Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Tuesday, December 11, 2012

*1Merekam Jejak Nias1*


Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa
Tak sia-sia Johannes meninggalkan Jerman. Jerih payah sang pastor terlunasi dengan berdirinya museum ini.
Museum Pusaka Nias (Museum of Nias Heritage) yang terletak di Jl Yos Sudarso No. 134 A, Gunungsitoli, ibarat ‘gudang ilmu dan sejarah’. Pasalnya di tempat ini, kita bisa memahami Nias dengan segala unsurnya.  Berbagai koleksi benda penting terpelihara dengan baik. Mulai dari artefak alat-alat rumah tangga, patung-patung megalit dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisional, mata uang, pakaian perang, simbol-simbol kebangsawanan sampai rumah adat asli Nias yang disebut Omo Hada.
Ironisnya, meski menyandang nama Museum Pusaka Nias, namun pendiri museum ini bukanlah asli orang Nias ataupun dilakukan pemerintah daerah setempat. Pendiri museum yang kelengkapan koleksinya sudah diakui dunia internasional ini, justru dilakukan seorang pastor berkebangsaaan Jerman, bernama Johannes Maria Hammerle OFMCap. “Saya mendirikan museum ini pada awal 1991,” ucap pastor kelahiran 9 Juli 1941 di Hausach, Black Forest, Jerman Barat ini.
Diakui, membangun museum bukanlah sesuatu yang direncanakannya. Terlebih, sebelum menginjakkan kaki di Tana Niha (Tanah Nias), dia tidak pernah mengetahui Kepulauan Nias itu seperti apa. Sekadar membalik kisah, Johannes tiba di Nias pada 1971 sebagai misionaris. Dia diutus gerejanya di Jerman untuk menggali ilmu di tanah seberang.  “Sebenarnya, kalau boleh memilih, saya pilih Sumatera. Tapi, ini sudah panggilan buat saya,’’ ujarnya.

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat