna perhuruf adalah :

ALIF : disebut Ismu Zat tidak ada daya selain dia sang penguasa alam yang berdiri sendiri tanpa kekuatan apapun.
 
LAM : Yang bermakna Indera / ilmu yang pertama di diri manusia / Lisan dapat di artikan sebagai komunikasi kepada sang pencipta.

HA : Disebut juga dengan jantung Huwiya atau jantung pengetahuan atau Hidayah.
Ilmu ini memiliki empat unsur yang ada di alam semesta dan di diri kita, Orang jawa sering menyebutnya papat sedulur kalima pancer. dalam ilmu ini terkandung 4 huruf yang mewakili kekuatan semesta yakni ALIF, LAM, 

LAM, HA digabungkan akan bermakna ALLAH. Karena di dalam diri manusia terdapat zat Illahi yang senantiasa terhubung dengan sang pencipta. Didalam ruh ada sukma didalam sukma ada rahsa didalam rahsa ada nurrizzati atau cahaya illahi inilah konsep manunggaling kawulo gusti prinsip saya bahwa Allah dekat dengan kita apapaun tindakan kita semua akan bermuara dan dipertanggungjawabkan.

Adapun saya didatangi langsung oleh ruh leluhur yang menurunkan adalah Syekh Magrobi.. Ilmu karang jati lebih utamanya bukan sekedar sakti tapi juga menjadi manusia yang sempurna lahir batin. Inilah tata cara ngelmu karang jati mudah – mudahan bisa memperkaya pustaka ilmu leluhur.

IJazah :

Bissmillah Dengan atas ijin Allah dengan sempurna Ku ijazahkan Ilmu Karang jati dengan sempurna kepada KI Wongalus dan pembaca pada umumnya. (Terima ijazah kirim alfatihah ke Syeh Magrobi)
Amalan Karang jati :

Untuk Berbagai Hajat :

Ingsun amatek ajiku karang jati, aku sang satria pringgondani, pancer papat kiblat Jibril, israil, izrail, mikail kuasaning jagad sak buwono. Napasku Sulaiman, Bayuku Muhhammad rosoku magribi. Kaping papat kuasaning Alloh Aliiif, Laaam, Laaam, Haaa. Huu Allah 3X (tahan Napas) ……….(disebutkan hajatnya )…

. Ajiku Karang Jati sejatine kuoso, Digjaya kepareng kuasaning Alloh . Ajiku Karang Jati Padang atiku lan kuasaning gusti Alloh. (tahan Napas keluar pelan 7X) Dalam hati zikir ya qohharr7x, Ya Bathin 7x, Ya Latif7x. Tutup Allahu Akbar buang napas pelan2. (Baca setiap selesai salat 5 waktu selama Puasa)
-Puasa ngeruh (tanpa makan asalnya bernyawa) 21 Hari Kamis Jatuh malam Jumuah Kliwon. Aji dirapal selesai salat 7x.

-Baca Tawasul Karang Jati sebelum memulai amalan Karang Jati:

A. ISTIGHFAR 3X
 
B. ILLA HADARATIN NABIYUNA MUHAMMADIN SAW ALFATIHAH (BACA 1X)
 
C. ILLA HADARATIN AL FATIHAH KHUSUSON FII ARWAHI KHALAFUR ARASYIDIN ABU 
BAKKAR ASSIDDIQ WA UMMARRUBNUL KHOTTOB WA USTMAN NUBNUL AFFWAN WA ALIYYUBNU ABI THALIB ALFATIHAH (BACA 1X)
 
D. ILLA HADARATIN AL FATIHAH KHUSUSON FII ARWAHI NABIYULLAH KHIDIR BALYA IBNU MALKHAN AS (BACA 1X)
 
E. ILLA HADARATIN AL FATIHAH KHUSUSON FII ARWAHI MUHYIDDIN SULTHONUL AWLIYAA SYEKH ABDUL QADIR JAYLANI AL BAGHDADI (BACA 1X)
 
F. TSUMMA ILAIHI KHUSUSON AL FATIHAH FII ARWAHI AULIYAA SYEKH MAGROBI (BACA 1X)
 
 G. TSUMMA ILAIHI KHUSUSON AL FATIHAH FII ARWAHI : DALEM INGKANG SINUWUN KANJENG SUNAN KALIJOGO RADEN MAS SAID WALIYULLOH ING BUMI MATRAM AL FATIHAH (BACA 1X)
 
