Laman

to night

Aku adalah binatang jalang yang menghembuskan angin kedinginan. apa pun bisa kita lakukan, biarkan Hayal mu melambung tinggi menikmati sensasi lambda sehingga hayalmu menembus batas, bangun ketika kau mulai lelah akan semua, bakarlah dinding-dinding yang membuatmu tidak mempunyai waktu untuk membuka sensasi Lamda. masih ingatkah kita pernah bercerita tentang puncuk-puncuk lambda di ketinggian 200Hez aku telah menemukan seluk beluk lambda. Mari bersama menembus batas normal, yang akan membuka tabir mimpi menjadi kenyataan. aku lambda yang membagunkan dengan Argumentum ad populum, wujud nyata, ilusi, melayang maya membuka tabir biru menjadi sir Lamda






Selasa, 27 Desember 2011

Watak Budaya Sunda anu ka sohor ti jaman baheula nepike jaman harita





Sunda berasal dari kata Su = Bagus/ Baik, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah dijalankan sejak jaman Salaka Nagara sampai ke Pakuan Pajajaran, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa namun dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara. Bahkan menurut Stephen Openheimer dalam bukunya berjudul Sundaland, Tatar Sunda/ Paparan Sunda (Sundaland) merupakan pusat peradaban di dunia. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisasi dan masuknya budaya luar lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk etos dan watak manusia Sunda.

Makna kata Sunda sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna kata Sunda itu tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang 'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya.

Setiap bangsa memiliki etos, kultur, dan budaya yang berbeda. Namun tidaklah heran jika ada bangsa yang berhasrat menanamkan etos budayanya kepada bangsa lain. Karena beranggapan, bahwa etos dan kultur budaya memiliki kelebihan. Kecenderungan ini terlihat pada etos dan kultur budaya bangsa kita, karena dalam beberapa dekade telah terimbas oleh budaya bangsa lain. Arus modernisasi menggempur budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa. Budaya nasional kini terlihat sangat kuno, bahkan ada generasi muda yang malu mempelajarinya. Kemampuan menguasai kesenian tradisional dianggap tak bermanfaat. Rasa bangsa kian terkikis, karena budaya bangsa lain lebih terlihat menyilaukan. Kondisi memprihatinkan ini juga terjadi pada budaya Sunda, sehingga orang Sunda kehilangan jati dirinya.

Untuk menghadapi keterpurukan kebudayaan Sunda, ada baiknya kita melangkah ke belakang dulu. Mempelajari, dan mengumpulkan pasir mutiara yang berserakan selama ini. Banyak petuah bijak dan khazanah ucapan nenek moyang jadi berkarat, akibat tidak pernah tersentuh pemiliknya. Hal ini disebabkan keengganan untuk mempelajari dengan seksama, bahkan mereka beranggapan ketinggalan zaman. Bila dipelajari, sebenarnya pancaran etika moral Sunda memiliki khazanah hikmah yang luar biasa. Hal itu terproyeksikan lewat tradisinya. Karena itu, marilah kita kenali kembali, dan menguak beberapa butir peninggalan nenek moyang Sunda yang hampir.

Ada beberapa etos atau watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Selain itu, etos dan watak Sunda juga dapat menjadi bekal keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Etos dan watak Sunda itu ada lima, yakni cageur, bageur, bener, singer, dan pinter yang sudah lahir sekitar jaman Salakanagara dan Tarumanagara. Ada bentuk lain ucapan sesepuh Sunda yang lahir pada abad tersebut. Lima kata itu diyakini mampu menghadapi keterpurukan akibat penjajahan pada zaman itu. Coba kita resapi pelita kehidupan lewat lima kata itu. Semua ini sebagai dasar utama urang Sunda yang hidupnya harus 'nyunda', termasuk para pemimpin bangsa.

Cara meresapinya dengan memahami artinya. Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme. Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja. Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam. Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya. Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.

The Flavors of Betawi Cuisine



Betawi (Batavian) men are generally picky eaters. They can distinguish flavors and do not like fast food. As a result, the women are required to be great cooks in the kitchen, for many generations.
In the old days, the infiltration of Chinese, Arab, and India cultures received warm welcome in Betawi community because of similar tastes they share, which use various spices. An exception is the alligator bread, which was originally made using cassava. The arrival of Europeans had helped introduce the bread, and now the recipe has been modified so it is easier to make.
“Still, the main theme of Betawi food is that we can even taste the aroma. Besides, it is usually braised or cooked in herbed broth with coconut milk,” said Ridwan Saidi, a cultural figure, while having a nostalgic meal of his hometown.
However, the transformation of Jakarta’s appearance as a consequence of rapid development, incoming streams of urban population, and the complexity to manage them, have all marginalized the typical Betawi menu. More Betawi women are complaining when it comes to cooking traditional food. Maslah (45) and Supeni (53), for instance, whined when they had to make geplak, cookies made of rice flour, sugar and coconut, although the recipe is fairly easy to make. These cookies are often served in celebrations.
“But it is hard to make them. We should mix the ingredients instantly after we roast them, while the batter is still hot. If we wait any longer, then it would be burak, it would not stick,” Maslah explained.
Bakers of dodol betawi, or sweet sticky cake, do face the same problem. You need to be extra patient to mix the dough in a huge crock for hours. But this sweet confectionery has a better fate. You can always find dodol makers in many Betawi communities. Let’s say Dodol Mak Ai at Setu Babakan in South Jakarta, Dodol Bu Mamas in Condet, East Jakarta, or Dodol Tiga Macan Rogaye in Balekambang, also in East Jakarta.
Regrettably, most Betawi natives under 30 are not familiar even with the names of some of their ancestors’ cuisine. Just ask them about sayur besan, literally “the in-laws’ dish”, they would probably reply with “What kind of food is that?” Below are two examples of the nearly extinct Betawi cuisine.
Just forget the lofty dreams that they will make it globally. What is more important is that they will not vanish without a trace. Distinct from other dishes, this menu has its own characteristic, a representation of the attitude of Betawi personality

Minahasa Woven Cloth After 200 Years



The Minahasa woven cloth disappeared 200 years ago. This had caused the Minahasa people to borrow woven fabrics from neighboring regions or batik from Java. Today, the woven fabric has returned.
The return of Minahasa woven cloth has delighted the people of the North Sulawesi. In fact, Minahasa weaving is now widely worn by celebrities. Young actress Shereen Sungkar for example. When she received the Panasonic Award for 2010 Most Popular Actress, she looked elegant wearing a green dress of Minahasa woven designed by Thomas Sigar.
Thomas Sigar, the Manadonese descent fashion designer, is the one who rediscovered the old motifs of Minahasa woven cloth. Since 2005, along with Benny J. Mamoto and Rita Mamoto of the Cultural Art Institute of North Sulawesi, Thomas initiated the revival of Minahasa woven. He conducted his research from books to the field. “In the 17th century thru the 18th, before religions entered the Minahasa, weaving skills reached the highest level,” said Thomas Sigar, who had studied at the Ecole Superieure d’Arts Graphiques and the Academie d’Arts Julien, Paris, France, in 1973-1974. He discovered from his research that the ancient weaving of Minahasa cloth is the most complex method of weaving.
Born in Jakarta on October 20, 1952, the designer said the highly difficult method of weaving and the arrival of Christian religion in the 19th century—that viewed the motifs of ancient Minahasa cloth as symbolizing paganism—have caused the disappearance of Minahasa woven fabric since 200 years ago.
Today, in this entire world, there are only seven pieces of Minahasa cloth which already aged over hundreds of years. They are stored at a museum in the Netherlands. “We can find one piece of cloth in the National Museum, but I’m afraid it is not from Minahasa but from the Philippines,” said Thomas, who has been developing Indonesian cultural heritage in the form of fashion since 1997.
Thus, it has been a long time for Minahasa people to wear fabrics that were not theirs. According to his notes, even when participating in the traditional ceremonies, the people of Minahasa used to wear a woven fabric from Nusa Tenggara Timur (NTT) and even batik cloth from coastal Java region. Thomas also discovered photographs showing that in the kingdom days, the king wore a patala cloth from India.

Jamu Peddler and The Natural Lifestyle of Kiringan Villagers


Singgir Kartana
At a glance, the hamlet of Kiringan is no different than any other hamlet around the area of Canden Village, Jetis District, Bantul, Yogyakarta. It is a countryside alive with its agricultural surroundings. Ricefields encircling almost the whole area are the main supporter of the village’s economy.
Nevertheless, if we take a closer look we can see some extraordinary sides which the other hamlets do not have. The extraordinary thing that is so plain to the eyes, the hamlet has long been a center of jamu gendong or jamu peddlers. Another exceptional thing that is less obvious is the pattern of life they choose, or better known as lifestyle, the villagers are nature oriented.
The traditional making of jamu, or herbal concoctions, has long been a culture carried out by their ancestors. From generation to generation, the “science” of jamu has been inherited in a natural manner, without any formal instigation whatsoever. “As far as I remember, jamu has been here since I was a child,” said Mrs. Sudiyatmi (50), who has been serving as the head of the hamlet for 21 years.
At present, about as many as 115 heads of family—particularly the women—are involved in the jamu making. Total number of residents of Kiringan hamlet is about 250 families. They are not only preparing the jamu, they also consume the herbal remedies themselves. Moreover, almost every woman in the hamlet is skillful to brew jamu elixirs.
They can come up with a potpourri of jamu concoctions, including beras kencur (rice galingale), uyup-uyup, kunir asem (curcuma and tamarind), and cabe puyeng (chili brew). The ingredients are all herbs, such as kencur (galingale root), jahe (ginger), sunti, empon-empon, kunyit (curcuma), temu ireng (curcuma aeruginosa or black curcuma) and temu lawak (curcuma xanthorrhiza). While they can buy these herbs at the traditional market, they also cultivate them at home.
The women start early in the morning preparing jamu, at about 5 am. Then they leave the hamlet at 8 to sell the jamu door to door. They would return home in the afternoon. “When we still have the jamu in our hands, we would keep selling. Otherwise we have to discard the leftovers,” said Ponijah (46) who markets the jamu in the area of Sumbermulyo Village, about 6 kilometers from her home.

Stilts and The Balance of Life


Do you still remember having a good time with stilts during your childhood? Those of us coming from countrysides would remember this game. At least, everytime we celebrate the Independence Day of August 17, there were almost always stilts competitions.
Today there are many stilts to choose from, but the traditional kinds found in many places in the Archipelago are usually made of bamboo canes. They are about 2 meters long with footholds of about 25 long, just the right size for the feet. The footholds are about half a meter above the ground. The game is mostly played by boys, but recently girls also join in the fun. So do adults.
The principle of the game is to train our balance. When we play stilts, the most stirring moment is when we make the first step on the foothold. After we manage to place our feet steadily then steps are made slowly by holding on to the bamboo cane. The impressive part of this game is as if we are taller than other people.
Stilts are generally played on a dry and flat field. If there is a lawn so much the better because it must be safer. When people compete on stilts, the game is similar to a 100 or 200 meter sprint. The players will line up on the start line holding their stilts. When the whistle blows, the participants stepped immediately on the footholds of their stilts and quickly take wide steps. They race within a certain distance to the finish line. The game can be found throughout the Archipelago with many names.

The Legalizing Ritual of “Fondrakö”


Behaviors, of individuals as well as of the society, in Nias culture is controlled through fondrakö. The Fondrakö is a community deliberation forum that also ratifies the customary law. The term is derived from the word rakö (set by oath and curse sanctions). Accordingly, Fondrakö is the establishment of customary law that was legalized by oath and curse sanctions.
The Fondrakö’s legal materials are based on five basic values in the outlook of life held by Nias traditional community (Mendröfa, 1981: 44-6). The five values are: fo’adu (sacred act, pure, solemn), fangaso (purchase of property related with works of: farming, breeding, loans), fo’ölö-ölö hao-hao (social courtesy), fabarahao (formulating procedures of indigenous government and community clustering), and böŵö masi-masi (attitude of compassion and fairness).
The Fondrakö law formulation covers three life aspects (Laiya, 1975: 22-3). First, huku zi fakhai ba mboto niha (law concerning the welfare of the human body). The second is huku zi fakhai ba gokhöta niha (law concerning rights over property belong to people). The third, huku zi fakhai ba rorogöfö zumange niha (law relating to dignity.) Passing through several stages of meetings and deliberations, traditional leaders bring the legal formulation of the fondrakö in a ceremony of ratification. During the ritual, they affirm the presence of a blessing to those who obey the law and a curse to those who break the law (Laiya, 1975: 22-3).
When they give blessings, the ere (priest) would wave young coconut leaves while saying “Ya’ahoŵu dozi solo’ö huku andre ba ya’iondrasi ia hoŵu-hoŵu. Hoŵu-hoŵu khönia ba danö ba hoŵu-hoŵu ba mbanua.” (May abundance and prosperity come to those who obey the law, and let blessings that would come after them. Blessings for them on Earth and blessings for them in Heavens). When the ere cursed, he slammed a palm ekel broom to siraha lato (sculpture), then a chicken’s neck was cut, rotated, and struck into the siraha, while saying, “Ni’elifi ba lato ndrege zanaŵö ba ndrege zanu’i angetula nono zalawa andre. Ya simane fa’atefuta mbagi manu andre ia, ya lö wa’ania ba danö ba ya lö hogunia ba mbanua.” (Cursed on lato are those who violate the law and opposed the decision of this noble son. Here he is, just like the chicken’s neck, he is not rooted on Earth and will not bloom in Heavens).
Another version recounts an old man broke palm ekel broom sticks, the legs and wings of a chicken, and pouring hot lead into the mouth of the chicken, while saying, “Whoever violates anything that has been legalized by this fondrakö, just like this fragile stick, like this tortured chicken, its legs and wings broken, everything he eats would be hot like this lead, so he died. He may not have offspring” (Harefa, 1939: 24).
Then the ere stomped his feet and said, “Me kara lö tebulöbulö, me kara lö maoso-maoso, kara toröi ba nahania, kara sahono boto” (Because the stones would never change, the stones would not move, the stones would remain in place, the stones are forever eternal). Afterwards, the ere gave order to recite the decision of the fondrakö to everyone who were not present. Finally, the ere banged the chicken on a banana trunk until it died.
Besides chickens, animals used as exemplars for fondrakö lawbreakers are dogs (Daeli, 1988; Mendröfa, 2005). During fondrakö’s legalizing ritual, while burning a dog, a satua nöri (a leader) said, “Whoever violates anything that was legalized here, let him and his descendants become as this burning dog, with protruding tongue, ruptured stomach, eyes open wide, dirt expelled.”
Then the satua nöri drove a nail into a coconut trunk (fotanö si’öli/gosö-osö ba döla nohi) and said, “Whoever the person, no one in this country could pull out this nail from the coconut trunk, no one can violate this decision.”

Mama’s House of Wolowaru, Flores – The Harmony Hall of The Patti Clan




The Island of Flores has been famous for its various patterns of traditional houses. The patterns are their expressions of thoughts and feelings to reach harmony along with nature, fellow human beings, and the spiritual world. The Rumah Mama (Mama’s House) in Wolowaru, Ende Regency, is one of the few left, in addition to similar houses in Bena, Nage, Wogo, and Todo.
The large traditional house called seoria is located on the left side of the Ende-Maumere road, about one kilometer from the junction towards the Kelimutu Lake.
Being in Lisedetu Village, Kelimutu District, the presence of the custom house is conspicuous from the road with its distinctive mark: breast-like bulge on both main doors. Consequently, the house is called House of Mama or “tetek” (breast) house, to show that women have significant roles in
the cosmic of Lio sub ethnic. The size of the house, which is larger than most residents’ houses—with typical thick palm fiber roof—is characteristic of the area when we passed down the road from Kelimutu Lake.
Yuliawati Kuntadi Patti (53), wife of the musolaki (tribal chief) of Wolowaru, Imannuel Isa Patti, who accompanied Warisan Indonesia, explained that the custom house is already 400 years of age. It was built by the ancestors of her husband, the forerunners of the Patti clan. Although she is Sundanese (from West Java), Yuliawati fluently explained the philosophy of Rumah Mama and also the history of Patti clan whose hometown was Ambon before they migrated to Flores around the 17th century.
According to her, the main objective of the stage house— measuring about 8 meters by 9 meters supported with 9 pillars—is to serve as the dining hall for the musolaki of Patti clan. In this custom house, traditional celebrations are held during the months of April, June, and October.
Moreover, any dispute related to custom are mostly related to property—normally called tanah lise or tanah pire—or a rivalry over a woman, which will be settled in a convention held in this custom house. “When the dispute still cannot be solved in this house, then the musolaki would throw the conflicting parties with mantra-laden rice. The person exposed to the rice would be disabled for the rest of their life,” Yuliawati said.
According to her, the custom house—with a commanding air that also gives an impression of a haunted house—is prohibited for children and unmarried women. They are not allowed to enter the house. There has been no legit explanation why children and single women are forbidden to come to the house. “We just follow the advice of our ancestors,” she answered lightly.

Sabtu, 17 Desember 2011

If your message is clear and precise you will attract your target audience and make them want to learn more about your products or services

.JK.085223063381. trade show displays are a great way to get exposure for your company and the products and services you provide. These types of events need to be carefully planned out to make sure you reach your target audience. You want to make sure that your exhibit has powerful displays that get your message across and draws people into your space.

When designing your trade show exhibit you need to plan well in advance so you will have time to get all of your graphic displays created. You should focus on a theme for your exhibit and design your displays around it. A trade show is a good time to introduce new products and to get people interested in what you do.

You want to make your exhibit professional looking and attractive to draw in new prospects truss. You can coordinate your displays and tables to match the colors of your company's logo. You can also have your staff wear appropriate attire to give your exhibit an overall professional look.

You don't have to have the biggest or flashiest trade show exhibit to attract visitors. You need to have well placed displays that let people who are passing by know what your products or services are. You can use a combination of signs, pop-up displays, marketing materials and lighting to give your exhibit a clean organized appearance.

You want your message to be loud and clear. The images and words you use in your displays are crucial to get the right visitors to your exhibit. If your message is clear and precise you will attract your target audience and make them want to learn more about your products or services.

Your trade show display needs to catch a visitor's attention with a bold statement or a powerful image. It also has to tell them who you are and what your company does. Trade show visitors are not mind readers, you have to spell it out to them. Your displays should give the advantages or reasons a person should choose your product over your competitors.

Your display should be simple and to the point. Graphics and images can make your display stand out. If you have a website make sure it is displayed on one of your graphics. Think outside the box and be creative. You can use a variety of different types of displays to get your message out and onto the floor.

You can use table top displays, floor displays, and fold up displays to make your exhibit a place people are excited about and what to learn more. You can use literature racks to display your marketing materials. You can coordinate all your tables with table covers that have your company's name and logo floor mats on them.

Other things that you can use in your trade show exhibit is lighting to highlight your displays and attract attention to your message. To give your exhibit an overall professional look you can use trade exhibit booths. .JK.085223063381.

Rabu, 14 Desember 2011

Situs Batujaya – Kompleks Candi Bata Tertua di Jawa




Percandian Batujaya hampir terlupakan.  Padahal, situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara yang mempunyai banyak keunikan.  Keunikannya, antara lain, terletak di dekat pantai dan dibuat dari batu bata.
Sebegitu terkenalnya, Candi Jiwa ternyata hanya salah satu dari 30 candi yang ada di kompleks percandian Batujaya di Karawang, Jawa Barat.  Kompleks ini disebut percandian karena terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik.  Percandian Batujaya, yang lokasinya di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakis Jaya, Karawang, ini menarik karena bila candi di Indonesia pada umumnya berada di dataran tinggi dan jauh dari bibir pantai, lokasi percandian Batujaya hanya berjarak sekitar 4 kilometer dari pantai. Situs seluas 5 kilometer persegi ini berada di tengah persawahan, tidak jauh dari garis pantai utara Jawa Barat dan Sungai Citarum. Hal itu membuat tanah di daerah itu tidak pernah kering.
Akibat kondisi itu, pada saat hujan, air menggenang di seputar areal candi sehingga proses ekskavasi (penggalian) situs itu pun tertunda beberapa bulan. “Proses pengerjaan selanjutnya baru akan dimulai lagi bulan April mendatang,” tutur Kaisin, penjaga situs cagar budaya Batujaya, awal Februari lalu, kepada Warisan Indonesia.
Yang lebih menarik lagi, kalau biasanya candi menggunakan bahan dasar batu gunung, candi-candi di situs Batujaya menggunakan batu bata. Hal ini dimungkinkan mengingat Batujaya berada di dataran rendah, jauh dari lokasi batu-batu gunung. Uniknya, ukuran bata yang dipakai, yakni 40 x 20 x 7 sentimeter, lebih besar dari bata pada umumnya. Bentuknya juga bermacam-macam sesuai kebutuhan arsitektur bangunan candi. Di beberapa bagian candi, misalnya, alas tangga di situs Segaran V (Candi Blandongan) dilapis dengan stuko (plester).
“Bisa disimpulkan, kompleks candi di Batujaya adalah kompleks candi bata paling tua,” ujar Judi Wahjudin, Kepala Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Serang. Hal itu karena di antara artefak-artefak yang berhasil ditemukan terdapat peninggalan sebelum masa Hindu-Buddha, antara lain delapan tengkorak dan gerabah dari masa prasejarah (masa budaya buni).

Situs Gunung Padang – Simbol Keagungan dan Kebijaksanaan




Situs Gunung Padang, yang semula diduga bekas pemakaman, dianggap menyisakan misteri besar kehidupan leluhur masyarakat Sunda.
Namanya memang Gunung Padang, tetapi lokasinya bukan di Sumatera Barat, melainkan di Jawa Barat. Itulah situs megalitik Gunung Padang di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan megalitikum di Jawa Barat.
Tapaknya berada di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulkan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.Luas kompleks bangunan lebih kurang 900 meter persegi, terletak diketinggian 885 meter dan memiliki luas 3 hektar.
Situs yang dianggap masih menyisakan misteri besar kisah kehidupan para leluhur masyarakat Sunda ini ditemukan pada 1979. Para arkeolog percaya bahwa Gunung Padang adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara yang diperkirakan dibangun pada 2000 SM atau sekitar 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.
Keberadaan situs ini pertama kali disebut pada 1914 dalam buletin Dinas Kepurbakalaan. Kemudian N.J. Krom, sejarawan dari Belanda, mencatat dalam bukunya, rapporten van den oudhei kundingen dients in nederlandsch-indie (1949), bahwa tempat tersebut sebelumnya diduga adalah pemakaman. Namun, pada 1979, para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkenas mematahkan dugaan tersebut karena ketika dilakukan penggalian di area itu, tidak ditemukan kerangka atau tulang manusia purba.
“Situs megalit Gunung Padang termasuk peninggalan prasejarah dengan ditandai hunian punden berundak budaya megalitik, sejak bercocok tanam sekitar 2500 SM berkembang terus seni budayanya,” ujar Drs. Lutfi Yondri, M.Hum., Peneliti Utama di Balai Arkeologi Bandung. “Situs ini banyak pengetahuan yang bisa digali. Contohnya tentang nenek moyang yang sudah membuat hunian tahan gempa dan tentang kearifan lokalnya,” tambah Lutfi Yondri.

Arca Tanpa Aksara



Para leluhur tak mewariskan aksara. Sebagai gantinya, ‘Negeri Megalit’ ini memilih batu dan arca.
Suku Nias terkenal dengan kebudayaan megalitik dalam bentuk dolmen (batu besar), menhir (batu tunggal yang berdiri tegak di atas tanah), dan artefak (alat keseharian dari batu, tulang, logam dan sejenisnya).  Benda-benda ini, dijadikan monumen sekaligus pengakuan status di masyarakat. Namun tugu-tugu batu tersebut, tidak sepenuhnya sekadar simbol monument belaka. Melainkan bertujuan untuk mengabadikan dan sebagai jembatan komunikasi, suatu peristiwa di masa lampau untuk diketahui generasi terkini.  Pada tubuh megalit dipahat berbagai ukiran, menjadi ornamen yang merupakan simbol-simbol. Simbolsimbol tersebut diinterpretasi dan kemudian dipahami masyarakat, biasanya untuk menggambarkan bagaimana kualitas kehidupan pemiliknya. Para leluhur menempuh cara ini karena mereka tidak mengenal aksara (budaya tulisan tidak mereka kenal).
Penyampaian pesan seperti ini, dapat diketahui melalui simbol-simbol atau ornamen-ornamen yang telah diukir serta melalui syair-syair kuno (Hoho), dan cerita-cerita rakyat. Batu sengaja dipilih sebagai sarana untuk mengabadikan suatu peristiwa dan juga sebagai tanda jasa, karena sifatnya yang tetap selama-lamanya (lö mamalö) dan tidak berubah-ubah (lö tebulö) sepanjang abad. Sehingga generasi ke generasi dapat mengetahui dan mengenang peristiwa tersebut yang terjadi pada masa lalu. Makanya tak usah heran, jika Arca-arca batu berusia ratusan tahun bisa dijumpai dengan sangat mudah di halaman-halaman rumah penduduk.
Di wilayah Kecamatan Gomo, Nias Selatan, misalnya, setidaknya ditemukan 14 titik yang merupakan situs (daerah temuan benda-benda purbakala) batu megalit. Tapi yang sudah dibuka untuk umum baru empat situs.  Semua situs itu terletak di ladang dan hutan penduduk setempat, di antaranya di daerah Lahusa Idano Tae, Gomo, dan desa Olayama, Dusun Bihata, Kecamatan Lölöwa’u. Untuk menuju ke kedua lokasi, hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Itu pun harus menyeberangi arus sungai dan jalan setapak di pegunungan yang memiliki kemiringan 45 derajat, sangat melelahkan memang.

Keraton Kasepuhan Cirebon – Ketika “Bouroq” dan Burung Hong Bercumbu




Arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon adalah paduan unsur-unsur budaya Islam, Hindu, Buddha, Kristen (Barat), dan Konfusius (China). Ini bukti pembaru menghormati apa yang telah ada sebelumnya.
saat mendirikan Keraton Kasepuhan Cirebon pada 1529, Sunan Gunungjati mempertahankan unsur tradisi Hindu-Buddha dari Kerajaan Pandjadjaran. Salah satu penandanya adalah sepasang patung harimau berwarna putih di pelataran Kamandungan. Masyarakat Sunda pedalaman yakin, harimau adalah reinkarnasi sosok Prabu Siliwangi yang menjadi raja terakhir di Padjadjaran.
Jejak kebudayaan Hindu-Buddha juga tampak jelas pada kompleks bangunan sitihinggil (bahasa Jawa, siti: tanah, hinggil: tinggi) yang bercorak candi bentar—arsitektur khas zaman Majapahit—pada dua gapuranya, gapura adi di utara dan gapura banteng di selatan.
Di bawah gapura banteng ini terdapat candra sengkala dengan tulisan kuta bata tinata banteng yang kalau dibaca dari belakang merujuk tahun 1451 Saka atau 1529 Masehi. Kemungkinan besar sitihinggil inilah yang pertama kali dibangun sebelum bangunan lain menyusul kemudian.
Di dinding seluruh bangunan yang menggunakan material batu bata merah menempel aneka keramik China masa Dinasti Ming (1364-1644 M) dan keramik Delf dari Belanda. Di depan sitihinggil terdapat meja batu granit hadiah Sir Stamford Raffles, wakil Kerajaan Inggris yang pernah menjadi Gubernur Jenderal Jawa (1811-1816).
Menurut pemandu keraton, Elang Mungal (51), bangunan sitihinggil berfungsi sebagai tempat sultan menyaksikan latihan perang prajurit keraton di alunalun yang berlokasi di sebelah utara keraton. Latihan ini dilakukan setiap hari Sabtu hingga disebut sebagai Sabtonan.
Di dalam kompleks sitihinggil terdapat lima bangunan berbahan utama kayu jati mirip pendapa tanpa dinding dan masing-masing memiliki nama serta fungsi berbeda. Bangunan utama yang terletak melintang dengan jumlah saka (tiang) 20 buah dinamai malang semirang yang melambangkan 20 sifat Allah SWT. Sementara saka guru (tiang utama) enam buah, yang melambangkan rukun iman. Di tempat inilah sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.
Bangunan di sebelah kirinya bernama Pandawa Lima dengan lima buah saka yang melambangkan rukun Islam. Bangunan ini tempat para panglima perang. Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan dua saka yang melambangkan dua kalimat syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasihat sultan yang disebut penghulu.
Di belakang bangunan utama ada Mande Pengiring tempat berkumpulnya pengiring sultan. Sebuah bangunan lagi ada di sebelahnya, Mande Karasemen, di situlah para nayaga (penabuh gamelan) berada. Sampai sekarang, bangunan ini masih digunakan sebagai tempat membunyikan gamelan sekaten saat Idul Fitri dan Idul Adha.
Selain itu, juga terdapat lingga-yoni. Dalam khazanah kebudayaan Hindu, lingga-yoni merupakan lambang kesuburan. Di atas tembok sekeliling sitihinggil terdapat Candi Laras untuk penyelaras kompleks itu.

Puri Agung Karangasem: Sebuah Potret Pelestarian Budaya




Kontribusi Kerajaan Karangasem pada perkembangan sejarah Bali amat penting. Saat zaman berubah, anak cucu raja berkumpul dan melestarikan tradisinya di sebuah puri.
Puri Agung Karangasem adalah salah satu peninggalan penting Kerajaan Karangasem.
Bangunan megah yang hingga kini tetap terpelihara itu sesungguhnya baru hadir jauh setelah pendirian kerajaan. Namun, kenyataannya, kompleks seluas 1,5 hektar itu memainkan peran penting pada masa kemerdekaan menyusul sirnanya kekuasaan kerajaan yang sesungguhnya.
I Gusti Gede Djelantik adalah raja yang mendirikan puri itu. Saat itu, ia adalah Stedehouder atau wakil pemerintah kolonial Belanda yang pertama antara tahun 1896 dan 1908. Sejak 1909, ia digantikan keponakannya, I Gusti Bagus Djelantik, atau Anak Agung Bagus Djelantik. Inilah raja terakhir yang meninggal pada 1966 di Puri Agung tersebut.
Raja terakhir, yang juga tersohor dengan nama Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem ini, amat berjasa. Dia meninggalkan banyak karya di berbagai bidang. Karangasem mencapai kemajuan pesat. Pendidikan, kesenian, adat, pertanian ataupun keagamaan. Keahliannya mencakup seni ukir dan tari gambuh. Ia juga menggubah tembang dan kakawin dalam bahasa Kawi.
Puri Agung Karangasem, yang merupakan karya pendahulunya, itu ia perindah dengan menciptakan Kuri Agung atau gapura istana. Rancangannya unik dan terus terpelihara hingga kini. Dua buah taman yang merupakan karyanya adalah Taman Sukadasa (1919) dan Taman Tirta Gangga (1948).
Setelah kemerdekaan pemerintahan kerajaan tidak ada lagi. Namun, menurut pengelola Puri Agung Karangasem, Anak Agung Made Arya, tata pemerintahan sebenarnya sampai kini masih lestari di lingkungan semeton atau kerabat internal. Tentu, penerapannya berbeda pada saat ini karena tatanan itu dijaga untuk memenuhi kepentingan adat dan keagamaan di lingkungan puri.“Kalau dahulu puri dipimpin seorang raja, kini dipimpin penglingsir puri,” tutur cucu raja terakhir Kerajaan Karangasem itu

Sangiran – Menguak Misteri Manusia Purba


Separuh temuan fosil manusia purba dunia berasal dari Sangiran. Pekerjaan panjang menanti ilmuwan. Banyak hal misteri bakal jelas asal semua pihak mengerti arti penting masa lalu.
INGIN menengok peradaban manusia purba? Datanglah ke Sangiran. Di kawasan berbukit, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, itu kita dapat menemukan bukti-bukti kehidupan manusia jutaan tahun silam berupa ribuan fosil. Itulah modal awal bagi para ilmuwan untuk menguak misteri kehidupan nenek moyang yang penuh misteri.
Tak hanya fosil bagian tubuh manusia, tetapi ada juga sisa-sisa perkakas sederhana pendukung kehidupan zaman dahulu. Dalam kompleks ini kita mendapatkan bukti bahwa manusia purba yang hidup di Sangiran sekitar dua juta tahun lalu memiliki habitat. Mereka juga harus taat pada pola kehidupan yang ada, bergaul dengan binatang hidup bersama menurut aturan tertentu.
Tak sulit menuju ke sana, hanya 20 kilometer dari Kota Solo. Sangiran ada dalam wilayah administratif Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Luasnya mencapai 59 kilometer persegi milik Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh, serta Kecamatan Gondangrejo di Kabupaten Karanganyar.
Konon, sebagaimana diyakini para geolog, dahulu Sangiran adalah hamparan laut. Proses geologi panjang, serta rangkaian letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, telah mengubah Sangiran menjadi daratan. Hal ini dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah yang sangat berbeda dengan wilayah lain. Pada setiap lapisan, para ahli menemukan fosil yang berbeda jenis sesuai zamannya.
Pada suatu masa, Situs Sangiran merupakan suatu kubah yang tererosi di bagian puncaknya. Bukti kondisi deformasi geologis tampak dengan adanya aliran Kali Brangkal, Cemoro, dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah, hingga selatan. Kikisan aliran sungai tersebut menyingkap lapisan-lapisan tanah secara alamiah, kemudian jejak fosil pun tampak, baik manusia purba maupun hewan vertebrata (Widianto & Simanjuntak: 1995).
Secara stratigrafis, situs Sangiran merupakan situs manusia purba terlengkap di Asia. Kita dapat menyaksikan perkembangan kehidupan manusia purba secara berurutan tanpa terputus sejak 2 juta tahun yang lalu. Mulai dari zaman Pliosen Akhir hingga akhir Pleistosen Tengah.
Masyarakat modern mulai mengenal Sangiran saat antropolog dari Jerman, Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, memulai penelitian di area tersebut pada 1934. Saat itu, Von Koeningswald menemukan paling tidak lima fosil manusia purba yang berbeda jenisnya. Fosil-fosil ini menggarisbawahi keyakinan bahwa manusia berevolusi dari kera menjadi manusia modern seperti bentuk saat ini.
Sejak saat itu, para peneliti, baik dari Indonesia maupun asing, terus bekerja di Sangiran. Koenigswald bukanlah orang pertama yang mencoba menguak misteri manusia purba di tanah Jawa. Pada 1891, Eugene Dubois, antropolog Prancis, menemukan fosil Pithecanthropus Erectus, manusia purba tertua dari Jawa. Kemudian pada 1930 dan 1931, di Desa Ngandong, Trinil-Mojokerto, ditemukan juga fosil-fosil manusia purba yang berasal dari zaman Pleistosen. Penemuan-penemuan ini mengungkap sejarah manusia yang hidup berabad-abad lalu.

Senin, 12 Desember 2011

Kepingan Fakta di Liang Bua




Penemuan situs manusia purba Liang Bua pada tahun 2003 mengguncang dunia arkeologi. Digali pertama kali pada tahun 1965, hingga kini temuan ini terus menjadi perdebatan di kalangan arkeolog.
BENARKAH Homo floresiensis yang tengkorak dan kerangkanya ditemukan di Liang Bua, Flores, oleh arkeolog Indonesia dan Australia tahun 2003 berkerabat dengan Pithecanthropus erectus—manusia kera yang berjalan tegak?
Atau, temuan yang diumumkan oleh arkeolog Michael Morwood dari Universitas Wollongong, Australia, secara sepihak pada tahun 2003 itu merupakan tengkorak homo sapiens—manusia modern—yang mengidap penyakit sehingga bertubuh kerdil hingga dijuluki manusia hobbit?
Terlepas dari perdebatan ilmiah yang hingga kini terus berlangsung itu, situs Liang Bua yang berada di gua karst yang dihiasi stalaktit di ketinggian 500 di atas permukaan laut (dpl) dan berjarak sekitar 25 kilometer utara Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menyimpan kepingan fakta jejak peradaban Flores purba.
Ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan mobil dari pusat kota Ruteng, jalanan menuju Liang Bua—yang artinya gua dingin—itu berkelok dan tanpa papan penunjuk jalan. Berada di Kampung Rampasasa, Desa Waemulu, Kecamatan Waeriri, Kabupaten Manggarai, situs Liang Bua berada tak jauh dari persawahan dan dikelilingi hutan.
Menurut pemandu, Cornelis Jaman (38), situs Liang Bua memiliki lebar 50 meter, panjang 40 meter, dan tinggi dinding dari permukaan tanah 25 meter. “Menurut legenda rakyat sini, gua ini diciptakan nenek moyang kami dengan bantuan makhluk gaib, tetapi tentu ini sekadar legenda,” ujarnya tanpa meneruskan ceritanya.
Penggalian (ekskavasi) situs terus berlangsung hingga kini dan memperkerjakan warga setempat dengan upah Rp 40.000 per hari. Beberapa nama arkeolog yang pernah melakukan penggalian itu, menurut Cornelis, adalah Michael Morwood, Raden Panji Soejono, Thomas Sutikno, Rokus Duwe Awe, dan Sri Warsisto. “Penggalian terus berlangsung, sehari menjelang Lebaran kemarin dihentikan, seusai Lebaran akan dilanjutkan,” katanya kepada Warisan Indonesia, akhir Agustus lalu.
Sedikitnya, ada 3 lubang besar yang digali membujur dan melintang dengan kedalaman bervariasi berkisar 3-6 meter yang diberi pembatas tali rafia, agar situs tidak rusak oleh pengunjung. Di permukaan tampak beberapa kantong plastik berisi serpihan tulang diklasifikasi dan diberi kode tertentu. “Kemarin, kami menemukan kerangka tikus purba, ini kantong tulangnya,” kata Blacius Nggadu (43), kuli gali yang sehari-hari membantu para antropolog, sembari menunjukkan temuan tulang belulang di telapak tangannya.

Dapatkan 10$ gratis dari sini kunjungi http://apolo7-net.blogspot.com/ tinggalkan 100 komentar anda jangan lupa kirim no rek atau paypal anda ke apolo7.net.blogspot@gmail.com dapatkan dolar gratis secara cuma-cuma

PROMOSI KILAT TRAFIK SEO UNTUK MENAIKAN PR DAN ALEXA
MENGADAKAN LOMBA KREATIF KOMENTAR
yang menang bakal menjadi juara dan di berikan hadiah sebesar 10000$secara cuma-cuma
pemilihan pemenang secara acak dan sesuai dengan persaratan yang ditentukan tim penilai
PERSYARATAN PESERTA

1.Tidak mengandung sara dan sesuai dengan etika
2.Komentar yang membangun dan bersipat objektif
3.Minimal 100 komentar yang dikirimkan peserta
4.Terdaftar sebagai angota  MISTIKUS
5.Mengisi daftar peserta, kirimkan data pribadi lengkap anda nama, alamat, paypal atau no rek, URL anda dan tujuan anda mengikuti LOMBA KREATIF KOMENTAR  apolo7.net.blogspot@gmail.com

KRETERIA PEMILIHAN KOMENTAR 

1.Objektifikasi komentar
2.Bobot penggunaan tata bahasa yang digunakan
3.ketajaman skill individu kata yang digunakan
4.Ekfresi kata yang di munculkan harus positip membangun dan fress

Dapatkan 10$ gratis dari sini
kunjungi http://apolo7-net.blogspot.com/ tinggalkan 100 komentar anda
jangan lupa kirim no rek  atau paypal anda ke apolo7.net.blogspot@gmail.com
dapatkan dolar gratis secara cuma-cuma

Minggu, 11 Desember 2011

rahasia khusus kungfu SEO top back lingk dewa SEO tingkat tinggi daftar langsung naek pagek rangk , alexa singset, dijamin pasti puas tampa efek negatif ke blog, domain, site anda

setiap blog pasti membutuhkan back lingk yang kuat, supaya ke indeks SE dengan baik, cara trabas ilmu dewa SEO tingkat tinggi yang mampu menbatu anda tanpa efek negatif ke blog, domain atau site anda supaya mendapat PR yang tinggi dan alexa yang menipis langsing singset seperti jamu sari rapet agan2 kunjungi langsung TKP untuk mendaftarkan LINGK agan2 sekalian dijamin tanpa efek samping trus klo agan daftarin semua PR blog agan dijamin langsung naek dengan drastis pengunjungnya membludak seperti bom atom,

LANSUNG DAFTAR KE TKP

logika rill, nyata, kenyataan bukti rahasia yang tersimpan pada manusia yang bukan tahayul yang dibuktikan dengan alamiah

Manusia tidak akan pernah lepas dari serangkaian hukum alam. Ketentuan ini akan mengikat setiap individu, tak peduli apakah ia setuju atau pun tidak, karena hukum alam merupakan ketetapan dari Sang Pencipta bagi alam dan seisinya. Salah satu hukum alam yang mengikat kita adalah Hukum Kekekalan Energi.
Energi itu bersifat kekal. Menurut Einstein, energi tidak bisa dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk. Lantas apa sajakah bentuk energi yang relevan dengan kehidupan manusia? Jawabannya adalah SEGALANYA! Energi di sini meliputi semua perbuatan yang kita lakukan, langkah kaki kita, ayunan tangan kita, kata-kata yang kita ucapkan, senyum yang kita bagi, bahkan niat yang terlintas dalam pikiran kita. Sejalan dengan konsep hukum karma, Newton dalam Hukum Newton ke-2 menyatakan bahwa Aksi = Reaksi.
Apapun Aksi (energi) yang kita lepaskan, akan selalu memberikan Reaksi (balasan) yang setimpal. Artinya, semua perbuatan yang pernah kita lakukan, selalu memberikan dampak pada diri kita sendiri, bahkan pada anak cucu kita. Nah, bila kita menginginkan energi (dampak) yang baik dalam kehidupan kita dan anak cucu kita kelak, pertanyaannya adalah, “Energi (perbuatan) seperti apakah yang selayaknya kita lakukan?” Untuk menjawabnya, kita perlu menghubungkan ke-2 hukum alamtadi dengan sebuah hukum alam lainnya, yaitu Hukum Keseimbangan.
Hukum Keseimbangan menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini selalu berpasangan. Bila kita mengenal energi positif, tentunya sebagai penyeimbang Tuhan juga menciptakan energi negatif. Keduanya memang akan menciptakan sebuah keseimbangan. Dan Hukum Keseimbangan ini selalu bersinergi secara harmonis dengan hukum alam lainnya, termasuk Hukum Kekekalan Energi dan Hukum Aksi-Reaksi di atas. Energi positif selalu berkumpul dengan energi positif. Karena itu, umpan balik berupa energi positif HANYA akan diperoleh bila kita juga selalu menebar energi positif. Artinya, jangan pernah kita mengharapkan keberuntungan, rejeki berlimpah, peningkatan order, peningkatan penjualan, dan sebagainya, bila yang selalu kita kerjakan hanyalah kecurangan, penipuan, kesombongan, kemaksiatan dan sejenisnya. Semua agama selalu menganjurkan untuk menebar energi positif.
Mulai dari ringan tangan (beramal), rajin bekerja, berprasangka baik, membagi kasih, sampai yang paling sederhana, membagi senyum. Sebaliknya, energi negatif sesungguhnya merupakan larangan agama. Mulai dari yang ekstrim seperti mencuri dan menipu, sampai hal-hal yang nampak remeh seperti sombong, membanggakan diri, merendahkan orang lain.Lantas, bagaimana bila di masa lampau kita banyak terpeleset menebar energi negatif? Ada satu fasilitas dari hukum alam yang telah disediakan oleh Tuhan.
Energi positif, mempunyai kekuatan berkali lipat lebih kuat dibanding dengan energi negatif. Seperti kerja gravitasi semesta, apa jadinya bila matahari (pusat tatasurya) ukurannya jauh lebih kecil dari bumi (yang mengitarinya)? Energi positif akan menghapus “jejak” energi negatif yang pernah Anda keluarkan, merubahnya menjadi energi positif pula.

Sabtu, 10 Desember 2011

Bundengan, Musik Angon Bebek


WARISAN INDONESIA
Ada yang berbeda di pematang sawah pedesaan Wonosobo, Jawa Tengah. Ketika bebek-bebek berkoak riuh-rendah, terdengar suara gamelan dari tudung bambu di tengah semilir angin dan gemericik air.
Bentuknya mirip pengki raksasa, tingginya sekitar satu meter. Terbuat dari anyaman bambu yang diperkuat karet dari ban bekas. Di bagian atap ditambahkan ijuk yang ujungnya disimpul sehingga serupa tanduk yang melengkung.
Masyarakat setempat menyebut alat ini sebagai kowangan. Fungsi awalnya sebagai tempat berteduh penggembala bebek kala panas ataupun hujan. Untuk mengusir jenuh, alat ini akhirnya dimainkan dan menimbulkan suara yang menakjubkan. Di bagian dalam dipasang enam utas tali dari ijuk yang melintang. Di bagian bawah diselipkan tiga batang bambu tipis sehingga akhirnya menimbulkan bebunyian. Kowangan pun beralih fungsi menjadi alat musik. Inilah yang disebut musik bundengan.
Tak ada catatan pasti kapan dan siapa penemunya. Kemungkinan sudah ada sejak awal abad ke-20. Barnawi pernah dikenal sebagai pelestari bundengan. Lewat tangannya pula alat musik ini mengalami sedikit perubahan. Penggunaan ijuk sebagai dawai diganti senar raket supaya lebih nyaring. Kemahirannya mencipta nada membuat bundengan jadi pengiring tari lengger di beberapa kesempatan.
Sayangnya, Barnawi meninggal 30 September 2010. Hanya tersisa dua pewaris yang ia percaya jadi penerus bundengan, yaitu putri bungsunya yang masih SMP dan Hengki Krisnawan (41).
Boleh jadi, saat ini hanya Hengki yang memopulerkan bundengan agar dikenal orang banyak. Di kampungnya, Sruni, Jaruksari, Wonosobo, ia menggerakkan mudamudi membentuk grup lenggeran. Sebagai pegawai di Kantor Budaya dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, penggemar motor besar ini kerap mengundang wisatawan asing ke tempatnya guna menyaksikan tari lengger dengan iringan bundengan.

Memburu Kewibawaan di Kahyangan



Tempat sejuk di tengah wilayah kering yang jadi tempat bersemadi Panembahan Senapati. Sampai sekarang, tempat ini menjadi tempat pertapaan bagi yang ingin mendapatkan kewibawaan.
Wonogiri, Jawa Tengah, selama ini dikenal sebagai kota tandus dengan tanah kering dan sulit ditanami padi. Geografis daerah itu memang sebagian besar pegunungan kapur dan hanya cocok untuk tanaman keras, seperti palawija yang kurang bernilai ekonomis.
Namun, saat kita menginjakkan kaki di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, ada keanehan tersendiri. Di desa kecil, yang hanya berjarak sekitar 25 kilometer arah selatan Wonogiri, ini terlihat hamparan hijau royo-royo tanaman padi yang tumbuh subur tanpa harus mengharapkan air hujan. Daerah perbukitan desa itu dibelah oleh Sungai Wiroko yang bersumber dari mata air di Pegunungan Seribu—di wilayah yang sama. Sungai itulah yang menjadi penyelamat dengan menjadi sumber pengairan tanaman padi serta kebutuhan hidup warga Desa Dlepih dan sekitarnya.
Petilasan Panembahan Senapati
Menurut legenda, Sungai Wiroko adalah salah satu petilasan Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati, raja pertama Mataram. Di situ pula tempat pertemuan Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut selatan.
Konon, Danang Sutawijaya menerima wahyu di tempat itu setelah bersemadi. Pertemuannya dengan Ratu Kidul salah satunya adalah dalam rangka bersama-sama merencanakan pembangunan kerajaan di Tanah Jawa (Mataram). Diceritakan, saat Panembahan Senapati sedang duduk bersama dengan Ratu Kidul, mendadak datang seorang pembantu, Nyai Puju, untuk memberikan sesajian kepada Panembahan.
Kedatangan Nyai Puju membuat Ratu Kidul tersadar bahwa pertemuannya dengan Panembahan Senapati sudah diketahui manusia. Penguasa Laut Selatan itu cepat-cepat menghindar sambil menarik tangan Panembahan Senapati. Akibatnya, tasbih Sang Panembahan yang masih dalam genggaman jatuh berhamburan. Manik-manik tasbih itu berserakan sampai ke dalam Kedung Pesiraman. Saat itu, Ratu Kidul berkata, “Barangsiapa menemukan manik-manik anak tasbih yang terendam di Pesiraman Dlepih, dialah yang akan mendapatkan begja kemayangan (kebesaran). Hal itu karena manik-manik tasbih Panembahan Senapati bertuah bagi penggunanya.” Kata-kata begja kemayangan kemudian berubah menjadi kahyangan dan menjadi cikal bakal nama Kahyangan Dlepih.

Mandau dan Religi Suku Dayak

WARISAN INDONESIA /
Mandau dan suku Dayak ibarat pakaian dan tubuh, saling melengkapi dan tak bisa terpisahkan. Ada cara khusus membuatnya dan ada ritual memperlakukan mandau.
Bila ke Kalimantan, kita tentu akan ingat pada mandau sebagai senjata khas Dayak. Karena itu, banyak turis lokal dan asing ingin membawa mandau sebagai cendera mata. Padahal, mandau yang sebenarnya tidak bisa digunakan sembarangan.
Menurut Hermanus Bintang (56), kepala adat suku Dayak Desa di Ensaid Panjang, Sintang, Kalimantan Barat, mandau harus dimandikan dengan air pucuk bemban yang dicampur empedu ular tedung atau kobra dan tedung sari atau lipan yang sudah mati tua tanpa dibunuh.
Karena itu, mandau tidak boleh untuk mengupas makanan, sebab mengandung racun. Kalau tidak pada musim mengayau, bilah mandau tidak boleh ditarik dari sarungnya, khawatir terkena bisa. Kalau sampai kena tangan, lukanya lama sembuh, dan selalu berair, meskipun tak sampai membuat orang mati. Selain itu, setiap awal pemakaian, mesti didahului pembacaan mantra yang ditujukan kepada Batara atau Tuhan. Ritual tersebut dilakukan karena Batara atau Tuhan sangat berteman dengan alam. “Karena itu, mandau tak boleh dipakai sembarangan,” kata Hermanus Bintang.
Bekal ke Alam Akhirat
Mandau tidak boleh dipakai sembarang orang, kecuali diwariskan kepada anak. Ketika orang Dayak Desa meninggal, mereka meletakkan mandau di dada dan menguburnya bersama jasad. Mandau sebagai bekal ke alam akhirat agar bisa digunakan dalam berbagai kegiatan dan keperluan.
Ada beberapa jenis mandau di Dayak Desa. Jenis pedang, mandau, nyabur papan dan jempul atau parang panjang. Namun, sekarang, di rumah betang Ensaid Panjang, mandau jarang ditemukan. Sekitar 1960-1970-an, dari sejumlah daerah lain, terutama dari Minangkabau, banyak datang untuk mencari barang antik. “Banyak mandau dijual saat itu,” tutur Bintang. Bila ingin membuat mandau, di subsuku Dayak Kayaan, di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mendalam, Kapuas Hulu, ada seorang yang masih membuat mandau hingga sekarang, yaitu IG Paran (78), tumenggung adat Dayak Kayaan.
Paran yang tinggal di Dusun Lung Miting, Desa Tanjung Karang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu membuat mandau sejak 15 tahun lalu. Tepatnya saat anaknya mulai mengerjakan ladang. Selain membuat mandau, juga membuat berbagai macam barang seni. Seperti asbak, lukisan topeng, dan perangkat adat.

Gembong Amijoyo, Semangat Hidup Barongan Blora



Diasz Kundi
“Barongan ora galak…(barongan tidak galak),
Barongan moto beling …(barongan bermata beling),
ndhas pethak ditempiling…(kepala botak ditempeleng)”
Bagi penggemar kesenian barongan, pasti sangat akrab dengan syair tersebut karena ketika barongan masih sering dipentaskan berkeliling kampung, selalu diiringi tabuhan berupa kenong, saron, dan gong membawakan parikan ini.
PARIKAN tersebut terdengar lucu, tetapi sebenarnya syairnya dimaksudkan untuk menyindir keberadaan para penjajah Belanda. Melalui katakata “barongan ora galak”, para seniman pada zaman penjajahan ingin mengatakan bahwa barongan adalah gambaran dari budaya asli daerah yang merupakan kawan bersama dan tidak perlu ditakuti.
Menurut beberapa sumber, tokoh Singo Barong (singa raksasa) yang merupakan tokoh utama dalam kesenian barongan, merupakan visualisasi dari semangat para pejuang itu. Boleh jadi para pejuang terinspirasi oleh keberanian dan ideologi Gembong Amijoyo yang merupakan figur asli dari jelmaan Singo Barong. Lirik selanjutnya dari pantun kilat tersebut, “barongan moto beling” merupakan gambaran sepasang mata Singo Barong yang dibuat dari kelereng berukuran besar dan berbahan dasar kaca. Parikan ini ingin menyatakan bahwa semangat perjuangan anak bangsa tak mengenal kompromi dalam melawan penjajah.
Hal ini semakin jelas apabila kita mendengar lirik selanjutnya “ndhas pethak ditempiling”. Menggambarkan semangat para seniman yang waktu itu ingin sekali menempeleng kepala para pejabat Belanda yang kebanyakan berkepala botak.
Sifat Kerakyatan
Kesenian barongan merupakan kesenian khas Jawa Tengah. Namun, Kabupaten Blora yang bisa dikatakan paling eksis. Bayangkan saja, dari 295 desa di Kabupaten Blora, terdapat 625 paguyuban kesenian barongan. Artinya, setiap desa minimal memiliki dua grup kesenian barongan.
Apalagi, beberapa budaya tradisi mensyaratkan keterlibatan kesenian barongan di dalamnya. Tradisi lamporan—ritual tolak bala yang berasal dari Desa Kunden, misalnya, mengharuskan keterlibatan barongan. Bahkan, justru Singo Barong yang dianggap sebagai pengusir tolak bala.
Tak mengherankan bila kesenian barongan sangat populer dan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan di Kabupaten Blora. Mereka beranggapan bahwa barongan telah berhasil mewakili sifat-sifat kerakyatan mereka, seperti spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, tegas, kekompakan, dan keberanian yang didasarkan pada kebenaran.

Reog dan Warok – Legenda Jawa Timur yang Masih Tersisa


Seni pertunjukan sekaligus legenda yang masih tersisa dari Jawa Timur. Sempat diklaim sebagai warisan budaya Malaysia.
Masyarakat Indonesia sempat bereaksi keras ketika situs web Kementerian Kesenian dan Warisan Malaysia memuat gambar topeng dada merak–yang biasa ada dalam pertunjukan reog–dan menyebutnya sebagai warisan budaya Malaysia.  Dhadha topeng kepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak itu jelas-jelas terdapat tulisan “Malaysia”.
Ribuan seniman reog protes dan mendatangi Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta sebab reog selama ini dikenal sebagai kesenian asli Indonesia yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
Namun, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad Zain berkilah bahwa yang mereka klaim sebagai milik Malaysia bukan reog, melainkan tari barongan. Ia juga mengakui bahwa tari barongan–yang menurut mereka adalah bagian dari kisah Nabi Sulaiman pada saat harimau dan merak sedang berinteraksi–adalah tari rakyat Jawa yang dibawa merantau ke Malaysia dan sering dibawakan terutama di Batu Pahat, Johor, dan Selangor.
Tetap Bertahan
Reaksi keras masyarakat Indonesia tersebut memperlihatkan kepedulian kepada reog, sebagai salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur, khususnya Ponorogo. Di tengah lajunya zaman, ternyata kesenian reog tetap mampu bertahan dan diakui. Bukan hanya di daerah asalnya, melainkan juga berkembang sampai ke Sumatra, Kalimantan, tidak mengherankan bila sampai ke Malaysia dan Suriname.
Apabila pihak Malaysia mengatakan yang diakui sebagai milik Malaysia bukan reog, melainkan barongan, hal itu mengartikan, mereka tak paham bahwa barongan adalah bagian dari reog. Dhadha merak atau barongan merupakan topeng dengan panjang 2,25 m, lebar 2,30 meter, dan berat 50 kg. Orang biasa akan sulit melakukannya, apalagi dilakukan sambil menari-nari.

Gandrung Melawan Arus Zaman


WARISAN INDONESIA
Tari Gandrung yang energik dan sangat dinamis, dipercaya menggambarkan kultur asli orang Osing.
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), pada awal Juli 2011, meriah dengan pementasan Gandrung eng tay karya Dedy Luthan. Ini adalah persembahan kelima dari Dedy yang mengeksplorasi gandrung, setelah kadung Dadi Gandrung Wis (1990), Gandrung Salatun (1992), iki Buru Gandrung (1994), dan Gandrung Blambangan (1999).
“Tapi Gandrung Eng Tay merupakan tari gandrung pertama garapan saya yang tidak bercerita tentang penari gandrung, tetapi tentang kesetiaan perempuan yang diangkat dari kisah klasik China,” ungkap pimpinan Dedy Dance Company ini, yang kali ini menautkan kisah cinta Sam Pek Eng Tay dengan gerakan dinamis gandrung khas Banyuwangi.
Dedy, meski berdarah Minang, sejak lama tertarik pada kesenian gandrung. Pada 1989, ia masuk-keluar kampung di Banyuwangi memburu kesenian gandrung yang biasa dipentaskan di perhelatan pernikahan dan sejenisnya.
“Gandrung adalah misteri,” ujar Dedy, “kalau biasanya penari perempuan menjadi anggota kelompok, dalam gandrung menjadi penari sentral dan menari mengikuti rasanya, gamelan justru ditabuh mengikuti gandrung.”
“Pokoke Kepenak”
Gandrung adalah seni pertunjukan khas Banyuwangi, daerah ujung timur Pulau Jawa. Itu juga sebabnya, sejak tahun 2000, Banyuwangi ditetapkan sebagai Kota Gandrung.
Seniman-seniman tradisi Banyuwangi ini mempunyai prinsip pokoke kepenak. Misalnya dalam hal musik, apa saja yang didengarnya enak akan diadaptasi dengan rasa Banyuwangi. Angklung atau carug dan barong didapat dari kebiasaan orang Madura.
Menurut Dedy Luthan, alat musik gandrung yang asli sebenarnya hanya gendang, gong, kenong, biola, dan kloncing. Namun, perkembangan selanjutnya ditambah dengan saron, terbang, bedug. Ada juga yang menambah dengan angklung.
Sebagai daerah perlintasan dari Jawa ke Bali, budaya Banyuwangi, khususnya Osing, mendapat percampuran Bali, Jawa, dan Madura. Terlihat dari musik yang dinamis, seperti Bali, gerak tari yang ada kemiripan dengan tari Bali, tetapi di beberapa bagian lenggangnya mirip dengan tari Madura, dan kadang-kadang lembut mirip dengan tari Jawa.
Tari Gandrung—yang namanya diambil dari kata ‘gandrung’ (bahasa Jawa, artinya ‘cinta setengah mati atau tergila-gila’)—dianggap satu genre dengan tari ketuk tilu (Jawa Barat), tayub (Jawa Tengah dan Jawa Timur), lengger (Cilacap dan Banyumas), serta joged bumbung di Bali. Persamaannya, sang penari yang biasanya berpenampilan eksotik, menjadi sorotan utama dan melibatkan tamu pria untuk menari bersama.

Ubud Writers & Readers Festival – Nandurin Karang Awak


Warisan Indonesia/Putu Wijaya
Perhelatan Yayasan Saraswati yang sudah melahirkan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini semakin semarak, heboh, dan menarik. Kenduri yang berlangsung sejak 8 tahun ini dijuluki “Among The Top Six Best Literary Festivals in The World” oleh Harper Bazaar, United Kingdom. Apalagi, kali ini tema sentralnya bertajuk “Nandurin Karang Awak (Cultivate The Land Within)”, kalimat yang direnggut dari salah satu geguritan—syair yang dinyanyikan—karya pujangga dan pendeta besar Bali yang sangat dihormati: Ida Pedanda Made Sidemen.
“Dalam karyanya itu, Ida Pedanda Made Sidemen menitipkan pesan kepada kita,” tulis Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, di dalam buku acara, “agar mengisi hidup ini dengan menimba ilmu sebanyakbanyaknya dan selalu berpegang pada kebenaran. Beliau yakin, hanya dengan pengetahuan dan keluhuran budi, manusia akan dapat mengatasi segala tantangan hidup.”
Bupati Gianyar Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati menyatakan, tema besar itu mengandung nilai-nilai
kearifan lokal, tradisi, dan spiritualitas Bali. “Yang nantinya diharapkan menjadi inspirasi bagi para peserta festival dalam berkarya dan berdialog dengan mengedepankan dimensi kesederhanaan hidup, kekayaan batin, dan kemerdekaan jiwa.”
Sementara Tjokorda Raka Kertyasa, sebagai pembina festival, bertanya, apa yang kita tanam dalam diri kita? Jawabannya, “Tubuh ini adalah bumi, yang terdiri dari lapisan-lapisan, elemen-elemen Panca Maha Butha dan roh atau jiwa.”
Wayan Juniartha, koordinator program untuk Indonesia, menjelaskan lebih lanjut bahwa Nandurin Karang Awak (menanami tanah sendiri) ada dalam geguritan Salampah Laku, puisi panjang tradisional. Dalam geguritan itu disebutkan: “… idep beline mangkin, makinkin mayasa lacur, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin… (kehendak kakanda sekarang, mulai melakukan tapa kesederhanaan, tidak memiliki tanah sawah, maka tubuh diri-lah yang ditanami).”
“Mengolah diri sendiri sebagaimana mengolah sawah—menyebarkan benih kebajikan, memotong rumput-rumput keinginan, serta memanen dengan saksama agar hanya biji budi terbaik yang dihasilkan—merupakan konsep filosofis penting dalam tataran spiritual Bali,” kata Juniartha kepada Warisan Indonesia.

Ngertakeun Bumi Lamba – Harmoni Alam Lewat Sedekah Bumi


Ari Yordan Mendrofa
Masyarakat Sunda dari sejumlah wilayah berkumpul di Tangkuban Perahu. Mereka bersama mengharapkan Yang Kuasa menurunkan lagi kebaikan yang pernah diberikan kepada para leluhur.
Sangkuriang, ketika kecil diusir oleh ibunya, Nyi Dayang Sumbi, gara-gara menyembelih anjing kesayangan mereka yang sebenarnya adalah ayah Sangkuriang. Ketika dewasa, Sangkuriang berjumpa dengan Dayang Sumbi kembali dan saling jatuh cinta, tetapi belakangan Dayang Sumbi menyadari bahwa Sangkuriang adalah anaknya.
Cara menolaknya, ia meminta Sangkuriang membuat perahu dan membendung Sungai Citarum dalam semalam, tetapi dengan bantuan dewa, belum lagi perahu selesai sudah terdengar ayam berkokok. Sangkuriang marah dan menendang perahunya jauhjauh yang jatuh menangkup di bumi. Itulah yang menjadi Tangkuban Perahu.
Bukan itu saja yang menyebabkan gunung yang terletak di utara Bandung, Jawa Barat, itu dianggap sakral. Penyebab lain, konon Nyi Roro Kidul juga pernah berguru di gunung tersebut. Itu sebabnya masyarakat Sunda sampai sekarang terbiasa mengadakan ritual di kawasan yang sangat indah itu.
Di antaranya, upacara adat “Ngertakeun Bumi Lamba” yang dihelat pada akhir Juni 2011. Ngertakeun (dari kata dasar kerta berarti ‘menyejahterakan’); bumi lamba (alam jagat atau dunia sebagai alam kosmos). Ini untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, sejak 2009, diadakan di Gunung Tangkuban Perahu. Sebelumnya, pernah dilakukan, antara lain, di Gunung Pangrango (Cianjur) dan Gunung Wayang (Bandung).
Upacara adat tahunan ini, menurut Ketua Panitia Wawan Akil, sebetulnya sudah dikenal sejak Prabu Siliwangi memerintah di Kerajaan Padjadjaran, abad ke-14 hingga ke-15. Kalau sekarang dilaksanakan kembali, tujuannya untuk merevitalisasi peradaban yang telah ditinggalkan banyak orang.

Ngumbai Lawok – Mencuci Laut di Lampung


Christian Heru
Ngumbai Lawok (Mencuci Laut) adalah ritual tradisi masyarakat Lampung sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada penguasa laut sekaligus ajang silaturahmi antarwarga pesisir.
Meskipun gerimis rintik-rintik, warga Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, tetap bersukacita layaknya orang yang sedang menyiapkan pesta.
Pasalnya, hari itu, Kamis 20 Oktober 2011, selain ada peresmian balai desa, juga digelar Ngumbai Lawok. Inilah tradisi pesta laut yang selalu dinanti warga untuk mendapatkan berkah.
Upacara yang dianggap sebagai wujud rasa syukur ini diselenggarakan setahun sekali oleh warga Sungai Burung dan sekitarnya. Warga—yang sehari-hari menjadi nelayan itu—bergotong royong menyiapkan ritual Ngumbai Lawok berupa kepala kerbau dan kelengkapannya untuk dilarung ke laut. Sesudah ritual usai, warga bersilaturahmi dengan makan bersama sambil menikmati pentas hiburan.
Tradisi Ngumbai Lawok, selain sebagai wahana puja, juga merupakan jalan silaturahmi bagi masyarakat pesisir Lampung. Ada benang merah hubungan ke atas dan kepada sesama.

Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu – Mencari Kebenaran Melalui Alam

Warisan Indonesia/Hardy Mendrofa
Melatih kebaikan dan kesabaran tidak selalu mudah. Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu mengajarkannya melalui rangkaian ritual.
Komunitas adat yang bermukim di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ini menamakan diri Suku Dayak Hindu- Budha Bumi Segandu. Namun, tidak ada hubungannya dengan suku dalam artian etnis, tidak juga berkaitan dengan Suku Dayak di Kalimantan. Juga tidak ada hubungannya dengan agama Hindu dan Budha.
Ya, “Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu” bukan kalimat harfiah. Setiap katanya diambil dari kandungan makna dan filosofinya. “Suku Dayak Hindu-Budha”, terdiri atas kata “suku” (dalam bahasa Jawa, merupakan bahasa halus dari “sikil”) artinya “kaki”. Maknanya, setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya.
Lalu “dayak” diambil dari kata “diayak” yang artinya “disaring” agar setiap manusia dapat menyaring, mana yang salah dan mana yang benar. Adapun kata “hindu”, menurut Tetua Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Paheran Takmad Diningrat, artinya “kandungan” atau “rahim”. Makna filosofisnya bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang ibu (perempuan). Dan, kata “budha” diistilahkan “wuda” atau “telanjang”, mengingatkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang dan suci.
“Bumi Segandu Indramayu” pun punya makna tersendiri. “Bumi” bermakna “wujud”, sedangkan “segandu” bermakna “sekujur badan”. “Indramayu”, mengandung pengertian: “in” (‘inti’), ”darma” (orangtua), “ayu” (perempuan). Filosofinya, ibu (perempuan) merupakan sumber kehidupan karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.
Itu sebabnya masyarakat adat ini sangat menghormati kaum perempuan, yang tecermin dalam ajaran dan kehidupan mereka sehari-hari. “Buat saya, taat sama anak dan perempuan. Karena anak sama orangtua, yang benar anak, orangtua salah dulu. Orang sekarang ngakunya benar semua,” kata Paheran Takmad Diningrat. Maksudnya, sebagai orang yang lahir lebih dulu, maka orangtua justru yang punya kesalahan lebih banyak daripada anak.

Nyobeng dan Jejak Ritual Kaum Pengayau


Muhlis Suhaeri
Kalimantan sering dikaitkan dengan tradisi mengayau atau potong kepala. Tradisi itu sudah tak ada lagi, tetapi ritual persembahan untuk menghormati kepala hasil mengayau tetap berlangsung.
Mengayau di masyarakat Dayak, Kalimantan—yang konon simbol keperkasaan sekaligus menghindarkan warga dari penyakit—sudah dilarang sejak 1894, yakni sejak pertemuan akbar para tetua suku Dayak di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah. Namun, hasil kesepakatan itu tak sepenuhnya tersosialisasi.
Di Kalimantan Barat, misalnya, menurut Waliman (45), mantan Kepala Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Kalimantan Barat, daerahnya masih mengalami puncak budaya mengayau pada 1948-1950. “Mengayau di wilayah ini berakhir sejak misionaris masuk,” kata Waliman, yang merupakan salah satu warga dari subsuku Dayak Bidayuh.
Toh, tradisi yang berkaitan dengan mengayau tetap ada sampai sekarang. Pada pertengahan Juni yang lalu, misalnya, masyarakat Dayak yang tinggal di luar daerah pulang kampung. Sekolah setempat pun diliburkan selama dua hari.
Itulah jadwal penyelenggaraan nyobeng atau nibakng siwak setiap tahunnya di Dusun Sebujit Baru, Sebujit Iyang, dan Sebujit Lama yang berasal dari satu keturunan. Dulu, malah selain setiap Juni, juga diselenggarakan pada Maret dan April. Warga menyebut peristiwa tersebut dengan istilah gawai.
“Setiap gawai, kami selalu pulang, supaya bisa berkumpul dengan keluarga,” tutur Okren (30), pemuda di Sebujit, yang sudah sejak 1995 bekerja di Kuching, Sarawak, Malaysia. Padahal, dari perbatasan di Serikin ke Kuching jaraknya sekitar 50 kilometer. Dari Serikin ke Sebujit masih sekitar satu jam perjalanan dengan kondisi jalan tanah dan berlumpur kalau hujan.
Benedit Anak Kalong (39), anggota Polis Diraja Malaysia (PDRM), sejak enam tahun lalu selalu datang ke Sebujit setiap ada gawai. Meskipun dia dari subsuku Dayak Iban, istrinya orang Sebujit, anak ketua adat. Benedit naik motor bersama anak dan istri selama dua jam dari Kuching ke Sebujit. Katanya, ia mengikuti gawai tidak untuk bersenang-senang, tetapi untuk menyucikan jiwa dan raga.