Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Saturday, September 17, 2011

Syair Cinta Laila Majnun Yang Sangat Menyentuh (Bahasa Cinta)






Di tulis oleh seorang sufi Persia iaitu Hakim Nizami Ganjavi. Kisah Laila Majnun adalah kisah antara Imra’il Qais dan Laila. Ini adalah kisah perjalanan seorang sufi untuk sampai kepada Tuhannya, pada proses cinta, dimana kecintaan telah membuat Majnun menanggalkan keegoannya, memandang dirinya dan penciptanya sebagai sebuah kesatuan yang tak terpisah, sehingga mencapai tahap peniadaan diri.
Kita dihadapkan pada perjuangan yang bukan saja menembus batas harga diri, tetapi juga mengorbankan darah dan nyawa dari orang-orang yang berpihak. Perjalanan Majnun mencintai Laila, perasaan Laila terhadap Majnun, syair2 yang berada diantara mereka, pilihan hidup mereka yang mempengaruhi orang2 di sekitar mereka, secara keseluruhan menggambarkan berbagai sisi kehidupan.
Bukankah suatu kegilaan bila kita terbakar selamanya dalam nyalaan api. ? Bukankah suatu kegilaan jika tidak makan dan tidur sedikitpun. ? Semakin ubat dicari semakin parah sakitnya.. Begitu dekat, namun terasa begitu jauh..
Hanya kata “Laila” yang sangat berarti. Ketika orang membicarakan hal lain, ia akan menutup telinganya dan mengunci mulutnya.
Katakan padanya: “Orang yang telah mengorbankan segalanya untuk-Mu menyampaikan salam dari jauh. Titipkan sehembus nafas-Mu melalui sang angin untuk memberitahu dia bahawa engkau masih memikirkannya.”
“Oh lilin jiwaku jangan kau siksa diri ku, ketika aku mengelilingimu, kau telah memikatku, kau telah merampas tidurku, akalku juga tubuhku.”
Laila adalah cahaya fajar, Majnun adalah sebatang lilin Laila adalah keindahan, Majnun adalah kerinduan Laila menabur benih cinta, Majnun menyiraminya dengan air mata Laila memegang cawan anggur cinta, Majnun berdiri mabuk oleh aromanya
“Aku bagaikan orang yang kehausan, kau pimpin aku menuju sungai Eufrat, lalu sebelum sempat aku minum, kau menarikku dan kembali ke kawasan panas membara, padang pasir yang tandus !..
Kau mengajakku ke meja jamuan, tapi tidak pernah mempersilakanku makan ! mengapa kau menampakkannya kepadaku di awal, jika tidak pernah berniat untuk membiarkan aku memiliki hartaku.?”
“Aku melihat matanya dalam matamu, lebih hitam dari kegelapan. Namun bayangannya tidak akan kembali oleh hanya kesamaan. Kerana apa yang telah hilang dariku tidak akan digantikan. Dan yang tersisa hanyalah kenangan yang menyakitkan.”
“Setiap hembusan angin membawa harumanmu untukku. Setiap kicauan burung mendendangkan namamu untukku. Setiap mimpi yang hadir membawa wajahmu untukku. Aku milikmu, aku milikmu, jauh maupun dekat. Dukamu adalah dukaku, seluruhnya milikku, di manapun ia tertambat.”
Di alam ini semua hal ditakdirkan untuk binasa, tidak ada yang abadi. Namun, jika Anda “mati” sebelum Anda mati, berpaling dari dunia dan kemunafikan wajahnya, Anda akan meraih keselamatan dalam kehidupan yang abadi. Terserah pada Anda: Anda adalah penentu bagi takdir Anda sendiri. Pada akhirnya kebaikan akan bersatu dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan. Ketika rahasia Anda diteriakkan dari puncak gunung dan gaungnya kembali, Anda akan mengenali suara itu sebagai suara Anda sendiri..
Jalan kita berbeza dan tidak akan pernah bertemu.. Kau adalah sahabat bagi dirimu sendiri. Diriku adalah musuh terbesarku.
Apakah kau fikir akulah yang kau lihat dihadapamu ?.
Kau membayangkan bahawa kau melihatku,
tapi dalam kenyataannya aku tidak ada lagi.
Aku telah tiada dan hanya yang dicintai yang kini tersisa.
Akhirnya seorang sufi bermimpi melihat Majnun berada di samping Tuhan, dan Tuhan membelai-belai kepala Majnun dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Majnun disuruh duduk di samping Tuhan, lalu Tuhan berkata: “Tidakkah engkau malu memanggil Aku dengan nama Laila setelah kau teguk anggur cinta-Ku? “ sufi itu terbangun dalam keadaan cemas, Ia melihat posisi Majnun, tetapi di manakah Laila.. ? Tuhan mengilhamkan dalam hatinya, bahwa posisi Laila lebih tinggi lagi, karena Laila menyembunyikan kisah cinta dalam hatinya.
Laila..
berlalu masa,saat orang meminta pertolonganku
dan sekarang adakan seseorang penolong
yang akan memberitahu rahsia jiwaku pada Laila?
wahai Lailacinta telah membuatkan aku lemah tak berdaya
sperti anak hilang,jauh dari keluarga dan tidak
memiliki harta..
wahai angin
sampaikan salam ku pada Laila!tanyakan padanya adakah dia masih mahu berjumpa dgnku?
bukankah aku telah berkorban kebahagianku kerananya?
hingga diri ini terbiar,sengsara di padang pasir gersang..
wahai kesegaran pagi yang murni dan indah,
mahukah kau sampaikan kerinduanku pada Laila?
belailah rambutnya yang hitam berkilau,
untuk mengungkapkan dahagacinta yg memenuhi hatiku..
wahai angin mahukah kau membawa keharuman rambutnya kepada ku? sebagai pelepas rindu di hati..

Sejarah Jalaluddin Rumi


Jalaluddin Rumi, penyair mistik terbesar Persia, dilahirkan tahun 1207 di Balkh, sebuah kota provinsi Khurasan, Persia Utara. Pada saat itu kota ini berkembang dengan baik di bawah kekuasaan Muhammad, Shah terbesar dari dinasti Khawarizmi yang kekuasaannya sebagaimana digambarkan oleh E.G.Browe,"meliputi Pegunungan Ural di sebelah utara sampai ke Teluk Persiadi sebelah selatan, dan dari Sungai Indus di sebelah timur sampai dengan sungai Efrat di sebelah Barat." Keluarga dari mana penyair ini berasal setelah menetap di Balkh selama beberapa generasi, keluarga ini sangat terhormat serta, menurut para penulis biografinya, memperlihatkan rangkaian tokoh yang berhasil di bidang hukum dan keagamaan. Sepanjang yang dapat diketahui dengan pasti, sejarahnya di mulai dari kakeknya yang terkenal, yang dinyatakan sebagai keturunan dari Arab1 dan berakhir pada Abu Bakar, khalifah pertama dalam masyarakat Islam.

Sekalipun biografi Rumi model timur, sebagaimana halnya dengan kehidupan orang suci Persia lainnya, sebagian besar merupakan legenda, sementara karya-karyanya sendiri tidak menyumbangkan apapun yang berkenaan dengan fakta-fakta historis. Tetapi kita masih beruntung memiliki beberapa sumber informasi yang tua, yang relatif dapat dipercaya kebenarannya2. Sketsa berikut, berdasarkan bahan-bahan utama yang ada, secara singkat memberikan garis besar kehidupan Rumi dan melukiskan beberapa kejadian yang menjadi sumber antusiasme mistis serta inspirasi puitisnya.

Pada tahun 1219, ketika Jalaluddin Rumi berusia 12 tahun, ayahnya, Bahauddin Walad, secara tiba-tiba bersama keluarganya meninggalkan Balkh dan melakukan perjalanan menuju barat. Alasan yang dinyatakan orang (secara positif tetapi tanpa bukti) mengenai kepindahan ini, sebagai akibat dari inspirasi Ilahi maupun intrik manusiawi, tentu saja fiktif. Tidak dapat diragukan lagi bahwa Bahauddin, seperti ribuan orang lainny, melarikan diri sebelum datangnya gerombolan Mongol yang sangat mengerikan , yang tengah membumi hanguskan Khurasan dan sudah mendekati kota asalnya. Berita tentang penjarahan ini sampai di tempat-tempat yang asing dalam perjalanan mereka menuju Baghdad atau tempat lain di Baghdad ke Mekkah, saat mereka menuju ke Damaskus dan akhirnya menetap di Rum (Turki).

Rumah mereka yang pertama adalah Zarandah, kira-kira 40 mil sebelah tenggara Konya, dan di situ Jalaluddin Rumi menikah. Pada tahun 1226 lahirlah anaknya yang tertua, Sultan Walad. Kemudian Bahauddin beserta keluarganya pindah ke Konya yang merupakan ibokota kerajaan Bani Saljuk Barat, dan disanalah dia wafat pada tahun 1230. Dikisahkan bahwa dia telah menjadi seorang teolog yang terkenal, seorang guru dan khatib besar yang dimulikan oleh para muridnya dan sangat dihormati oleh pihak kerajaan karena bertindak sebagai penuntun spiritualnya. Sekitar waktu inilah Burhanuddin Muhaqqiq at Tirmizi seorang petani murid Burhanuddin ketika masih tingal di Balkh tiba di Konya. Di bawah pengaruhnya dikatakan bahwa, Jalaluddin yang sekarang berusia 25 tahun menjadi sangat bergairah kepada disiplin dan ajaran-ajaran para Sufi (orang-orang lelaki atau perempuan yang berusaha menyatukan diri mereka dengan Tuhan). Selama 10 tahun berikutnya ia mencurahkan diri untuk meniru Pir-nya dan mengalami seleruh maqam kehidupan Tasawuf, sehingga karena Burhanuddin wafat pada tahun 1420, maka dia memanku jabatan Syeikh, sehingga dengan demikian mulailah, sekalipun tidak di rencanakan terlebih dahulu langkah untuk menciptakan persaudaraan antar murid. Pribadi Rumi memang sangat menarik dan jumlah muridnya terus bertambah.

Sisa hidupnya, sebagaimana yang digambarkan oleh anaknya sendiri, terbagi menjadi 3 masa, yang setiap masanya ditandai keintiman mistis untuk mencapai tingkat "Manusia Sempurna",yaitu seorang dari orang-orang suci yang mencerminkan sifat-sifat Ilahi, sehingga pencinta itu melihat dirinya sendiri dengan cahaya Tuhan, dirinya dengan kekasihnya bukanlah dua melainkan satu. Pengalaman seperti ini terbentang dalam setiap inti Teosofi Rumi, yang secara langsung maupun tidak langsung mengilhami seluruh puisinya. Dalam syair naratif anaknya, yang adalah juga seorang sufi hal itu secara hati-hati digunakan untuk mencapai maksud yang luas karena unsur alegori. Sekalipun demikian serta merta ia akan menolak seluruh sejarah sebagai fiksi orang alim, mengingat bahwa pada saat ia di tulis toh ada juga saksi hidup yang dapat mengatakan apakah itu fakta atau bukan, sebagaimana yang telah mereka saksikan sendiri.

Pada tahun 1244 seorang sufi pengembara, yang diketahui keturunannya dengan Syamsuddin at-Tabrizi datang ke Konya. Dalam diri orang asing inilah Jalaluddin menemukan menemukan bayangan sempurna dari kekasih Tuhan yang telah lama di cari-carinya. Rumi membawanya ke rumah dan untuk satu dua tahun lamanya mereka tinggal bersama, tidak dapat dipisahkan. Sultan Walad menampakkan persahabatan suci yang mengasyikkan antara ayah dengan " orang suci yang tersembunyi" ini dengan perjalanan Nabi Musa yang terkenal dalam persahabatannya dengan Nabi Khidir (Al-Quran,xviii, 64-80), orang bijak yang oleh para sufi dipandang sebagai penerang (hierophant) utama dan penunjuk jalan menuju Tuhan. Sementara itu, para murid Maulevi (Mevlevi)3 Rumi dihentikan pengajarannya dan di stop dialog mereka dengan sang guru. Mereka marah sekali atas kesetiaan sang guru yang terus berlangsung hanya kepada Syamsuddin yang lalu menyerang "pengacau" itu dengan perlakuan kejam dan ancaman yang keras. Akhirnya Syamsuddin pergi ke Damaskus, namun di bawa kembali atas keberhasilan Sultan Walad yang diutus mencarinya oleh Jalaluddin yang sangat terganggu oleh hilangnya sahabat yang paling akrab. Karena itu para muridnya "menyatakan penyesalan" dan di maafkan. Tak lama kemudian, bagaimanapun juga kecemburuan mereka mulai mengusik lagi yang menyebabkan Syamsuddin mencari perlindungan ke Damaskus untuk kedua kalinya dan kembali lagi Sultan Walad mengundang untuk memulihkan keadaan. Akhirnya, mungkin pada tahun 1247, orang aneh itu menghilang tanpa meniggalkan jejak.

Sultan Walad menggambarkan secara hidup kegairahan dan meluap-luapnya emosi yang membanjiri ayahnya pada saat itu.

"Tidak pernah sejenakpun dia berhenti mendengarkan musik (sama'), dan menari ;
Tidak pernah dia melepaskan lelah baik siang maupun malam.
Telah menjadi seorang mufti: dia menjadi penyair;
Telah menjadi seorang pertapa: ia menjadi mabuk oleh cinta.
Bukanlah anggur biasa: jiwa yang terang hanya meneguk anggur cahaya".

Di sini Sultan Walad menyinggung Diwan-i Syamsi-i Tabriz (Lirik-lirik Syamsuddin at-Tabrizi), kumpulan ode mistik yang di gubah oleh Jalaluddin atas nama Syamsuddin dan dipersembahkan untuk mengenang sahabat karibnya yang telah tiada. Baris pertama tidak menegaskan, kecuali mungkin hanya memberikan kesan mengenai ucapan para ahli yang menyatakan bahwa kesedihan atas hilangnya Syamsuddin at-Tabrizi menyebabkan Jalaluddin melembagakan tarian religius Mevlevi yang khas dengan iringan syahdu seruling bambu.

Masa selanjuntya (sekitar 1252-1261) kehidupan Ruhani Jalaluddin bagai seorang yang pingsan berkali-kali samapi akhir hayatnya. Untuk beberapa tahun setelah hilangnya Syamsuddin, ia mencurahkan semuanya kepada Shalahuddin Faridun Zarkub, yang sebagai pengganti (khalifah)-nya telah memberikan petunjuk-petunjuk untuk tugas sebagai pelatih bagi para pembantu dalam upacara Tarekat Mevlevi.

Atas kematian Shalahuddin (sekitar 1261) gairah puitisnya menemukan sumber inspirasi yang baru dan melimpah pada murid lainnya, Husamuddin Hasan ibn Muhammad ibn Hasan ibn Akhi turk, seorang yang namanya secara mistis dihubungkan dengan karya terbesarnya Masnawi (syair epik) yang terkenal. Ia menyebut Masnawi sebagai "buku Husam" dan menyamakan dirinya seperti sebuah seruling di atas kedua bibir Husamuddin yang terus mengalirkan "musik lengkingan yang ia ciptakan". Selama 10 tahun terakhir dari kehidupan sang penyair, pengikut yang disayanginya ini bertindak sebagai Khalifah-nya, sampai Rumi wafat tahun 1273, yang kemudian menggantikannya sebagai pimpinan Tarekat Mevlevi, sebuah martabat yang dipegangnya hingga 1284. Baru setelah itu Sultan Walad menggantikan kedudukannya.

