Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Tuesday, May 29, 2012

"Komunitas Air Gunung – Mengalir Mengikuti Zaman"


WARISAN INDONESIA / Bhrahu Pradipto
Komunitas Air Gunung hadir di tengah kelompok pelukis kampung yang bekerja tanpa konsep. Berkat kegigihan pencetusnya, sebagian anggota komunitas sukses dengan karyanya. Kini hidup mereka terus mengalir mengikuti gerak zaman.
Suatu ketika, Agus Wuryanto, SN., seorang fotografer profesional, memerhatikan karya-karya pelukis di kampung kelahirannya, Wonosobo, Jawa Tengah, tampak sama. Semua membuat gambar pemandangan, sawah, gunung, alam pedesaan. Seragam dan tak ada yang istimewa.
Saat mencoba berkomunikasi dengan para pelukis tersebut yang ia dengarkan adalah keluhan tentang hidup mereka yang serba susah. Paling tinggi, sebuah karya dibeli orang dengan harga Rp500.000. Sebagai lulusan seni murni Institut Seni Indonesia, hatinya tergelitik sekaligus prihatin dengan kondisi tersebut.
WARISAN INDONESIA / Bhrahu Pradipto
Berbekal ilmu selama masa kuliah dan pengalaman panjangnya memainkan kuas di atas kanvas, ia kumpulkan para pelukis itu dalam sebuah wadah, yang kemudian dinamakan Komunitas Air Gunung. Ia memulai urusan itu saat tak lagi mengemban tugas pelaksana pemotretan di lapangan, maklum kiprahnya di dunia fotografi memang cukup mendalam. Ia adalah Ketua Pencinta Fotografi Wonosobo. Dengan demikian, konsentrasinya bisa lebih fokus.
Sejak tahun 2006, dengan telaten ia memberikan pelatihan kepada anggota komunitas. “Teknik penggemblengannya seperti home schooling. Artinya, tercipta interaksi yang lebih intim. Setiap ingin membuat satu karya, ide si pelukis didiskusikan sampai menemukan konsep yang menarik,” ungkapnya.
Bagi penggiat seni di Wonosobo ini, ada tiga hal utama yang harus dimiliki seseorang pelukis anggotanya agar dapat mencapai hasil maksimal. Pertama, harus ada kepedulian, baik dari pengajar maupun murid yang ia bimbing. Kedua, harus ada keterlibatan emosional antarpersonal. Dan ketiga, harus ada kepercayaan.Akhirnya dengan bentuk pertemanan, diharapkan tercipta ikatan yang kuat, saling memahami.

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat