Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Saturday, September 17, 2011

”Pengalaman Mistik Kaum Sufi”

[ oleh: Prof. Dr. NURCHOLISH MADJID (Alm.) ] Tabloid Tekad No.18/II Minggu lalu, Prof Annemarie Schimmel –seorang tokoh kaliber dunia, ahli Islam dari Jerman– menyampaikan tiga orasi ilmiah mengenai Tasawuf (Sufisme) di Jakarta. Kunjungannya disambut dengan penuh minat oleh para pecinta Tasawuf. Oleh karena itu, ada baiknya jika kita sedikit merefleksikan arti tasawuf dan kehidupan kaum Sufinya dalam orientasi keagamaan kita.
Nabi Muhammad s.a.w. sering disebut sebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam mewujudkan misi sucinya. Bukti yang biasa dipakai untuk mendukung penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial-politik, khususnya dalam bentuk keberhasilan ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad s.a.w., sama halnya dengan beberapa Nabi yang lain seperti Musa dan Dawud a.s., adalah seorang “Nabi Bersenjata” (Armed Prophet), sebagaimana dikatakan oleh sosiolog terkenal, Max Weber.
Oleh karena kenyataan itu, ada sementara ahli yang hendak mereduksi misi Nabi Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripada suatu gerakan reformasi sosial, dengan program-program seperti pengangkatan martabat kaum lemah (khususnya kaum perempuan dan budak), penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkan keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umat manusia (egalitarianisme), dan lain-lain.
Dalam pandangan mereka yang parsial itu, Nabi Muhammad s.a.w. tidak bisa disamakan dengan Nabi `Isa al-Masih, karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak mengandung kedalaman keruhanian pribadi. Mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan Nabi Musa a.s. dan para Rasul dari kalangan anak turun Nabi Ya`qub (yang bergelar Isra-El), yang mengajarkan tentang betapa pentingnya berpegang kepada hukum-hukum Taurat (Talmudic Law).
Padahal, di samping segi sosial-politik itu, Islam –seperti ditunjukkan dalam Al-Qur’an– juga banyak menegaskan pentingnya orientasi keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath), yakni antara di satu pihak agama Yahudi yang legalistik dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan itu dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta pengalaman ruhani serta membuat agama itu lembut. Seperti dikatakan oleh Ibn Taymiyyah, “Syari`ah Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syari`ah Injil didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syari`ah Al-Qur’an menengahi dan meliputi keduanya itu.”
Maka, sebagai bentuk pertengahan dan sekaligus antara kedua agama pendahulunya itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah laku manusia secara lahiriah seperti pada agama Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran keruhanian yang mendalam seperti pada agama Kristen.
Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. Artinya, ketika seorang Muslim dituntut untuk tunduk kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia diharapkan, malah diharuskan, menerimanya dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya. Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya.
Kenyataan ini tecermin dalam susunan kitab-kitab fiqih, yang selalu dimulai dengan bab pensucian (thaharah) sebagai awal perjalanan pensucian batin. Walaupun tetap ada kemungkinan orang mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana pula yang batiniah.
Sebenarnya, sudah sejak zaman Rasulullah s.a.w. sendiri terdapat kelompok para Sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut, misalnya, kelompok ahl al-Shuffah, yaitu sejumlah Sahabat yang memilih hidup sebagai faqir dan sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwa kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diacu sebagai teladan kehidupan saleh di kalangan para Sahabat.
Al-Qur’an sendiri juga memuat berbagai firman yang merujuk kepada pengalaman spiritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kali pengalaman Nabi bertemu dan berhadapan dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertama ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyu pertama di gua Hira’, di atas Bukit Cahaya (Jabal Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliau dengan perjalanan malam (isra’) dan naik ke langit (mi`raj) yang terkenal itu.
Kedua pengalaman Nabi itu dilukiskan dalam Kitab Suci (Q. 53: 1-18) demikian:
Demi bintang ketika sedang tenggelam
Sahabatmu sekalian itu tidaklah sesat atau pun menyimpang
Dan ia tidaklah berucap karena menurutkan keinginan
Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan
Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa
Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri secara sempurna
Yaitu ketika ia berada di puncak cakrawala
Kemudian ia pun mendekat, dan menghampiri
Hingga sejarak kedua ujung busur panah, atau lebih dekat lagi
Lalu Tuhan wahyukan kepada hamba-Nya apa yang diwahyukan-Nya
Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya sendiri
Apakah kamu semua akan membantahnya tentang yang ia saksikan?
Padahal sungguh ia telah menyaksikan pada lain kesempatan
Yaitu didekat Pohon Sidrah (Lotus), di alam penghabisan
Di sebelahnya ada Surga tempat kediaman
Ketika Pohon Sidrah itu diliputi cahaya tak terlukiskan
Penglihatan Nabi tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah
Sungguh ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang Agung tak terkira.
Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam Isra-Mi`raj itu adalah sebuah contoh puncak pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman ruhani yang tertinggi, yang hanya bisa dipunyai oleh seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk meniru dan mengulanginya bagi diri mereka sendiri, dalam dimensi, skala, dan format yang sepadan dengan kemampuan mereka.
Hal ini dikarenakan inti pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat akan situasi diri yang sedang berada di hadapan Tuhan, dan bagaimana ia “bertemu” dengan Dzat Yang Maha Tinggi itu. “Pertemuan” dengan Tuhan, dengan sendirinya, juga merupakan puncak kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadis sebagai “sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata.”
Hal ini karena dalam pertemuan tersebut segala rahasia kebenaran “tersingkap” (kasyf) untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur serta sirna (fana’) dalam Kebenaran. Oleh karena itu, Ibn ‘Arabi, misalnya, melukiskan “metode” atau thariqah-nya sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari kehidupan ramai.
Hidup dengan “pengunduran diri” dan sikap penuh kepasrahan tersebut memang bisa mengesankan kepasifan dan eskapisme. Akan tetapi, sebagai dorongan hidup bermoral, pengalaman mistis kaum Sufi sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karena itulah ajaran Tasawuf juga disebut sebagai ajaran akhlak.
Dan akhlak yang hendak mereka wujudkan ialah yang merupakan “tiruan” akhlak Tuhan, sesuai dengan sabda Nabi yang mereka pegang teguh, “Berakhlaklah kamu semua dengan akhlak Allah.” Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

terima kasih telah berkunjung semoga bermanfaat