Dari tangan pertama inilah cerita tentang kehidupan Rumi disampaikan dalam bentuk syair oleh anaknya dan para penulis biografinya menambah sedikit cerita yang dapat dipertimbangkan, baik bagi perlunya maupun validitasnya. Dari Aflaki serta lainnya kitamendengar bahwa Rumi adalah penunjuk, pemikir dan teman yang tidak hanya bagi menteri Mu'inuddin, Parwanah (Gubernur) Rum, tetapi juga bagi tuan rajanya sendiri, Sultan Ala 'uddin. Bagaimanapun hal ini menunjukkan bahwa ia beserta kelompok orang-orang sufi memperoleh bantuan serta posisi untuk tetap bertahan menghadapi serangan atas ajaran mereka. Penyair ini mengambil sikap yang tegas sesuai dengan kritik-kritik ortodoksnya. Ia menyebut mereka sebagai "orang-orang tolol" dan "anjing-anjing kampung yang menyalak di tengah malam".

Tipe Platonis tentang cinta mistis talah diusahakan oleh para Sufi jauh sebelum sajak Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa dirinya dan Syamsuddin Tabriz adalah "dua tubuh dengan satu jiwa". Dalam persatuan jiwa-jiwa yang saling mencintai ini seluruh perbedaan menjadi hilang, tiada yang tinggal kecuali hanya kesatuan essensial cinta, dimana "pencinta" dan "kekasih" telah menggabungkan identitas keterpisahannya. Dalam sebuah lirik-lirik Diwan-i Syams-i Tabriz, Rumi tentu saja mempergunakan nama Syams sepertinya Syamsuddin dan dirinya telah mejnadi identik dengan satu orang. Meskipun bagi kita figur Syamsuddin mungkin tampak tidak substansial, namun kita tidak dapat menerima (menyetujui) pandangan beberapa sarjana modern yang mengatakan bahwa Syamsuddin tidak lebih sebagai personifikasi dari kecakapan puitis dan mistis Jalaluddin sebagai suatu padanan kata bahasa timur dari "Muse". Mereka yang menyetujui teori ini secara logis harus memperluasnya sehingga termasuk juga Shalahuddin dan Husamuddin serta hampir tidak dapat terhindari implikasi bahwa Sultan Walad telah menciptakan tiga karakter imaginer untuk memainkan peranan utama dalam kehidupan ayahnya serta dalam membangun Tarekat Mevlevi. Orang-orang barat yang mempelajari Diwan dan Masnawi akan menarik kembali suatu garis paralel batas-batas itu dengan cara lain. Tidakkah Dante mengubah roman Donna Gentil yang merupakan obyek dari keinginan romantisnya ke kebijaksanaan langit dan keagunggannya di bawah nama Beatrice?

1. Nama kakek Jalaluddin Rumi adalah Jalaluddin Husain al-Khatib.
2. Materi yang sangat penting mengenai biografi Rumi adalah Ibtida-namah (Buku Pendahuluan), sebuah syair naratif panjang yang disusun oleh anak Rumi sendiri, Sultan Walad. Informasi yang berharga terkandung juga dalam Manaqib al 'Arifin (Kebajikan orang-orang 'Arif)-nya Aflaki, murid dari cucu lelaki sang penyair Chelebi 'Arif, yang oleh C.Huart diterjemahkan sebagai Les Saints des derviches Tourneurs (Paris 1918-1922). Lagipula, juga ada beberapa buku seperti Fihi ma Fihi ( Di dalamnya apa yang ada di dalamnya) diterbitkan di Teheran dan Azam garh,1928. Dan Maqalat-i Syams-i Tabriz (Wejangan-wejangan Syamsuddin at-Tabrizi) yang sekalipun hanya sedikit memberi keterangantentang kehidupannya, jelas menerangkan gagasan-gagasan serta ajaran-ajaran sang penyair. Di zaman modern sarjana Persia Badi' az-Zaman Furuzanfar telah menulis studi kritis yang sangat berharga tentang kehidupan Rumi, Syarh-i hal-i Maulana (Biografi Tuan Kami), Teheran,1932. Dan Dr. H.Ritter yang telah menyumbangkan sebuah resensi biobibliografi semua tokoh (di Der Islam,1940-1942) yang sama bagusnya dengan yang diperlukan oleh orang-orang yang berkepentingan dalam bidang penelitian ini.
3. Gelar untuk para pengikut Rumi, diantara mereka disebut sebagai Maulana (Tuan Kami). Mevlevi adalah lafaz (bahasa) Turki untuk Maulawi.

”Pengalaman Mistik Kaum Sufi”

[ oleh: Prof. Dr. NURCHOLISH MADJID (Alm.) ] Tabloid Tekad No.18/II — Minggu lalu, Prof Annemarie Schimmel –seorang tokoh kaliber dunia, ahli Islam dari Jerman– menyampaikan tiga orasi ilmiah mengenai Tasawuf (Sufisme) di Jakarta. Kunjungannya disambut dengan penuh minat oleh para pecinta Tasawuf. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita sedikit merefleksikan arti tasawuf dan kehidupan kaum Sufinya dalam orientasi keagamaan kita.
Nabi Muhammad s.a.w. sering disebut sebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam mewujudkan misi sucinya. Bukti yang biasa dipakai untuk mendukung penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial-politik, khususnya dalam bentuk keberhasilan ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad s.a.w., sama halnya dengan beberapa Nabi yang lain seperti Musa dan Dawud a.s., adalah seorang “Nabi Bersenjata” (Armed Prophet), sebagaimana dikatakan oleh sosiolog terkenal, Max Weber.
Oleh karena kenyataan itu, ada sementara ahli yang hendak mereduksi misi Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripada suatu gerakan reformasi sosial, dengan program-program seperti pengangkatan martabat kaum lemah (khususnya kaum perempuan dan budak), penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkan keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umat manusia (egalitarianisme), dan lain-lain.
Dalam pandangan mereka yang parsial itu, Nabi Muhammad s.a.w. tidak bisa disamakan dengan Nabi `Isa al-Masih, karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak mengandung kedalaman keruhanian pribadi. Mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan Nabi Musa a.s. dan para Rasul dari kalangan anak turun Nabi Ya`qub (yang bergelar Isra-El), yang mengajarkan tentang betapa pentingnya berpegang kepada hukum-hukum Taurat (Talmudic Law).
Padahal, di samping segi sosial-politik itu, Islam –seperti ditunjukkan dalam Al-Qur’an– juga banyak menegaskan pentingnya orientasi keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath), yakni antara di satu pihak agama Yahudi yang legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan itu dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta pengalaman ruhani serta membuat agama itu lembut. Seperti dikatakan oleh Ibn Taymiyyah, “Syari`ah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syari`ah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syari`ah Al-Qur’an menengahi dan meliputi keduanya itu.”
Maka, sebagai bentuk pertengahan dan sekaligus antara kedua agama pendahulunya itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah laku manusia secara lahiriah seperti pada agama Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Kristen.
Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Artinya, ketika seorang Muslim dituntut untuk tunduk kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia diharapkan, malah diharuskan, menerimanya dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya. Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya.
Kenyataan ini tecermin dalam susunan kitab-kitab fiqih, yang selalu dimulai dengan bab pensucian (thaharah) sebagai awal perjalanan pensucian batin. Walaupun tetap ada kemungkinan orang mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana pula yang batiniah.
Sebenarnya, sudah sejak zaman Rasulullah s.a.w. sendiri terdapat kelompok para Sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut, misalnya, kelompok ahl al-Shuffah, yaitu sejumlah Sahabat yang memilih hidup sebagai faqir dan sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwa kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diacu sebagai teladan kehidupan saleh di kalangan para Sahabat.
Al-Qur’an sendiri juga memuat berbagai firman yang merujuk kepada pengalaman spiritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kali pengalaman Nabi bertemu dan berhadapan dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertama ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyu pertama di gua Hira’, di atas Bukit Cahaya (Jabal Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliau dengan perjalanan malam (isra’) dan naik ke langit (mi`raj) yang terkenal itu.
Kedua pengalaman Nabi itu dilukiskan dalam Kitab Suci (Q. 53: 1-18) demikian:
Demi bintang ketika sedang tenggelam
Sahabatmu sekalian itu tidaklah sesat atau pun menyimpang
Dan ia tidaklah berucap karena menurutkan keinginan
Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan
Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa
Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri secara sempurna
Yaitu ketika ia berada di puncak cakrawala
Kemudian ia pun mendekat, dan menghampiri
Hingga sejarak kedua ujung busur panah, atau lebih dekat lagi
Lalu Tuhan wahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan-Nya
Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya sendiri
Apakah kamu semua akan membantahnya tentang yang ia saksikan?
Padahal sungguh ia telah menyaksikan pada lain kesempatan
Yaitu didekat Pohon Sidrah (Lotus), di alam penghabisan
Di sebelahnya ada Surga tempat kediaman
Ketika Pohon Sidrah itu diliputi cahaya tak terlukiskan
Penglihatan Nabi tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah
Sungguh ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang Agung tak terkira.
Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam Isra-Mi`raj itu adalah sebuah contoh puncak pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman ruhani yang tertinggi, yang hanya bisa dipunyai oleh seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk meniru dan mengulanginya bagi diri mereka sendiri, dalam dimensi, skala, dan format yang sepadan dengan kemampuan mereka.
Hal ini dikarenakan inti pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat akan situasi diri yang sedang berada di hadapan Tuhan, dan bagaimana ia “bertemu” dengan Dzat Yang Maha Tinggi itu. “Pertemuan” dengan Tuhan, dengan sendirinya, juga merupakan puncak kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadis sebagai “sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata.”
Hal ini karena dalam pertemuan tersebut segala rahasia kebenaran “tersingkap” (kasyf) untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur serta sirna (fana’) dalam Kebenaran. Oleh karena itu, Ibn ‘Arabi, misalnya, melukiskan “metode” atau thariqah-nya sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari kehidupan ramai.
Hidup dengan “pengunduran diri” dan sikap penuh kepasrahan tersebut memang bisa mengesankan kepasifan dan eskapisme. Akan tetapi, sebagai dorongan hidup bermoral, pengalaman mistis kaum Sufi sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karena itulah ajaran Tasawuf juga disebut sebagai ajaran akhlak.
Dan akhlak yang hendak mereka wujudkan ialah yang merupakan “tiruan” akhlak Tuhan, sesuai dengan sabda Nabi yang mereka pegang teguh, “Berakhlaklah kamu semua dengan akhlak Allah.” Wallahualam bissawab…

makam Kawah Tengkurep



Makam kawah tengkurep adalah makam keluarga Sultan Mahmud Badarudin. Makam ini terletak di simpang tiga boom baru, konon, pintu di kawah tengkurep ini tidak mempunyai engsel. Makam ini banyak dikunjungi oleh peziarah maupun murid-murid untuk menambah wawasannya...

Foto Kecelakaan Istri Saiful Jamil | Foto Mayat Virginia Istri Saiful jamil


Foto Kecelakaan Istri Saiful Jamil, Foto Mayat Virginia Isti Saiful jamil seperti yang kita ketahui bahwa pada hari sabtu lalu pedangdut saiful jamil mengalami kecelakaan maut dimana kecelakaan tersebut merenggut nyawa istrinya yang baru di nikahi 6 bulan yang lalu, bagi yang penasaran pengen melihat foto kecelakaan istri saiful jamil berikut ini saya berikan fotonya untuk anda seklain
Dikabarkan bahwa Virginia istri saiful jamil tersebut tewas di tempat kejadian kecelakaan dimana akibat kecelakaan tunggal tersebut istri siful harus menghembuskan nafas terakhir, dan bagi yang penasaran pengen melihat kondisi jasad atau mayat Virginia saat kejadian berikut ini ada satu foto yang memperlihatknya

Kronologi kecelakaan yang dialami saiful jamil sendiri kurang lebih seperti berikut ini.

Saipul Jamil dan Virginia istrinya menurut salah satu portal berita adalah berawal dari perjalanan kembali ke Jakarta setelah merayakan Idul Fitri di Bandung 09.00 WIB mengendarai Avanza bersama 9 kerabatnya. Mobil yang di sopiri Saipul tersebut hilang keseimbangan di Tol Purbaleunyi KM 97 sekitar pukul 10.00 WIB kemudian menabrak pembatas jalan di bagian kanan. Dan kecelakaan tersebut mengakibatkan Virginia yang baru di nikahi saipul jamil 6 bulan yang lalu meninggal dunia.


Sampai sekarang belum di ketahui secara jelas apa penyebab kecelakaan saiful jamil tersebut yang mengakibatkan istinya meninggal dunia di tempat tersebut
Foto mayat Virginia isti saiful jamil.
Foto Jasad Virginia Istri Saiful Jamil
Foto kecelakaan Istri Saiful Jamil
Dari foto kecelakaan istri saiful jamil tersebut bisa kita ketahui betapa dasyatnya tabrakan tunggal yang terjadi, karena dari foto jenazah istri saiful jamil tersbut kita bisa melihat gambaran dari kecelakaan tersebut,

Semoga arwah dari Virginia di terima di sisi Allah SWT, dan semoga keluarga yang di tinggalkan di berikan ketabahan,

Harta Karun Soekarno !


HARTA karun peninggalan mantan presiden Soekarno selama ini masih misteri, bahkan tak sedikit yang meragukannya. Kasus kegagalan pencarian harta peniggalan Prabu Siliwangi di Istana Batutulis beberapa waktu lalu, sepertinya memupus harapan orang untuk memercayai hal-hal yang sulit dibuktikan kebenarannya.