H. TSUMMA ILAIHI KHUSUSON AL FATIHAH FII RUUHI : (sebutkan nama sendiri)
 
I. TSUMMA ILAIHI KHUSUSON AL FATIHAH MINAL MUSLIMIN WAL MUSLIMAT AL AHYAAI MINHUM WAL AMWAAT MINAL QAADIHAL HAAJAAT (BACA 1X)
Benteng Ghoib:

INGSUN AMATEK AJIKU KARANG JATI, AKU SANG SATRIA PRINGGONDANI, PANCER PAPAT KIBLAT JIBRIL, ISRAIL, IZRAIL, MIKAIL KUASANING JAGAD SAK BUWONO. NAPASKU SULAIMAN, BAYUKU MUHHAMMAD ROSOKU MAGRIBI. KAPING PAPAT KUASANING ALLOH ALIIIF, LAAAM, LAAAM, HAAA. HUU ALLAH 3X (TAHAN NAPAS) MUNGSUH NING NGIDUL ABYAR KABEH, MUNGSUH NING WETAN KEKES KABEH, MUNGSUH NING KULON WUTO KABEH, MUNGSUH NING NGALOR BUBAR KABEH. AJIKU KARANG JATI SEJATINE KUOSO, DIGJAYA KEPARENG KUASANING ALLOH . AJIKU KARANG JATI PADANG ATIKU LAN KUASANING GUSTI ALLOH. (TAHAN NAPAS KELUAR PELAN 7X) DALAM HATI ZIKIR YA QOHHARR7X, YA BATHIN 7X, YA LATIF7X. TUTUP ALLAHU AKBAR BUANG NAPAS PELAN2.

- Puasa ngeruh (tanpa makan asalnya bernyawa) 21 Hari Kamis Jatuh malam Jumuah Kliwon. Aji dirapal selesai salat 7x.

- Malam Hari tepat jam 0.00 keluar rumah baca amalan dengan menghadap arah mata angin yang berbeda ngidul, ngalor, wetan, gulon masing2 satu kali searah jarum jam sehingga kembali ke posisi semula dan setiap rapal (diharuskan menahan napas karena dengan menahan napas semua kekuatan ghaib akan terhimpun dengan sempurna)

Hirup Hawa Ghaib atau Himpun kekuatan leluhur

INGSUN AMATEK AJIKU KARANG JATI, AKU SATRIA PRINGGONDANI, PANCER PAPAT KIBLAT JIBRIL, ISRAIL, IZRAIL, MIKAIL KUASANING JAGAD SAK BUWONO. NAPASKU SULAIMAN, BAYUKU MUHHAMMAD ROSOKU MAGRIBI. KAPING PAPAT KUASANING ALLOH ALIIIF, LAAAM, LAAAM, HAAA. HUU ALLAH 3X (TAHAN NAPAS) “INGSUN NGIRUP KEKUATANNE LELUHURIPUN ….. (SEBUTKAN LELUHURNYA )“ TES NRETES ING AWAKKU WIJIL ING SUKMAKU NJALMO ING BADANKU. TEGUH BATIN INGSUN LAN KUAT DIGJAYA ING KEPARENG KEKUATANE GUSTI ALLOH. LAHAULAWALA QUWWATA ILLABILLAHIL ALIYIL ADZIIM.

- Salat Taubat 2 rakaat lanjut salat hajat 4 rakaat

- Posisi Meditasi Lotus (Pusatkan konsentrasi baca amalan lakukan di pernapasan dada visualisasi energy

Roro Mendut, pelopor wanita perokok



Kali ini aku akan menceritakan tentang wanita perokok diantara berbagai tulisan yang mendiskreditkan wanita perokok yang terlihat selama ini, dimana sering dikatakan wanita perokok itu seram, murahan, nakal, tidak berotak dan sejenisnya. Tapi tahukah anda bahwa ada sebuah kisah sejarah yang menceritakan bahwa wanita perokok di nusantara itu bukan terjadi baru baru ini saja.

Adapun Roro Mendut, seorang wanita cantik yang hidup pada masa lalu di kerajaan Mataram pada era Sultan Agung berkuasa (sekitar abad 17). Roro Mendut diasuh oleh Adipati Pati (dulu namanya Pesantenan dan sekarang terkenal sebagai penghasil santan yang terkenal dan juga penghasil dawet, minuman khas Jawa yang menggunakan cendol dan santan).