Namun lelaki yang menyebut diri satria piningit bernama Soenuso Goroyo Soekarno mengaku dapat mengangkat peninggalan Presiden Pertama RI itu. Bentuknya berupa ratusan keping emas lantakan, platinum, sertifikat deposito obligasi garansi, dan lain-lain. ”Ini baru sampel dan silakan mengecek kebenarannya. Jika bohong, saya siap digantung,” katanya, Jumat kemarin, kepada pers.
Mantan anggota TNI yang dahulu bernama Suwito itu sengaja mengundang wartawan di rumahnya, Perumahan Cileungsi Hijau, daerah perbatasan Bogor-Bekasi, untuk menyaksikan temuannya. Di rumahnya yang cukup megah disiapkan hidangan layaknya orang hajatan. Maklum, Goroyo, begitu dia biasa disapa, juga mengundang Pangdam Jaya, Kapolda, dan anggota Muspida. Tetapi dari mereka, tak ada pejabat datang.
Kepada tamunya, suami RA Lastika ini memperlihatkan peti besar berisi ratusan keping emas lantakan, masing-masing beratnya 8 ons bergambar Soekarno dan di baliknya ada gambar padi dan kapas. Pada satu sisinya ada tulisan 80 24K 9999. Sementara itu emas putih (platinum) juga berbentuk lantakan berlogo tapal kuda putih bertulisan JM Mathey London. Logam itu dibungkus emas dan bersertifikat emas pula.
Meskipun bersertifikat dan diyakini keasliannya, pada kesempatan itu tidak dihadirkan orang yang mengetahui emas atau pakar yang bisa memastikan asli atau tidak harta benda tersebut.
Memberi Kuasa
Peninggalan lain berupa sertifikat deposito bertanggal 16 Agustus 1945 yang dikeluarkan oleh BPUPKI yang menyebut sejumlah harta yang disimpan di suatu tempat. Ada pula sertifikat berbahasa Inggris yang juga disegel dan ditulis di atas lembar kuningan. Sertifikat itu ada yang bertuliskan ”Hibah Substitusi” yang dipercayakan kepada R Edi Tirwata Dinata (108).Yang terakhir ini, konon karena sudah tua, lantas memberikan kuasa kepada R Anton Hartono untuk mengurus harta benda yang disimpan di Swiss. Bentuknya mikrofilm, dua lembar dokumen, anak kunci boks deposit di JBS, Jenewa, dan dua buah koin.

Di dalam sertifikat itu disebutkan, ada dana berjumlah 126,2 miliar dolar AS dan 63,10 miliar dolar AS.”Insya Allah, jika saya diberi izin, semua harta peninggalan Bung Karno ini bisa membayar utang kita. Saya yakin bisa melaksanakannya,” ungkap Goroyo sembari membantah dirinya paranormal. Dia juga membantah berambisi menjadi presiden atau jabatan politis lain. ”Semua saya lakukan dan beberkan untuk membangun negara kita,” tegasnya.Saat mendekati rumahnya, di pintu gerbang perumahan dan di depan rumahnya terpampang spanduk putih bertulisan merah,

”Satrio Piningit Soenuso Goroyo Soekarno sang Juru Selamat Telah Hadir di Bumi Indonesia.”Namun wartawan yang datang sejak pukul 11.00, baru diterima seusai shalat jumat. Goroyo mengenakan stelan jas putih, sepatu putih, mirip yang dikenakan Presiden Soekarno.Di ruang tamunya juga dipajang foto dirinya bersama seorang jenderal. Ada pula yang memperlihatkan saat dirinya menjadi anggota Batalyon Arhanud SE 10/Kodam Jaya. Namun, dia enggan membeberkan latar belakang jati dirinya. ”Saya ini orang susah. Jadi tentara pangkatnya juga di sini (memegang lengannya). Jika saya pakai pakaian seperti ini, hanya model. Kebetulan saya suka,” tuturnya.
Proses Pencarian
Goroyo mengemukakan, dia hanya ingin ada saksi dari aparat soal harta temuannya itu. Selanjutnya akan diserahkan kepada Presiden Megawati dan diharapkan bisa melunasi utang luar negeri pemerintah. ”Saya tidak ingin imbalan apa pun termasuk jabatan. Saya hanya butuh pengakuan dan surat kuasa untuk meneruskan pencarian harta ini. Namun tampaknya Kapolda dan Kapolri berhalangan.”
Dia menceritakan proses pencarian harta tersebut. Diawali dari kebiasaannyabertirakat di berbagai tempat, lantas mendapatkan petunjuk. Petunjuk awal adalah sebuah tongkat wasiat yang diyakini tongkat komando milik Presiden Soekarno yang kemudian disimpannya hingga kini.Selanjutnya, dengan tirakat pula, secara gaib harta benda itu bisa diangkat dari beberapa daerah di Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. ”Meskipun benda ini kini nyata, tapi awalnya adalah harta gaib. Jadi, mengambilnya juga dengan cara gaib. Saya tidak boleh memilikinya. Saya diperintahkan menyerahkan kepada negara untuk menyelamatkan bangsa,” paparnya.Ketika disinggung, kenapa justru membeberkan kepada wartawan, bukan langsung menyerahkan kepada pemerintah, Goroyo menyatakan dirinya sudah capai berhubungan dengan pejabat. Awalnya dia melapor kepada Presiden Megawati, tapi tidak digubris. Kemudian kepada mantan atasannya, Kol Art Harus Putri Osa, Dan Men Arhanud I Kodam Jaya, ke Mabes TNI, bahkan juga dilaporkan kepada anggota DPR Permadi SH.
Namun semua seperti tidak menghiraukannya. ”Karena itu, saya mengundang rekan-rekan wartawan untuk menyaksikan langsung,” ujar Goroyo sembari menegaskan, sebagai satria piningit dirinya mengemban tugas menyelamatkan bangsa. Sebutan satria itu dia jelaskan, tidak ada kaitannya dengan ramalan yang pernah diucapkan Permadi bahwa negeri ini akan dipimpin satria piningit.

Inilah Pidato Heroik Soekarno Dalam Era Kemerdekaan



Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau “Dokuritsu Junbi Cosakai”, berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Ir. Soekarnoadalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno lahir di Surabaya Jawa Timur, tanggal 6 Juni 1901 dan  meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun)
  • Pada tanggal 14 Agustus Soekarno berangkat ke Jakarta. Ketika turun dari pesawat, disambut Gunsekan Jenderal Yamamoto . Rupanya di Kemayoran ada rombongan penyambutan. dan Soekarno mengucapkan pidato jagungnya . Soekarno berkata : ” Apabila dahulu aku katakan bahwa Indonesia akan merdeka sesudah jagung berbuah, sekarang dapat dikatakan Indonesia akan merdeka, sebelum jagung berbunga”. Ucapan ini disambut oleh rakyat banyak dengan tepuk tangan dan bersorak ” Indonesia Merdeka”.
  • Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
  • Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya.
  • Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.
  • “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Disampaikan saat pidato Hari Pahlawan 10 Nopember 1961).
  • “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
  • “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Disampaikan saat pidato HUT Proklamasi 1963).
  • “……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……”
  • “Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (disampaikan saat pidato HUT Proklamasi 1949).
  • “Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (disampaikan saat pidato HUT Proklamasi, 1950).
  • “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (disampaikan saat pidato HUT Proklamasi, 1964).
  • “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (disampaikan saat pidato HUT Proklamasi 1966).
  • “Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (disampaikan saat pidato HUT Proklamasi, 1966).
  • “Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (disampaikan saat pidato HUT Proklamasi 1964).
  • “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”

Misteri Menjelang Wafatnya Soekarno




Meninggalnya sang proklamator kemerdekaan Indonesia sampai sekarang menyisakan misteri. Perawatan penyakit, masalah pemakaman dan pembatasan keluarga Soekarno sampai sekarang menjadi cerita yang tidak pernah selesai dan menjadi kontroversi dan misteri
Kesehatan Soekarno sudah mulai menurun sejak bulan Agustus 1965. Sebelumnya, ia telah dinyatakan mengidap gangguan ginjal dan pernah menjalani perawatan di Wina, Austria tahun 1961 dan 1964. Prof. Dr. K. Fellinger dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina menyarankan agar ginjal kiri Soekarno diangkat tetapi ia menolaknya dan lebih memilih pengobatan tradisional. Ia masih bertahan selama 5 tahun sebelum akhirnya meninggal pada hari Minggu, 21 Juni 1970 di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto, Jakarta dengan status sebagai tahanan politik.Jenazah Soekarno pun dipindahkan dari RSPAD ke Wisma Yasso yang dimiliki oleh Ratna Sari Dewi. Sebelum dinyatakan wafat, pemeriksaan rutin terhadap Soekarno sempat dilakukan oleh Dokter Mahar Mardjono yang merupakan anggota tim dokter kepresidenan. Tidak lama kemudian dikeluarkanlah komunike medis yang ditandatangani oleh Ketua Prof. Dr. Mahar Mardjono beserta Wakil Ketua Mayor Jenderal Dr. (TNI AD) Rubiono Kertopati.
Komunike medis tersebut menyatakan hal sebagai berikut:
1. Pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 1970 jam 20.30 keadaan kesehatan Ir. Soekarno semakin memburuk dan kesadaran berangsur-angsur menurun.
2. Tanggal 21 Juni 1970 jam 03.50 pagi, Ir. Soekarno dalam keadaan tidak sadar dan kemudian pada jam 07.00 Ir. Soekarno meninggal dunia.
3. Tim dokter secara terus-menerus berusaha mengatasi keadaan kritis Ir. Soekarno hingga saat meninggalnya.
4.Walaupun Soekarno pernah meminta agar dirinya dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor, namun pemerintah memilih Kota Blitar, Jawa Timur, sebagai tempat pemakaman Soekarno. Hal tersebut ditetapkan lewat Keppres RI No. 44 tahun 1970. Jenazah Soekarno dibawa ke Blitar sehari setelah kematiannya dan dimakamkan keesokan harinya bersebelahan dengan makam ibunya.
Upacara pemakaman Soekarno dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal M. Panggabean sebagai inspektur upacara. Pemerintah kemudian menetapkan masa berkabung selama tujuh hari
Berkas yang Hilang (Sumber Sinar Harapan)
Sembilan buku besar tertumpuk rapih di salah satu ruangan di rumah Rachmawati Soekarnoputri, Jl. Jati Padang Raya No. 54 A, Pejaten, Jakarta Selatan. Buku bertuliskan tangan itu berisi medical record (catatan medis) mantan Presiden Soekarno selama sakit di Wisma Yaso, Jakarta.
Ada pula tujuh lembar kertas tua yang warnanya sudah memudar kecokelatan.
Ini juga menjadi bukti riwayat penyakit Bung Karno. Kopnya bertuliskan
Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kedokteran Hewan Bagian Bakteriologi,
Djl. Kartini 14, telpon 354, Bogor. Tapi yang lebih membuat dahi ini berkernyit keras, nama pasien disamarkan. Misalnya, ada yang tertera namanya
Taufan (salah seorang putra Soekarno).
Menguak peristiwa yang terjadi tahun 1965-1970 itu memang tidak mudah. Pada masa lalu membicarakan masalah ini secara terbuka menjadi hal tabu. Maka tak heran jika sekarang banyak orang, terutama generasi muda, tak mengetahui kebenaran sejarah
tersebut. Namun kini, ketika semua mata dan seluruh perhatian tertumpah di
Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sehubungan dengan sakitnya mantan
Presiden Soeharto sejak 4 Januari 2008, rasa ingin tahu tentang masa lalu
pun kembali mengusik. Itu semata-mata karena Soeharto dan Soekarno sama-sama mantan kepala negara.
Adalah Rachmawati Soekarnoputri, putri ketiga Soekarno, yang sangat ingin menyerahkan catatan medis ayahnya kepada pemerintah. Ini kalau pemerintah butuh data-data pendukung dan ingin melihat dari segi kebenaran, bukan hanya cerita fiktif, tutur Rachmawati kepada SH di kediamannya, Sabtu (19/1) sore. Maklum, seorang mantan menteri Orde Baru pernah berkomentar bahwa perlakuan terhadap Soekarno ketika sakit tidak sekejam itu. Saya tak mau gegabah. Ini bukan make up story, karena Kartono Mohamad saja (saat itu Ketua Ikatan Dokter Indonesia/IDI), mengatakan perawatan terhadap Bung Karno seperti perawatan terhadap keluarga sangat miskin, kata Rachmawati.
Di sore hari itu, Rachmawati tidak sanggup bercerita banyak. Ia hanya
tersedu sedan, hal itu sudah menggambarkan betapa getir kenangan yang dialaminya. Tetapi sebuah artikel yang pernah dimuat SH pada 15 Mei 2006, memberikan gambaran lebih lengkap. Seorang. perempuan muncul di Kantor IDI di Jakarta, awal 1990-an, demikian kalimat pertama artikel tersebut. Perempuan itu ingin bertemu Kartono Mohamad untuk menyerahkan 10 bundel buku berisi catatan para perawat jaga Soekarno.
Namun jauh sebelum pertemuan itu, Kartono bertemu Wu Jie Ping, dokter yang pernah merawat Soekarno di Hong Kong. Wu mengungkapkan bahwa Soekarno hanya mengalami stroke ringan akibat penyempitan sesaat di pembuluh darah otak saat diberitakan sakit pada awal Agustus 1965, dan sama sekali tidak mengalami koma seperti isu yang beredar. Ini menepis spekulasi bahwa Soekarno tidak akan mampu menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan hari proklamasi 17 Agustus 1965. Dan nyatanya, Soekarno tetap hadir pada peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus itu di Istana Merdeka, lengkap dengan tongkat komandonya.
Diperiksa Dokter Hewan
Setelah kembali lagi ke Jakarta, Kartono menemui Mahar Mardjono, dokter yang tahu banyak soal stroke. Rupanya Kartono tak hanya bercerita soal stroke, tapi juga rentetan kejadian
yang dengan sengaja menelantarkan Soekarno. Maka bundel buku yang dibawa perempuan itu semakin menguatkan kegelisahan Kartono.
Namun Indonesia di awal 1990-an, kebenaran hanya boleh ditentukan oleh
penguasa. Maka bundel buku itu hanya teronggok di meja kerja Kartono selama
bertahun-tahun. Hingga kemudian, krisis moneter meledak.
Rakyat turun ke jalan dan Presiden Soeharto, yang telah berkuasa selama 32 tahun, dipaksa meletakkan jabatan. Indonesia berubah wajah. Kartono pun
teringat onggokan buku itu.
Ia bergegas ke RSPAD, rumah sakit yang mempekerjakan empat perawat di Wisma Yaso.
Kartono berharap dapat menemukan mereka, agar bangsa Indonesia mendapat cerita yang lengkap tentang tahun-tahun terakhir Soekarno. Namun menemukan Dinah, Dasih, J. Sumiati, dan Masnetty ternyata bukan hal mudah. Seorang di antara mereka meninggal, sedangkan yang lain sudah pensiun.
RSPAD pun mendadak tak memiliki file atau berkas dari para perawat ini. Kartono kehilangan jejak. Upayanya untuk mencari medical record Soekarno
gagal. Pihak RSPAD mengatakan bahwa keluarga Soekarno telah membawanya. Ketika ini ditanyakan kepada Rachmawati, ia hanya geleng-geleng kepala. Tidak, tidak, jawabnya lirih.
Yang membuatnya semakin terenyuh, sebelum dibawa ke Jakarta, Soekarno
ditangani oleh dokter Soerojo yang seorang dokter hewan. Jejak ini terlihat dari berkas berkop Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kedokteran Hewan Bagian Bakteriologi.
Bahkan setelah dipindah ke RSPAD karena sakit ginjalnya semakin parah, upaya untuk melakukan cuci darah tidak dapat dilakukan dengan alasan RSPAD tidak mempunyai peralatan. Catatan medis juga menyebutkan obat yang diberikan hanya vitamin (B12, B kompleks, royal jelly) dan Duvadillan, obat untuk mengurangi penyempitan pembuluh darah perifer. Perihal tekanan darah tinggi yang juga disebutkan dalam catatan medis, juga menyisakan tanya pada diri Rachmawati.
Setiap kali menjenguk sang ayah dan mencicipi makanannya, masakan selalu
terasa asin. Saya kecewa dengan semua perawatan itu. Ini sama saja dengan
membiarkan orang berlalu, lanjut Rachmawati.
Seorang mantan pejabat di era Presiden Soekarno membenarkan terjadinya fakta
seputar masa sakit Soekarno yang tersia-sia. Tidak seperti sekarang ini,
perawatan terhadap Soeharto. Sangat berbeda, padahal seharusnya semua mantan presiden berhak dirawat secara all out dan diongkosi oleh negara, katanya.
Purnawirawan perwira tinggi militer itu juga mengungkapkan, perlakuan seragam terhadap Soekarno berasal dari sebuah instruksi. Yang memberi nstruksi ya orang yang sekarang sedang dirawat itu, katanya.
Namun pria ini enggan dituliskan namanya. Wah, kalau ditulis di koran saya pasti digangguin, tuturnya dengan nada serius.
Menjelang Wafatnya sang Proklamator
Selembar foto hitam putih menguak penderitaan Soekarno ketika tergolek sakit di Wisma Yaso, Jakarta, 15 hari sebelum ia wafat. Kedua pipinya terlihat bengkak, gejala fisik pasien gagal ginjal.
Matanya sedikit terbuka, tapi tanpa ekspresi. Raut wajahnya menampak
kepasrahan yang begitu dalam.
Soekarno terlihat berbaring di atas sofa berukuran sempit dengan sebuah
bantal. Kedua tangannya dicoba ditangkupkan. Siapa sangka, pria gagah inilah sang proklamator yang mengantarkan Negara Indonesia ke pintu kemerdekaan hingga detik ini.
Gambar ini dibuat secara diam-diam oleh Rachmawati Soekarnoputri bersama
Guruh Soekarnoputra,
6 Juni 1970. Sebuah momentum bertepatan dengan hari ulang tahun Soekarno yang ke-69.
Dik, ikut yuk, saya mau motret bapak, tutur Rachmawati kepada adiknya,
Guruh, kala itu. Rupanya foto tersebut kemudian dikirimkan Rachmawati ke Kantor Berita AP dan dimuat di Harian Sinar Harapan.
Maka gemparlah, dan Rachmawati diinterogasi oleh Corps Polisi Militer (CPM). Rachmawati pun bertanya, Mengapa dilarang memotret, memangnya status Bung Karno apa?
Tetapi tak pernah ada jawaban tentang apa status Soekarno, sampai detik
ini. Jadi semua serba sumir. Tak ada kejelasan tentang status bapak sampai bapak meninggal, kata Rachmawati kepada SH di kediamannya di Jl. Jati Padang Raya No. 54A, Pejaten, Jakarta
Selatan, Sabtu (19/1) sore.
Di saat kondisi penyakit ayahnya semakin kritis dan putra-putri ingin
membesuknya, mereka tetap harus melapor dulu ke Pomdam Jaya, sehingga tidak dapat menengok setiap hari. Wisma Yaso yang terletak di Jl. Gatot Subroto, Jakarta, itu padahal merupakan
kediaman istri Soekarno, yakni Dewi Soekarno. Begitu pula Soekarno sendiri, dalam kondisi sakit masih tetap harus menjalani pemeriksaan oleh Kopkamtib tiga bulan sekali.
Situasi seperti itu semakin menambah kalut keluarga Soekarno, setelah sebelumnya didera cobaan bertubi-tubi. Pada pertengahan 1965, sebuah rumor mengabarkan Soekarno mengalami koma sehingga diperkirakan tidak bisa menyampaikan pidato kenegaraan pada
peringatan Proklamasi
17 Agustus 1965. Tetapi nyatanya, Soekarno hadir pada peringatan detik detik proklamasi tersebut di Istana Merdeka, lengkap dengan pakaian kebesaran dan tongkat komandonya.
Tahun berikutnya, setelah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) diteken 11 Maret 1966, keluarga Soekarno mendapat kiriman radiogram pada tahun 1967, berupa perintah supaya mereka keluar dari Istana Bogor.
Maka kemudian di tahun 1968, Soekarno pindah dari Istana Bogor ke Batu Tulis, masih di wilayah Bogor.
Ternyata hawa dingin di Bogor membuat penyakit rematik Bung Karno semakin
parah. Saat itu Soekarno ditangani oleh dokter Soerojo, dokter hewan. Bukti
ini dikuatkan dengan dokumen riwayat penyakit Bung Karno di atas tujuh
lembar kertas tua yang warnanya sudah memudar kecokelatan.
Kopnya bertuliskan Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kedokteran Hewan
Bagian Bakteriologi, Djl. Kartini 14, telpon 354, Bogor. Menurut Rachmawati, penanganan dokter Soerojo saat itu pun hanya bersifat insidental.
Lantaran rasa sakit makin tak tertahankan, akhirnya Soekarno mengutus Rachmawati untuk menyampaikan surat permohonan kepada Soeharto agar diperbolehkan kembali ke Jakarta.
Saya diterima Pak Harto di Cendana, menyampaikan permintaan agar bapak
dipindah ke Jakarta. Saya harus menunggu jawabannya dua minggu, aduh, tutur Rachmawati tak habis pikir.
Akhirnya, Soekarno dipindah ke Wisma Yaso di Jakarta, yang sekarang menjadi
Museum Satria Mandala.
Beberapa minggu kemudian dibentuklah tim dokter dengan ketua Mahar Mardjono. Tetapi karena Wisma Yaso hanya rumah biasa, tentu saja fasilitas medis yang tersedia sangat berbeda dengan jika dirawat di rumah sakit.
Tidak Cuci Darah
Hari-hari berikutnya, kondisi Soekarno menurun drastis. Seperti yang terdokumentasi dalam foto Rachmawati tersebut, pipi Soekarno sudah membengkak, pertanda mengalami gagal ginjal.
Kondisi makin kritis. Hingga akhirnya pada 11 Juni 1970 mantan Presiden I RI
itu dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.
Rupanya pindah perawatan ke rumah sakit tidak seluruhnya menyelesaikan
masalah. Perawatan yang diberikan tetap tidak maksimal dan peralatan medis seadanya. Pada saat dokter memastikan harus dilakukan cuci darah, upaya satu-satunya ini tidak dapat
dilaksanakan.
Alasannya, RSPAD tidak memiliki peralatan untuk cuci darah. Ini sama saja
membiarkan orang cepat berlalu, tutur Rachmawati.
Begitu pula dengan obat-obatan, tidak tersedia di RSPAD sehingga putra-putri
Soekarno membelinya sendiri di apotek di Kebayoran. Ada satu periode di mana saya tidak boleh menengok bapak, ungkap Rachmawati. Dalam keadaan genting seperti itu, keluarga masih tetap
tidak diizinkan tidur di rumah sakit untuk menunggui sang ayah. Mereka hanya boleh menunggu di dalam mobil di tempat parkir.
Tak ada pula teman-teman yang bisa menjenguknya, kecuali Mohammad Hatta. Rachmawati mengakui, selepas tahun 1965 memang terjadi de Soekarno-isasi. Semua hal yang berbau Soekarno harus disingkirkan sejauh mungkin.
Hingga akhirnya pada 21 Juni 1970, Soekarno wafat. Jenazahnya kemudian
disemayamkan di Wisma Yaso dan dilepas oleh Presiden Soeharto untuk diterbangkan ke Blitar, Jawa Timur. Itulah
kali pertama Soeharto melihat fisik Soekarno setelah disingkirkan dari Istana Kepresidenan.
Yang menjadi inspektur upacara pada pemakaman itu Jenderal TNI M Panggabean, tanpa kehadiran Presiden Soeharto di Blitar.
Mengapa pusara mantan Presiden I RI itu berada di kompleks pemakaman Desa
Bendogerit, Blitar? Lokasi itu dipilihkan oleh negara dengan alasan dekat dengan makam kedua orangtua Soekarno. Pihak keluarga sebenarnya mengajukan permintaan sesuai wasiat
Soekarno, yaitu dimakamkan di Batu Tulis atau di lokasi lain di Bogor.
Juga ketika gaung agar Tap MPR No. 11 Tahun 1998 tentang KKN mantan Presiden Soeharto dikumandangkan kembali tatkala Soeharto sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP),
Rachmawati meminta dicabutnya Tap MPRS No. XXXIII/1967.
Tap MPRS itu intinya adalah mencabut mandat MPRS dari Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Secara pribadi saya berharap ada rehabilitasi. Dan Tap MPRS harus dicabut karena beban politik berbeda dengan beban pidana atau perdata,
lanjut Rachmawati.
Putri ketiga Soekarno itu pun hanya geleng-geleng kepala, ketika mengetahui kondisi kesehatan Soeharto yang sedang dirawat di RSPP mulai membaik. Semua orang juga tahu, betapa luar biasa dan istimewanya fasilitas untuk Soeharto.
Tetapi Rachmawati sama sekali tidak menaruh rasa dendam. Yang ia inginkan
hanyalah, Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat. ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator.
Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat
secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak
( almarhum ) sedang menangis sesenggukan. Pak Karno seda( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO. pernah berkata , Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kataKKO
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi
tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun
menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya Mayjend Amir Mahmud disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.
Het is niet meer mijn huis sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.
Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri.
Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso.
Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin Gubernur Jakarta yang juga berasal dari KKO Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan
gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik
jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !
Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di
lantai di ruang tengah.
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah,
sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota. Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.
Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan.
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
Dr. Kartono Muhamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan. ( Kompas 11 Mei 2006 )
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad
( Kompas 13 Januari 2008 )
dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari
tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden !
Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah
sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik.
Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak
diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada
tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari
mereka yang mempertentangkan benar atau salah.
Detik-detik Meninggalnya Soekarno Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970
Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.
Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat
sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di
pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang
hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa—dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
“Pak, Pak, ini Ega…”
Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir
Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga.lengkap dengan senjata.
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan
Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak. terperi, Soekarno berkata lemah.
“Hatta.., kau di sini..?”
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau
kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
“Ya, bagaimana keadaanmu, No?”
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya
dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka. masih bersatu dalam Dwi Tunggal.
“Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya.
Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat
dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya
siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa
dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya. terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya. Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu. badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter. kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang. paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama
lagi. Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi
Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir.
Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik
yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak
orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter
kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.

pilosofi semar

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia
Filosofi, Biologis Semar
Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.
Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya
Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.
Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.
Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )
Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.
Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )
Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Mayat Alien Raksasa Ditemukan di Afrika


Makam Kuno Rwanda
Sebuah tim antropolog menemukan penguburan misterius di hutan dekat kota Kigali Rwanda (Afrika Tengah). Jasad yang ditemukan berukuran rakasasa tapi mirip dengan manusia. Kepala kelompok riset percaya bahwa mereka makhluk-makhluk itu adalah
pengunjung dari planet lain yang meninggal akibat bencana.
Menurut para ilmuwan, mereka dikubur setidaknya 500 tahun yang lalu. Pada awalnya, peneliti berpikir bahwa mereka akan menemukan sisa-sisa permukiman kuno, tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia telah ditemukan di dekatnya.
40 pemakaman umum itu memiliki sekitar 200 mayat di dalamnya. Semua sempurna diawetkan. Para makhluk itu tinggi sekitar 7 kaki. Kepala mereka besar tidak proporsional dan mereka tidak punya mulut, hidung atau mata.
Para antropolog percaya bahwa makhluk itu adalah anggota pendaratan alien, mungkin hancur oleh beberapa virus terestrial yang mereka tidak mampu mereka lawan. Namun, tidak ada jejak pendaratan pesawat ruang angkasa atau fragmen yang ditemukan.
Ini bukan temuan yang pertama. Pada musim panas 1937 sekelompok ilmuwan Cina yang dipimpin oleh Profesor Chi Putei mengamati gua Gunung Bayan-Kara-Ula. Di dalam mereka menemukan tengkorak dengan kepala terlalu besar dan tubuh kecil. Di dekatnya ada 176 piring batu. Di tengah setiap piring ada lubang dari mana alur spiral menyebar ke perimeter dengan beberapa karakter di atasnya.
Selain itu, dinding gua ditutupi dengan gambar-gambar matahari terbit, bulan dan bintang-bintang, dengan titik-titik dicat banyak atau benda-benda kecil yang tampak perlahan-lahan mendekati gunung dan permukaan bumi.
Para ahli dalam mengartikan karakter tertulis kuno dibuat bingung atas pengungkapan rahasia spiral dari gua Bayan-Kara-Ula selama dua dekade. Akhirnya, profesor Universitas Beijing Zum Umniu itu menguraikan dalam beberapa artikel.
Diriwayatkan bahwa sekitar 12 ribu tahun lalu beberapa benda terbang jatuh di pegunungan ini. Arkeolog Cina menemukan tanda-tanda sekelompok masyarakat pernah tinggal di gua-gua pegunungan Bayan-Kara-Ula.
Sesosok mayat asing lain ditemukan oleh para ahli gua Turki. Sebuah mumi zaman es sedang beristirahat di sebuah sarkofagus yang terbuat dari bahan kristal. Tinggi makhluk humanoid laki-laki itu tidak melebihi 1 meter 20 cm, kulitnya hijau muda dan memiliki sayap transparan besar di sisi tubuhnya.
Menurut para peneliti, meskipun penampilan yang tidak biasa, makhluk tampak lebih mirip manusia, bukan binatang. Hidungnya, bibir, telinga, tangan, kaki, kuku, sangat mirip dengan manusia. Hanya matanya sangat berbeda, tiga kali lebih besar daripada manusia dan tidak berwarna, seperti mata reptil.
Tidak lama di salah satu makam Mesir kuno mumi seorang pria 2,5 meter ditemukan. Sosok ini tidak memiliki hidung atau telinga dan mulut yang sangat lebar dan tidak punya lidah.
Menurut arkeolog Gaston de Villars, usia Mumi itu sekitar 4 ribu tahun. Ia dikuburkan sebagai seorang bangsawan Mesir. Ia dimumikan dengan hati-hati dan dikelilingi oleh para pelayan makanan dan karya seni yang dirancang untuk akhirat. Anehnya, tidak semua benda di sekitar mumi itu adalah milik budaya bumi Mesir atau kebudayaan bangsa lain di Bumi. Misalnya, terdapat sebuah cakram logam bulat dipoles dengan karakter aneh atau kostum yang terbuat dari logam dengan sisa-sisa sesuatu yang menyerupai sepatu plastik dan lempengan batu yang dihiasi dengan gambar bintang, planet dan mesin aneh.
Kuil tempat mumi aneh itu ditemukan juga terlihat tidak biasa. Pemakaman terbuat dari bahan yang tidak diketahui di jaman kuno. Batu itu secara harfiah diukir dari batu sehingga dinding itu halus, seperti marmer dipoles. Proses itu sepertinya dipotong oleh laser.
Namun, teori alien bukan satu-satunya. Menurut beberapa peneliti, makhluk raksasa dan  kerdil bisa jadi merupakan sisi lain dari manusia yang pernah hidup di Bumi, tapi untuk beberapa alasan punah.