Pati sendiri adalah sebuah kadipaten kecil yang belum ditaklukan oleh Mataram. Sultan Agung ketika menjabat raja Mataram, juga hendak menguasai kerajaan-kerajaan kecil yang masih bertebaran di pulau Jawa, termasuk mencaplok Pati sebagai salah satu kerajaan kecil di pesisir utara.

Politik yang dijalankan oleh Sultan Agung, jika tak perlu berperang, kenapa harus perang. Maka dijalankanlah usaha persaudaraan dengan perkawinan. Diutuslah Tumenggung Wiraguna untuk menaklukkan Pati.



Setibanya rombongan Mataram di Pati dan bertemu dengan Adipati. Melihat besarnya kekuatan Mataran, Pati akhirnya sepakat mengakui kekuasaan Mataram. Sebagai tanda taklukan, Adipati menyerahkan gadisnya kepada Tumenggung Wiraguna. Dipilihlah gadis asuhnya, Mendut untuk dijodohkan dengan Tumenggung Wiraguna.

Roro Mendut menolak karena sebetulnya dia telah mempunyai tambatan hati, seorang pemuda yang bernama Panacitra. Mereka menyembunyikan hubungan mereka ini dari Tumenggung Wiraguna. Backstreet istilahnya kalau jaman sekarang.

Tumenggung Wiraguna yang sakit hati karena ditolak pun lalu murka dan menerapkan pajak yang sangat besar untuk Pati. Dimana pajak itu tidak mungkin dapat dikumpulkan dengan mudah oleh sebuah daerah yang kecil seperti Pati tersebut.

Nah, karena kepepet dengan keadaan, naluri dagang Roro Mendut terpacu. Dia lantas melakukan survey, dari surveynya ini dia melihat bahwa banyak kaum bangsawan yang merokok. Lalu dia mendapat ilham untuk menjual rokok lintingannya, dimana dia menggunakan bibirnya untuk melekatkan kertas rokok dan juga membakarnya. Rokok bekas hisapannya ini lalu dijual dengan harga mahal, karena para bangsawan sangat terpukau dengan kecantikan dan pesona Roro Mendut.

Karena survey yang tepat (bukan hasil googling semata), rokok lintingan dan bekas sedotan Roro Mendut ini laris manis. Dana yang masuk pun sangat besar (seperti cukai rokok yang masuk ke negara Indonesia ) dan digunakan sebagai pembayaran pajak kepada Tumenggung Wiraguna.

Namun, Tumenggung Wiraguna yang masih kecewa dan sakit hati, terus memata-matai Roro Mendut. Akhirnya rahasia percintaan Roro Mendut dan Panacitra terbuka.

Tumenggung Wiraguna murka dan membunuh Panacitra dengan sebilah keris. Roro Mendut yang melihat kekasih hatinya meregang nyawa meratap dan bersumpah bahwa Wiraguna tak akan mendapat dirinya dalam keadaan hidup.

Roro Mendut mengambil keris yang menancap di dada Panacitra dan menggunakannya untuk membunuh dirinya..

Cerita tentang Roro Mendut ini merupakan cerita legenda yang beredar di Indonesia. Dimana menggambarkan telah dikenalnya potensi perempuan dalam pemasaran, bahkan di zaman kerajaan Jawa abad ke-17.

Di samping itu, penolakan Roro Mendut diperistri oleh Tumenggung Wiraguna yang notabene adalah seseorang yang kaya dan berkuasa, memperlihatkan adanya sifat kemandirian perempuan Nusantara yang telah ada, walaupun tidak umum, pada saat babad tersebut ditulis.

Dari cerita diatas, bisa disimpulkan bahwa wanita perokok tidaklah selamanya wanita nakal atau seram tapi wanita yang mandiri dan mempunyai visi kedepan dan juga… wanita yang setia….

Sepuluh Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga

1. Abu Bakar Siddiq ra.
Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.
2. Umar Bin Khatab ra.
Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.
3. Usman Bin Affan ra.
Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.
4. Ali Bin Abi Thalib ra.
Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.
5. Thalhah Bin Abdullah ra.
Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.
6. Zubair Bin Awaam
Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.
7. Sa’ad bin Abi Waqqas
Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.
8. Sa’id Bin Zaid
Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.
9. Abdurrahman Bin Auf
Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.
10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah
Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

Semua Dokter Asing di Indonesia Ilegal !


Dokter-dokter asing yang berpraktik di Indonesia baik yang di rumah sakit maupun yang memiliki klinik-klinik sendiri ternyata belum ada satupun yang memiliki izin praktik.

"Belum ada dokter asing yang teregistrasi praktik di Indonesia," ujar Prof Dr Hardiyanto Soebono, MD, PhD Chairman Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) di Gedung Kementrian Kesehatan, JL HR Rasuna Said, Jakarta.

Seharusnya semua dokter yang berpraktik di Indonesia harus teregistrasi terlebih dahulu oleh konsil kedokteran. Hingga 31 Januari 2010 dokter yang sudah teregistrasi oleh konsil kedokteran sebanyak 108.132 tenaga kesehatan dengan perincian 69.023 dokter umum, 18.314 dokter spesialis, 19.341 dokter gigi dan 1.464 dokter gigi spesialis. Semua dokter yang sudah teregistrasi ini adalah dokter dalam negeri.

"Dulu pernah ada dokter dari Jepang yang meminta izin untuk praktik tapi terpaksa kita tolak. Karena dia mengaku sebagai internis, tapi ternyata kualifikasinya tidak sesuai dan juga tak ada jaminan kalau dia tidak akan melayani orang Indonesia," ujar Prof Hardiyanto.

Sedangkan Ketua KKI Prof dr Menaldi Rasmin, SpP (K) menuturkan bagi dokter asing ada beberapa tahapan yang harus dilalui untuk bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR), yaitu:

1. Harus ada surat permintaan dari Indonesia atau atas keinginan dokter itu sendiri.
2. Memiliki letter of good standing dari organisasi kedokteran di negaranya yang menerangkan mengenai kualifikasi dokter tersebut.
3. Jika ingin berpraktik di sini harus melapor ke kolegium yang sesuai dengan kualifikasinya (paru-paru, kulit kelamin, jantung atau yang lainnya) di Indonesia untuk mendapatkan surat rekomendasi.
4. Berdasarkan surat rekomendasi dari kolegium di sini, dokter asing dapat mengurus STR ke Konsil Kedokteran Indonesia.
5. Tim konsil kedokteran akan melakukan verifikasi terhadap kompetensi dari dokter tersebut, jika memenuhi syarat maka dokter asing bisa mendapatkan STR.
6. Setelah mendapatkan STR, maka lapor ke dinas kesehatan daerah untuk meminta izin praktik kedokteran.

"STR yang diberikan untuk dokter asing hanya bersifat sementara yaitu untuk jangka waktu 1 tahun dan hanya bisa diperpanjang satu kali. Setelah itu dokter asing harus kembali ke negaranya," ujar Prof Menaldi.

"Dokter asing boleh saja berpraktik di Indonesia tapi harus ada izin dan mengikuti peraturan yang berlaku di sini. Sampai saat ini tidak bisa teregistrasi dengan baik karena banyak dokter asing yang masuk secara sembunyi-sembunyi," ujar Dirjen Pelayanan Medik Depkes dr. Farid W. Husain, Sp.B (K).

Sanksi yang diberikan bagi dokter asing ilegal ini adalah dipulangkan ke negaranya. Tapi jika dokter asing ini sudah melakukan kelalaian dalam memberikan pelayanan kesehatan maka bisa jadi akan masuk ke wilayah hukum.

Setiap masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik, karenanya dokter yang melayani pun seharusnya sudah teregistrasi dan memiliki izin untuk berpraktik dan memberikan pelayanan kesehatan.

Masyarakat harus menyadari bahwa belum tentu dokter asing memiliki kompetensi lebih baik dibandingkan dengan dokter di Indonesia.

Dokter asing yang masuk ke Indonesia biasanya dari sekitar Asia seperti, China, Pakistan, India, Korea, Jepang Filipina, Taiwan. Beberapa dokter asing juga diketahui berasal dari wilayah luar Asia seperti Brazil dan Australia.

Praktik dokter asing itu biasanya dilakukan di rumah sakit swasta atau bekerja dengan pengusaha-pengusaha di hotel. Biasanya dokter asing ini juga bekerja untuk karyawan-karyawan perusahaan dan juga perusahaan asing.

Bahkan beberapa dokter asing diketahui membuka klinik sendiri meski tidak secara terang-terangan. Soal tarif juga biasanya lebih mahal. Dokter asing ini biasanya menyasar ke kantong-kantong pemukiman orang kaya.

Serbuan dokter asing ke Indonesia diduga akan makin marak setelah pemberlakuan ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2010. Namun depkes tetap menegaskan dokter asing harus teregisterasi jika tak ingin dicap ilegal.